Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 30 Juni 2017 | 13.10 WIB

Sisi Lain Terciptanya Aplikasi Ayo Mudik, Kerja Bakti Selama 27 Hari

TEROBOSAN: Julia Hapsari (kanan) dan Agung Putra Pradana menunjukkan aplikasi Ayo Mudik saat dijumpai di kantor Kudo pekan lalu. - Image

TEROBOSAN: Julia Hapsari (kanan) dan Agung Putra Pradana menunjukkan aplikasi Ayo Mudik saat dijumpai di kantor Kudo pekan lalu.


Tahun ini arus mudik Lebaran terpantau lebih lancar daripada tahun lalu. Selain infrastruktur jalan tol yang mengular lebih panjang, puluhan ribu pemudik juga terbantu aplikasi Ayo Mudik yang dibuat anak-anak muda Indonesia. Saat arus balik, akses aplikasi itu kembali meninggi.





SEKARING RATRI ADANINGGAR, Jakarta





”Keren, semua info utk persiapan mudik ada dlm 1 app. Tampilannya juga bagus, sangat user friendly”, ”Jalur selain Jawa mana? Harusnya nama app nya Ayo Mudik Jawa!”, ”Mudah2ah aplikasi ini ga cuma buat mudik saja tapi bisa seterusnya dipakai”.



Itulah beberapa komentar yang ditulis pengguna aplikasi Ayo Mudik di kolom review Play Store. Selama ini aplikasi yang bisa menjadi panduan bagi pemudik memang sudah banyak diciptakan, tapi sebatas informasi parsial seperti jalur mudik, lokasi ATM, lokasi SPBU, dan lainnya. Belum ada yang mengumpulkan semua informasi ke dalam satu aplikasi seperti yang ada dalam Ayo Mudik hasil kreasi perusahaan start-up Kudo.



Brand and Communication Lead PT Kudo Teknologi Indonesia (Kudo) Julia Hapsari mengisahkan, lahirnya Ayo Mudik berawal dari pertemuan dengan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara dalam sebuah acara di Jakarta. ”Saat itu Pak Rudiantara minta kami bantu bikin aplikasi yang memuat semua informasi untuk memudahkan pemudik,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos di kantor Kudo pekan lalu.



Menariknya, meski dipesan perwakilan pemerintah, tim Kudo yang diisi anak-anak muda itu tidak mendapat bayaran sama sekali saat mengerjakan aplikasi Ayo Mudik. Semua dikerjakan secara pro bono atau gratis alias kerja bakti. ”Kami juga berkomitmen bahwa aplikasi ini bersih dari iklan. Jadi, benar-benar tidak berorientasi profit,” imbuh Julia.



Pertemuan dengan Menkominfo itu langsung ditindaklanjuti dengan pertemuan tim Kudo dengan tim Kemenkominfo pada 18 Mei 2017. Saat itulah mulai dirancang gambaran besar tentang isi aplikasi Ayo Mudik.



Kesepakatannya, tim Kudo menyiapkan aplikasi dan Kemenkominfo membukakan akses pada data sejumlah kementerian dan instansi pemerintah yang terkait dengan operasi mudik Lebaran. Misalnya, Kementerian Perhubungan; Kementerian Kesehatan; Korlantas Mabes Polri; Pertamina; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG); serta PT Jasa Marga. Tak ketinggalan pula Google untuk fasilitas Google Maps.



Waktu yang mepet membuat Kudo bergerak cepat. Tim pun dibentuk dengan melibatkan 20 personel yang dipimpin seorang project lead. Pada pekan pertama, tim mulai mematangkan jenis informasi yang akan dimasukkan aplikasi. Pekan kedua dan ketiga barulah masuk proses coding atau pengodean. Kemudian, pekan keempat masuk tahap finalisasi.



Total, aplikasi Ayo Mudik dikebut pengerjaannya dalam waktu 27 hari sebelum akhirnya di-launching pada 15 Juni 2017. Semua yang terlibat dalam pengembangan aplikasi Ayo Mudik di tim Kudo adalah orang Indonesia yang masih berusia muda. ”Jadi, benar-benar made in Indonesia,” jelas Julia.



Agung Putra Pradana yang menjadi project lead Ayo Mudik pun masih berusia 24 tahun. Saat diwawancarai, dia mengakui tantangan terbesarnya adalah harus berkejaran dengan waktu untuk menyelesaikan aplikasi sebelum musim mudik dimulai. ”Kami hitung memang harus selesai kurang dari sebulan,” ujarnya.



Menurut Agung, karena aplikasi Ayo Mudik akan di-launching bersama dengan pemerintah, diupayakan semaksimalnya platform harus stabil saat diakses dan akurasi data harus tinggi. ”Sehingga bisa benar-benar membantu pemudik kapan pun dan di mana pun,” katanya.



Karena itulah, 20 orang dalam tim Ayo Mudik harus merelakan waktu akhir pekan di bulan puasa untuk tetap bekerja menggarap aplikasi. Tim itu terbagi dalam tim user interface,  user experience, application programming interface (API),  content management,  back end,  quality assurance, dan dev ops.



Setiap tim memiliki tugas tersendiri untuk memastikan aplikasi tersebut bisa digunakan sesuai perencanaan. Misalnya, tim user interface, user experience, dan API menangani data. Lalu, tim content management bertugas meng-upload data dari kementerian dan instansi lain ke dalam aplikasi. ”Ada juga tim back end yang bertugas mengolah data dan tim quality assurance memastikan segala sesuatu sesuai yang direncanakan,” jelas Agung.



Kemudian, lanjut dia, tim dev ops bertugas memastikan kapasitas aplikasi bisa digunakan user dalam jumlah tertentu.  Sejauh ini, tim tersebut telah melakukan tes terhadap aplikasi Ayo Mudik dan aplikasi tersebut masih bisa berfungsi dengan baik ketika diakses 50 ribu user atau pengguna dalam waktu bersamaan.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore