Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 2 Juni 2017 | 02.05 WIB

Arifin Tularkan Ilmu Menggambar Kepada Anak Pinggiran dan Difabel

MEJENG: Aris Arifin (tengah) bersama anggota sanggar LAB setelah berdiskusi agenda Ramadan. - Image

MEJENG: Aris Arifin (tengah) bersama anggota sanggar LAB setelah berdiskusi agenda Ramadan.


Pak Pin Arifin mendirikan sanggar LAB (Line Art Bojonegoro) di teras rumahnya atas dasar keinginan membagikan ilmu menggambarnya. Pria asal Bojonegoro itu berfokus menularkan ilmunya kepada anak-anak SD yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan dan anak-anak difabel. .





BHAGAS DANI PURWOKO, Bojonegoro





MEMASUKI kawasan Kalitidu, Bojonegoro kala pagi, tentu disambut ramainya pasar dan pedagang toko yang berjejer. Suara kendaraan yang bersahut-sahutan tak terelakkan. Debu dan asap bergulat di jalanan. Lalu, tak jauh dari hiruk pikuk pusat kawasan Kalitidu, ada sebuah sanggar yang dipenuhi para pemuda dari pinggiran, tapi progresif dalam dunia menggambar.



Tepat pukul 10.00 pada Sabtu (27/5), di sebuah sanggar berukuran 5 x 5 meter dengan banyak pajangan lukisan, berkumpul sekitar sembilan anak dan seorang pria dewasa yang memberikan pengarahan. Pria dewasa tersebut merupakan pendiri sanggar yang diberi nama LAB, kependekan dari Line Art Bojonegoro. Dia bernama Aris Arifin. Pria asal Desa/Kecamatan Kalitidu itu merupakan alumnus Sekolah Menengah Seni Rupa Surabaya 1994.



Setelah menamatkan studinya, Pak Pin –panggilan akrab Aris Arifin– memiliki hasrat mulia untuk berbagi ilmu menggambarnya kepada anak-anak kecil, khususnya pelajar SD, sejak 1994. Saat itu dia belum mendirikan sanggar. Dia selalu pergi ke desa-desa bagian barat Bojonegoro.



Pak Pin melakukan pendekatan dengan bermain bersama-sama dulu, lalu membawa peralatan menggambar. ’’Saya biasanya menggambar dulu di tengah kerumunan anak-anak yang bermain kala sore. Lalu, mereka tertarik untuk menggambar,’’ ujar pria kelahiran 6 Desember 1971 tersebut.



Semangat itu terus dia bawa hingga sekarang. Rumahnya kerap menjadi jujukan anak-anak kecil yang ingin belajar menggambar. Biasanya, anak-anak tersebut membawa hasil karyanya kepada Pak Pin, lalu meminta komentar dan saran darinya.



’’Setiap anak sebenarnya mampu menggambar, tinggal menumbuhkan percaya diri agar berani menggambar,’’ katanya.



Selain itu, Pak Pin tidak pernah menyalahkan sebuah gambar. Sebab, tidak ada yang salah dengan proses menggambar. Semua gambar memiliki nilai seni masing-masing.



Selanjutnya, sejak era milenia datang dan teknologi makin pesat, Pak Pin mulai mencari bakat-bakat seni anak-anak melalui Facebook. Dia kerap membuka perbincangan lebih dulu lewat Facebook,lalu mendatangi satu per satu anak tersebut di rumahnya. Dengan begitu, Pak Pin mampu menumbuhkan rasa keterikatan dengan anak itu. ’’Saya pergi ke rumahnya satu per satu. Ada yang dari Malo, Cepu, Gayam, Jatirogo, Soko, Lamongan, dan banyak lagi,’’ ujarnya.



Dari situlah, Pak Pin mulai perlu mendirikan sebuah sanggar untuk wadah anak-anak berbakat tersebut berkarya. ’’Saya mulai mendirikan sanggar LAB pada 26 Desember 2016,’’ tuturnya.



Apabila dihitung sejak awal berdiri, ada lebih dari 50 anggota sanggar LAB. Namun, kini hanya ada 20 anggota yang aktif menyelenggarakan kegiatan. Anggota itu didominasi pelajar yang mayoritas berdomisili di pinggiran Kabupaten Bojonegoro.



Cara untuk menjadi anggota sanggar cukup mudah, yakni hanya mendaftar dan sanggup membayar kas minimal 15 ribu per bulan. Lalu, dalam setahun, setiap anggota wajib menyetor dua hasil karya yang bisa dipertanggungjawabkan. ’’Dalam setahun, anggota wajib kirim dua karya, lalu dipresentasikan kepada anggota lainnya dan didiskusikan untuk memberikan kritik saran,’’ ujar ayah dua anak tersebut.



Uniknya, anggota-anggota lama yang pernah belajar bersama di sanggar LAB tetap bersemangat mengirimkan karya-karyanya dan membayar kas.Menurut Pak Pin, para anggota sanggar LAB sudah seperti keluarga. Setiap anggota memiliki keterikatan masing-masing.



Mereka saling bertukar pikiran dan belajar bersama. Peran Pak Pin adalah mengapresiasi setiap karya anak-anak didiknya. ’’Saya biasanya bertugas mengapresiasi karya dan menyempatkan untuk main ke rumahnya. Sebab, kerap kali anggota lama sudah memiliki kesibukan sendiri,’’ ujarnya.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore