
JADI DUIT: Giovanni Alif menunjukkan ikan cupang koleksinya. Hobi yang ditekuni itu telah membawanya menjadi salah seorang eksporter ikan cupang.
Hobi bisa jadi sumber pundi-pundi bagi yang menjalani secara tekun. Giovanni Alif Dyer Wahjudy sudah menunjukkannya. Kecintaan pada ikan cupang membawanya menjadi jawara cupang hingga ke luar negeri.
GALIH ADI PRASETYO
TANPA bosan. Itulah yang ditunjukkan pria lulusan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga ini. Dia mantap memilih ikan cupang sebagai hobi sekaligus sumber pundi-pundinya.
Bahkan, hobinya itu telah membawa Giovanni Alif Dyer Wahjudy langganan juara kompetisi ikan cupang. Baik di kancah regional maupun nasional. Pasar ekspor pun kini tengah dijajaki pria berkacamata tersebut. ”Ikan cupang itu enggak ada matinya. Perputaran uangnya juga cepat,” terang Giovanni.
Sejak kecil Giovanni menyukai ikan mungil dengan ekor rumbai tersebut. Eksotika ikan cupang selalu membuat Giovanni kesengsem. Tidak pernah bosan. ”Bahkan, dulu rumah sampai penuh sama ikan cupang,” kenangnya.
Kecintaan Giovanni bertahan hingga memasuki bangku SMP. Di sanalah Giovanni mulai mencoba untuk mengembangbiakkan ikan cupang miliknya. ”Nyoba ternak berhasil. Awal dulu cuma berhasil hidup 40–50 ekor,” ujar pria kelahiran Surabaya itu.
Waktu itu, sama sekali tidak ada pikiran untuk menjadikan hobi tersebut sebagai ladang bisnis. Semua dijalani atas dasar kegemaran pada ikan mungil itu. Hingga akhirnya ada tengkulak yang datang untuk membeli cupang hasil budi dayanya. ”Padahal, awal orientasinya cuma dipakai sendiri. Meski cuma sedikit, tetap ada yang beli waktu itu,” ucapnya.
Hal itu membuat Giovanni mulai berani untuk terus mengembangkan cupang. Pesanan pun semakin banyak. ”Akhirnya, kerja sama budi daya sama paman,” imbuhnya.
Saat ini budi daya ikan cupang diserahkan kepada pamannya. Selain pertimbangan lokasi, Giovanni mempertimbangkan kualitas air yang digunakan. ”Ikan cupang untuk hias, misalnya, enggak bisa pakai air sumur. Kalau di rumah, saya pakai air galon. Minimal galon isi ulang,” ujarnya.
Budi daya ikan cupang itu sekarang berada di Medan. Selain pasokan air bersih lancar, sang paman bisa turun langsung. ”Sekarang ngirim dari Medan. Biasanya, per bulan minimal seribu sampai 2 ribu ekor,” terangnya.
Di Surabaya Giovanni tinggal menyortir ikan. Cara kerjanya pun lebih efektif. ”Bisa fokus nyortir dan ngejual,” ujarnya.
Ikan hasil kiriman tersebut memiliki berbagai kualitas. Di situlah Giovanni berperan sebagai penyortir. Dia mengklasifikasi jenis ikan, apakah ikan hias atau aduan. Termasuk memilih untuk ekspor yang harus memenuhi kualifikasi tersendiri. Oleh karena itu, Giovanni tidak bisa serta-merta mengekspor ikan yang kualitasnya biasa-biasa saja. ”Minimal yang diekspor itu sudah pasti masuk nominasi kalau dilombakan,” terangnya.
Dengan begitu, dia mampu menjaga kualitas dan kepercayaan konsumennya di luar negeri. ”Kalau ada yang kualitas super, langsung saya e-mail gambarnya dan kirim ke sana. Saat ini saya ekspor ke Amerika,” ungkap Giovanni.
Pengiriman dilakukan dengan membungkus ikan dalam kantong plastik dan ditambahkan oksigen. Setelah itu, ikan ditaruh dalam boks styrofoam dan dikirim. Ikan akan melalui proses karantina. Hingga sampai Amerika mungkin dibutuhkan waktu tujuh hari. ”Dan ikan itu tidak dibuka atau diberi makan sama sekali. Ikan cupang itu kuat,” terangnya.
Menurut dia, kualitas ikan cupang Indonesia sangat bagus bagi pasar luar negeri. Di Amerika, terutama di Miami dan California, ikan cupang miliknya sangat disukai. ”Di sana dipakai untuk kontes ikan cupang juga,” ucapnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
