Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 Juli 2017 | 05.00 WIB

Selangkangan Tak Kuat di Selat Bali

MELAJU MULUS: Dari kiri, Tabita Margaretha, Agatha Padita, Anastasia Kirana, Charista Ahmad Zikri, dan Rama van Kempen di Pantai Lovina. - Image

MELAJU MULUS: Dari kiri, Tabita Margaretha, Agatha Padita, Anastasia Kirana, Charista Ahmad Zikri, dan Rama van Kempen di Pantai Lovina.



Tidak hanya itu, formasi tersebut juga dibentuk Armand untuk mencegah Rama, anaknya, memilih Rista sebagai pasangannya. Hal tersebut sudah pasti terjadi karena mereka berdua adalah teman sejak kecil. Padahal, tidak ada satu pun di antara mereka yang andal dalam mengoperasikan GPS. ”Rama tidak boleh sama Rista. Kalian nggak ada yang bisa pakai GPS,” tegas ayah tiga anak tersebut.



Ombak masih terlihat tenang pada Senin (19/6) pagi. Ombak tidak setinggi ketika perjalanan menyusuri Pulau Bali bagian utara setelahnya.



Setelah dua setengah jam berjalan, rombongan beristirahat. Itu strategi Armand karena Rama dan Rista terbilang masih muda. Perlu istirahat sebelum mengarungi selat yang memisahkan Jawa–Bali. ”Sekalian juga buat isi bensin. Jeriken yang sudah kosong juga harus diisi dengan yang baru lagi,” terang pria yang sejak umur 19 tahun bergelut di dunia olahraga ekstrem itu.



Nah, saat istirahat itulah, Rama turun. Saya, Rama, dan Rista akhirnya harus melalui jalan darat. Kami menyeberang ke Bali dengan naik kapal feri.



Di atas kapal, ombak terasa berputar-putar. Debur ombak memang menjadi latar belakang perjalanan kami kala itu. Angin cukup kencang. Apalagi, saat itu, kami berada di dek paling atas.



”Coba lihat yang ada di ujung sana. Ada ombak putih yang tinggi itu. Nah, itu ombak yang kami hadapi tadi,” celetuk Rista menceritakan pengalamannya.



Benar saja, di perbatasan lautan, terlihat ombak bergulung-gulung tinggi. Lautan yang awalnya berwarna biru mendadak berubah putih dari kejauhan.



Ketika berada di kapal, saya tidak merasakan sedikit pun ketakutan. Apa pun yang terjadi, kapal ini tidak akan goyah hanya karena ombak setinggi 2 atau 3 meter. Tapi, bagaimana kalau jet ski? Hiii... Merinding saya membayangkan itu.



***



Matahari mulai lelah untuk menyinari hari di bagian utara Pulau Bali. Diterangi sinar rembulan, kami menikmati malam di sebuah rumah makan yang sepi. Ditemani cahaya lilin, Armand, Reno, dan Agung, yang mengikuti jalur laut, menceritakan satu per satu pengalaman yang mereka rasakan. Benar saja, perjalanan itu tidak berjalan mulus begitu saja.



Di awal perjalanan, mereka disuguhi ombak yang cukup tinggi. Dua hingga 3 meter ombak telah mereka terjang. Namun, cerita mulai berbeda ketika Armand dan rombongannya memasuki lautan bebas.



Pertemuan arus di selat Bali tersebut menimbulkan ombak. Terlebih, angin cukup kencang. Saat ombak itu usai, terciptalah alun atau gelombang kecil yang membuat perjalanan terasa naik-turun tak berkesudahan



Pada saat itulah, ketangguhan rombongan Armand mulai dicoba. Karena terkadang alun bisa membuai para penunggang ombak. Sebab, mereka tidak perlu melakukan banyak usaha untuk menggerakkan kapalnya. Mereka cukup mengandalkan alunan ombak. ”Wah, tapi kalau ngikutin alun terus, bisa semakin jauh dari tujuan,” imbuh pria yang tinggal di kawasan Gayungsari tersebut.



Dan itu terjadi. Karena terbuai alun, Reno hampir terpisah dari rombongan. ”Habis enak sih ngikutin arus. Cipratannya sedikit,” celetuk Reno yang diikuti oleh gelak tawa.



”Wah, kalau mengikuti ombak, bisa sampai di Australia kita,” seloroh Armand, pria yang memiliki usaha di bidang pengangkutan kapal.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore