Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 Agustus 2017 | 00.05 WIB

Ke Krayan, Kampung Halaman Adan, Beras Langka yang Diklaim Malaysia

BERAS “ENDEMIK” KRAYAN: Beras Adan dari Krayan memiliki tiga varietas, yaitu putih, merah, dan hitam. Di Malaysia, beras ini dijual mahal dan dilabeli made in Malaysia. - Image

BERAS “ENDEMIK” KRAYAN: Beras Adan dari Krayan memiliki tiga varietas, yaitu putih, merah, dan hitam. Di Malaysia, beras ini dijual mahal dan dilabeli made in Malaysia.


Karena tak ada pilihan lain tersebut, para tengkulak dari Malaysia jadi bisa mempermainkan harga. Para petani Krayan otomatis harus menurut dengan harga yang ditawarkan yang tak memberikan banyak keuntungan.


”Petani sulit untuk menahan beras mereka agar harga bisa lebih tinggi. Sebab, menjual beras itu berkaitan langsung dengan pemenuhan kebutuhan mereka,” kata Heru.


Beras Adan merupakan tanaman organik. Tak memakai pupuk kimia. Karena itu, dikenal sangat pulen dan wangi. Konon, beras yang memiliki tiga varian –merah, hitam, dan putih– itu sangat disukai keluarga Kesultanan Brunei Darussalam.


”Jika dibandingkan dengan harga beras biasa, beras Adan memang mahal. Namun, kualitas dan rasa dari beras ini tidak ada duanya. Ini telah diakui sejumlah negara,” kata Heru.


Sejak 2012, beras Adan sejatinya telah diakui sebagai hasil produksi Krayan. Melalui Sertifikat Indikasi Geografis Beras Adan Krayan dengan nomor ID G 000000013 dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).


Beras Adan dahulu ditanam di sawah dataran tinggi dengan cara menyebar benih secara acak. Kini pembenihannya dibuat persemaian.


”Benih padi direndam dulu sehari semalam, diangkat, didinginkan, lalu disemai kembali. Benih ditebar dan tumbuh. Setelah tumbuh, padi dipindahkan ke sawah yang sudah disiapkan,” kata Juliati, salah seorang petani.


Di Sarawak, beras Adan dikenal sebagai beras Bario. Sekalipun mungkin ada petani di Sarawak yang menanamnya, para petani Krayan yakin rasanya bakal berbeda dengan yang dihasilkan di Krayan.


Saat ini luas sawah di lima kecamatan di Krayan sekitar 3.466 hektare (ha). Petani menanam ketika musim hujan tiba. Umumnya pada Agustus hingga September. Jadi, hanya sekali dalam setahun.


Jika dihitung tiap panen, dengan luas 1 ha sawah, dapat dihasilkan 2 hingga 3,5 ton gabah. Dengan demikian, dengan luas total sawah sebesar itu, dalam setahun dapat diproduksi sekitar 8.665 ton gabah.


Setelah menjadi beras, jumlahnya menyusut jadi 4.700 ton. Dari jumlah tersebut, hampir 50 persen dikonsumsi masyarakat. Selebihnya dijual.


Problem lain yang mengancam beras Adan adalah menurunnya produksi. Sebab, pertanian di Krayan sangat bergantung kerbau. Padahal, dari tahun ke tahun, jumlah kerbau terus menurun. Sedangkan luas sawah semakin bertambah.


Juliati menuturkan, jumlah kerbau itu menurun karena tingginya biaya hidup. Jadi, hewan penopang pola tanam tersebut harus dijual. ”Untuk kebutuhan sehari-hari. Belum lagi kebutuhan anak yang sekolah,” bebernya.


Dia memberikan contoh, sebelumnya jumlah kerbau miliknya mencapai 15 ekor untuk menggarap sawahnya seluas belasan hektare. ”Sekarang hanya tersisa 9 hingga 10 ekor. Beberapa sudah dijual,” katanya.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore