Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 30 Juli 2017 | 14.30 WIB

Mengunjungi Kampung Suku Masai, Suku Tradisional Afrika di Kenya (1)

AKRAB: Wartawan Jawa Pos Tomy C. Gutomo (empat dari kiri) bersama Suku Masai. - Image

AKRAB: Wartawan Jawa Pos Tomy C. Gutomo (empat dari kiri) bersama Suku Masai.

Suku Masai di Kenya sangat dikenal karena masih mempertahankan pola hidup tradisional. Untuk mengetes kedewasaan, pria suku tersebut yang sudah menginjak usia 15 tahun harus berkelana ke hutan dulu.


TOMY C. GUTOMO, Narok


DI sela bersafari ke Masai Mara, saya menyempatkan diri mengunjungi perkampungan suku Masai yang memang banyak tersebar di sekitar taman nasional yang berbatasan langsung dengan Tanzania itu. Nama Masai Mara juga merupakan penghargaan kepada suku tersebut.


Jumlah orang Masai –kadang-kadang ditulis Maasai– di Kenya dan Tanzania diperkirakan 900 ribu jiwa. Mereka hidup terpisah-pisah secara berkelompok dan nomaden alias tidak menetap. Layaknya suku Bajo yang tinggal berpindah-pindah di pesisir pantai dan tersebar di sejumlah wilayah.


Orang Masai paling senang mendirikan perkampungan di kawasan pegunungan. Ada yang tinggal di sekitar pantai, tetapi hanya untuk mencari nafkah dengan berjualan cenderamata kepada turis. Setahun sekali mereka pulang ke kampung kelompok mereka untuk mengantarkan uang dan kebutuhan sehari-hari.


Saya mengunjungi salah satu kampung suku Masai di Oloolaimutia. Jaraknya sekitar 800 meter dari Enchoro Wildlife Camp, tempat saya menginap. Menuju kampung itu, saya diantar seorang Masai yang saya temui di kamp dengan berjalan kaki. Siang itu, suhu di Oloolaimutia 20 derajat Celsius. Lumayan dingin untuk orang Indonesia. ’’Welcome to Masai Village,’’ kata Salao Olex, salah seorang Masai, menyambut saya dan beberapa turis.


Dia mengenakan kanga, pakaian khas Masai. Baju terusan motif sarung kotak-kotak tanpa lengan. Lengkap dengan aksesori kalung dan gelang. Plus sandal dari ban bekas.


Sepertinya, mereka telah terbiasa menerima turis. Cara mereka menyambut cukup rapi. Saya diminta memberikan donasi sebelum masuk ke kampung mereka. Saat itu saya memberi Kenyan Shilling (KSH) 5.000 atau sekitar Rp 650 ribu. Lumayan besar. Dengan harapan, saya bisa berlama-lama dan mereka mau lebih terbuka.


Kemudian, Salao memperkenalkan saya kepada Sasine Ole Rinka. Pria 28 tahun itu adalah anak Timanto Ole Rinka, Ole Guanani atau kepala suku di Oloolaimutia. Dia anak tertua dari enam bersaudara. Jadi, Sasine merupakan kandidat pengganti Timanto kelak.


Sasine mengajak saya duduk di atas bangku kayu. Lalu, dia memberi kode kepada sekelompok pria Masai. Dalam hitungan detik, 15 pria tegap menari dengan iringan musik akapela. Ada yang suaranya melengking, ada yang menjadi bas, dan ada yang hanya berdecit. ’’Ini tarian selamat datang. Mereka semua prajurit Masai,’’ kata Sasine.


Saya pun diajak menari. Seorang Masai memasangkan olchity, kain merah bermotif kotak-kotak, menutupi bagian depan tubuh saya. Kami menari, berputar, sesekali melompat. Seru sekali. Seorang Masai juga mengizinkan saya mengenakan topi yang terbuat dari kulit dan bulu kepala singa. ’’Ini berasal dari singa yang kami bunuh empat tahun lalu,’’ kata prajurit tersebut.


Sasine mengatakan, pria Masai yang sudah berusia 15 tahun akan berkelana ke hutan. Tapi, tidak sendiri. Mereka pergi secara berkelompok, biasanya 7–12 orang. Tujuannya agar mereka belajar survival. Makan dan minum dari apa yang ada di hutan.


Biasanya selama dua minggu hingga sebulan. Mereka baru boleh pulang ketika berhasil membunuh singa jantan. Kepala singa itu dibawa pulang sebagai barang bukti. Pertempuran melawan singa tersebut dilakukan menggunakan pisau belati dan tombak. ’’Setelah berhasil membunuh singa, mereka diresmikan sebagai prajurit Masai,’’ kata Sasine.


Kalau gagal, berarti mereka tidak layak menjadi prajurit Masai. Tetapi, mereka boleh mencoba lagi di kemudian hari. Apakah tidak merusak populasi singa? ’’Tidak. Kami hanya membunuh singa jantan. Kami melarang keras mereka membunuh singa betina atau binatang buas lain. Apalagi bila singa betina itu sedang hamil,’’ katanya. Sasine sendiri baru menjadi prajurit Masai saat berusia 17 tahun.


Menurut Sasine, singa jantan adalah raja hutan. Dengan membunuh singa jantan, berarti mereka telah berhasil menaklukkan hutan. Artinya, mereka bisa hidup dari hutan itu. Orang Masai, kata Sasine, sangat peduli pada kelestarian hutan dan habitatnya. Sebab, mereka mengandalkan hidup dari hutan tersebut.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore