Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 2 Agustus 2017 | 23.10 WIB

Mereka yang Berkutat Menyulap Kresek Jadi Campuran Aspal

LEBIH LENGKET: Deded P.  Sjamsudin (kiri) dan Nyoman Suaryana  di laboratorium untuk pengecekan kekuatan aspal plastik di Pusjatan, kota Bandung. - Image

LEBIH LENGKET: Deded P. Sjamsudin (kiri) dan Nyoman Suaryana di laboratorium untuk pengecekan kekuatan aspal plastik di Pusjatan, kota Bandung.


Cacahan plastik yang telah dibersihkan itu lalu diayak dengan ukuran 4 milimeter. Hasilnya dicampurkan pada agregat yang terdiri atas batu berukuran seukuran ibu jari atau lebih kecil. Selama 20 detik.


Agregat dipanaskan sebelumnya dengan suhu 170 derajat Celsius. Campuran tersebut masih dipanaskan dengan suhu 160 derajat Celsius dengan aspal selama 30 detik.


Menurut Nyoman, kresek dipilih karena bisa meleleh dalam suhu 170 derajat Celsius. Sedangkan bahan plastik lain, misalnya botol mineral, butuh suhu 200 derajat Celsius. Alasan lain, selama ini tas kresek jarang dimanfaatkan untuk daur ulang.


Campuran limbah plastik itu sebenarnya tidak terlalu banyak. Hanya sekitar 6 persen dari total kebutuhan aspal. Sedangkan persentase aspal untuk campuran hot mix itu sekitar 6 persen saja. Selebihnya adalah agregat dari batu-batu pecah. ”Enam persen plastik itu yang paling ideal karena bisa memperkuat aspal jadi makin lengket. Kalau 10 persen atau 15 persen malah tidak kuat,” ungkap Nyoman.


Sisa contoh tekstur campuran plastik aspal di laboratorium Pusjatan, seperti disaksikan Jawa Pos pada Senin lalu (31/7), memang terkesan agak lengket. Tapi tidak sampai seperti lem. Lengketnya sekilas mirip nasi panas yang dipencet.


Sedangkan dari warna, tidak terlalu berbeda dengan campuran bahan hot mix lainnya. Hitam legam aspal. Meskipun begitu, kekuatan hot mix diklaim bisa meningkat hingga 40 persen dibanding menggunakan campuran biasa.


Kebutuhan limbah plastik yang hanya 6 persen itu memang terkesan sedikit. Tapi, bila direalisasikan, cukup banyak. Sebagai contoh, untuk pengaspalan di Universitas Udayana sepanjang 700 meter dengan lebar sekitar 7 meter itu, dibutuhkan tak kurang dari 2,3 ton limbah plastik.


Pengepul sampah di Jalan Cigondewah, Bandung, tersebut butuh waktu hampir dua pekan untuk menyiapkan 3 ton limbah plastik pesanan Nyoman. ”Kami sewa dua truk besar untuk membawa limbah plastik itu dari Bandung ke Bali. Butuh dua hari,” ujar ayah dua anak tersebut.


Demi kepentingan konservasi lingkungan, besarnya serapan kebutuhan limbah plastik untuk campuran aspal itu jelas sangat positif. Sebab, sebagaimana diketahui, sampah plastik selama ini selalu jadi problem. Harus bisa didaur ulang karena tak bisa terurai di tanah.
Padahal, volume limbah sampah di Indonesia besar sekali. Terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Per tahun mencapai 3,2 juta metrik ton.


Penggunaan plastik untuk bahan campuran aspal itu sebenarnya sudah diinisiatori Pusjatan Balitbang Kementerian PUPR sejak lebih dari dua dekade silam. Pada 2004 sudah dimulai penelitian limbah plastik oleh Cicik Wasiah, salah seorang peneliti Pusjatan yang kini telah pensiun.


Selain plastik, terang Deded, Pusjatan meneliti limbah karet alam dan olahan, limbah slag besi baja, fly ice batu bara, dan tailing dari bijih besi. Mereka juga mengadakan riset untuk penggunaan bahan lokal dan sintetis.


Kendala penerapan limbah plastik untuk campuran aspal itu, sampah plastik kresek belum benar-benar dianggap sebagai masalah. Jadi, penanganannya masih parsial. ”Tapi, sekarang bisa jadi beda. Karena ada perhatian lebih juga dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman,” imbuh Deded.


Selain itu, keberadaan bank-bank sampah, terutama di kota-kota besar, turut membantu. Bank-bank sampah tersebut jadi salah satu pemasok tempat pencacahan sampah plastik kresek. ”Kalau soal penyediaan limbah plastiknya itu biar menjadi kewenangan instansi lain. Kami fokus ke riset dan uji cobanya,” tutur Deded.


Untuk uji coba di Bekasi, pelaksanaannya bakal lebih banyak diserahkan kepada kontraktor. Tim dari Pusjatan tetap akan mendampingi. Tapi tidak lagi seketat saat uji coba di Bali. ”Kami supervisi saja,” ucap dia.


Adapun untuk kerja sama dengan BPPT di Cilincing, itu dilakukan karena BPPT akan membuat alat pencacah limbah plastik. Selain itu, pencampuran bahan hanya akan menggunakan tong biasa untuk merebus aspal. ”Itu sekaligus pilot project untuk melibatkan masyarakat,” ujarnya.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore