
Beginilah kondisi Makam Massal Jumat Kelabu 23 Mei 1997, kemarin. Sebagian tanahnya terlihat digenangi air, tak ada satu peziarah pun yang datang.
JawaPos.com - Makam Massal Jumat Kelabu 23 Mei 1997 mulai dilupakan. Kuburan ratusan mayat tanpa identitas, korban kerusuhan di Banjarmasin 20 tahun silam tersebut kini sepi. Peziarah yang datang setiap tahunnya pun dapat dihitung dengan jari.
SUTRISNO, Liang Anggang
Kondisi makam yang terletak di Tempat Pemakaman Umum (TPU) milik Pemko Banjarmasin, di Gang PDI Jalan A Yani Km 22 Landasan Ulin, Banjarbaru itu Senin (22/5) kemarin cukup memprihatinkan. Tanahnya terlihat becek, karena genangan air menutupi sebagian tanah makam.
Patok dari kayu sebagai tanda makam yang berdiri tepat di sisi makam setinggi 60 sentimeter, bertuliskan "Makam Masal Jumat Kelabu 23 Mei 1997" juga mulai kusam. Semakin mempertegas bahwa kuburan itu benar-benar dilupakan.
Kesan tak terurus juga terlihat jelas. Lantaran patok-patok untuk nisan kuburan yang dulunya banyak, sekarang sudah banyak yang hilang. Hanya tersisa dua sampai tiga patok yang masih berdiri di atas kuburan massal berukuran sekitar 26x4 meter tersebut.
Salah seorang penjaga makam Fajri mengungkapkan, tempat pemakaman massal sekarang memang jarang didatangi oleh peziarah. "Walaupun besok (hari ini) tanggal 23 Mei, makam itu pasti tidak ada yang mendatangi," ungkapnya kepada Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group), kemarin.
Dia menuturkan, sekarang hanya tersisa tiga makam yang masih diziarahi orang. Itupun hanya satu tahun sekali. "Yang masih diziarahi, hanya tiga makam yang ada keramiknya itu," ujarnya sambil menunjuk ke arah makam.
Dulu ketika masih banyak dikunjungi orang. Makam tersebut terlihat terurus dan selalu bersih. Namun saat ini makam itu sudah terbengkalai, karena hanya penjaga TPU yang mengurusnya. "Kami yang mengurusnya, walaupun tidak ada yang membayar," ujarnya.
Sementara itu, Ahmad penjaga makam lainnya menambahkan, kondisi makam sekarang sering tergenang air. Lantaran air pasang dan hujan. “Makanya saya buat parit di sekeliling makam agar air tidak menumpuk dan mengalir, ” ujarnya.
Meski tergenang, penjaga TPU sangat memperhatikan kebersihan makam. Dua pekan sekali, mereka selalu membersihkannya. "Rumputnya cepat tumbuh, karena musim hujan. Jadi harus rutin kami bersihkan," kata Ahmad.
Disinggung sejak kapan makam tak lagi didatangi peziarah? Dia menuturkan, makam mulai sepi peziarah sejak enam tahun yang lalu. Sebab, keluarga korban tidak mau mengingat lagi tentang tragedi kerusuhan 20 tahun lalu. "Ada beberapa keluarganya bilang, kalau datang ke sini selalu teringat kejadian dulu. Jadi mereka jarang ke sini," pungkasnya. (ris/yn/ran/fab/JPG)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
