Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Juni 2017 | 04.39 WIB

Suara Khas Gitar Lusi, Saksi Bisu Musibah Lumpur Sidoarjo

BARANG LANGKA: Hengki Listria Adi menunjukkan gitar yang semua bahannya dari barang milik korban lumpur di Kantor PPLS, Porong. - Image

BARANG LANGKA: Hengki Listria Adi menunjukkan gitar yang semua bahannya dari barang milik korban lumpur di Kantor PPLS, Porong.


Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) membangun museum geologi. Apa yang ada dalam museum itu? Tentu informasi serta beragam koleksi peninggalan korban lumpur. Satu di antaranya gitar Lusi.





ARISKI PRASETYO HADI





KANTOR PPLS di Porong terlihat cukup sibuk pada Jumat (26/5). Sepuluh pegawai memelototi layar komputer. Tampaknya, mereka tengah mempersiapkan laporan. Nah, di ruangan itu tergantung sebuah gitar akustik. Sekilas, gitar tersebut biasa. Tidak ada bedanya dengan gitar pada umumnya. Namun, gitar itu dipastikan tidak ada di pasaran. ’’Merek gitar ini Lusi,’’ ucap Humas PPLS Hengki Listria Adi.



Hengki lantas mengambil dan memetik senar gitar itu. Sebuah lagu yang dipopulerkan grup band Armada berjudul Asal Kau Bahagia mengalun dari mulut Hengki dengan disertai petikan gitar Lusi. Bunyinya nyaring dan jernih. ’’Ini gitar asli buatan PPLS,’’ ujarnya.



Betulkah? Rasa penasaran itu pun terjawab saat Hengki mengajak masuk ke bagian belakang kantor PPLS. Tepatnya di sebuah ruangan berukuran 4 x 5 meter. Ruangan itu penuh balok-balok kayu dan tripleks. Ternyata, ruangan itu merupakan bengkel yang dikelola PPLS. Di atas meja tergeletak meteran, pensil, gergaji, serta alat serutan kayu. ’’Di tempat inilah kami membuat gitar Lusi,’’ ucapnya.



Pria asal Semarang itu bercerita, awalnya pegawai PPLS tidak berpikir untuk membuat sebuah gitar. Selama ini kayu-kayu yang didapat hanya dibuat untuk rambu petunjuk di tanggul serta meja dan kursi. ’’Tidak kepikiran untuk buat gitar,’’ katanya.



Sekitar 2010 banyak warga yang berkunjung ke tanggul. Mereka naik perahu. Setelah sampai di tengah, warga ramai-ramai menyelam ke dalam tanggul. Tujuannya, membawa sisa-sisa barang milik warga yang tenggelam, tetapi masih bisa digunakan.



Saat itu Hengki bertemu dengan Imam Syafii. Warga asal Siring Timur tersebut tampak membawa puluhan balok kayu. Jenisnya kayu jati. Kayu-kayu tersebut berasal dari atap, jendela, serta kusen rumahnya yang terendam air. Dalam perbincangan, Imam menyampaikan bahwa kayu-kayu itu akan dipakai untuk membangun rumahnya yang baru. Karena jumlahnya terlalu banyak, Imam sulit membawanya. ’’Nah, saya dikasih sebalok kayu jati,’’ tuturnya.



Alumnus Universitas Merdeka Surabaya itu lantas membawa kayu tersebut ke kantor PPLS. Dia bingung memanfaatkan kayu jati itu. Beragam usulan pun disampaikan. Ada yang meminta dibuat meja dan kursi. Ada juga yang minta dibuat meja catur. ’’Barang-barang itu semua sudah ada,’’ paparnya.



Baru di awal 2015 ada seorang pegawai yang berniat memanfaatkan kayu jati tersebut. Pegawai itu adalalah Riko Adityo. Sehari-hari dia bertugas di bidang pemantauan Geo Hazard. Dia menawarkan pembuatan sebuah gitar klasik. ’’Kalau untuk meja dan kursi sudah biasa, kalau dibikin gitar ini baru luar biasa,’’ ucap Hengki.



Riko dan Hengki lantas berburu bahan yang lain. Sebab, beberapa komponen gitar tentu tidak mungkin dibuat dari kayu jati. Eh, saat berjalan di areal tanggul, sebuah warung mi ayam sedang dibongkar. Oleh pemiliknya, Hengki diberi sebuah kayu mahoni bekas meja. Setelah bahan terkumpul, giliran Riko yang menyiapkan informasi cara membuat gitar. Maklum, keduanya belum pernah membuat alat musik petik itu. ’’Kami hanya penikmat musik,’’ ungkapnya.



Sepulang kerja, keduanya memilih tinggal di kantor. Mereka berselancar di internet untuk mencari cara membuat gitar. Mereka juga menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan. Lokasi pembuatan disepakati di belakang kantor PPLS. Singkat cerita, pekerjaan pun dimulai. Pekerjaan relatif berjalan lancar. Namun, mereka kadang menemui kendala kecil. Misalnya, saat membuat lengkungan.



Selang tiga bulan, gitar itu pun rampung. Diberi merek Lusi sebagai penanda asal muasal gitar tersebut. Hengki mengatakan, gitar itu akan ditempatkan di museum geologi. Bapak dua anak tersebut menuturkan, gitar tersebut 100 persen dibuat dari bahan peninggalan lumpur. ’’Ini akan jadi salah satu saksi hidup Lusi,’’ jelasnya.



Setelah membuat gitar Lusi, Riko pun semakin mahir membuat gitar. Sejauh ini mereka sudah membuat empat gitar. Gitar Lusi tidak akan dijual. Alat musik dawai tersebut akan dipajang di museum selamanya. ’’Tidak kami jual karena tidak ternilai harganya,’’ jelasnya. (*/c15/hud)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore