Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 April 2017 | 23.17 WIB

Kisah Eks Preman dan PSK Dolly yang Kini Jadi Pengisi Seminar

MENTAS: Jarwo Susanto dan Munasipah mengembangkan usaha tempe Bang Jarwo. - Image

MENTAS: Jarwo Susanto dan Munasipah mengembangkan usaha tempe Bang Jarwo.



Tiga hari setelah kejadian mencekam itu, ada operasi penangkapan. Enam orang ditangkap lagi karena perkara yang sama. Menolak dan melawan petugas kepolisian. Termasuk salah seorang kakak suami Jarwo, Darmanto, juga ditangkap. ”Beruntung, saat itu saya sudah pindah ke kontrakan. Jadi, tidak ikut diciduk,” bebernya.



Jarwo baru sadar menjadi buron ketika seorang saudaranya menjenguk Darmanto di kamar tahanan Polrestabes Surabaya. Di sana, seorang penyidik menunjukkan foto Jarwo yang saat itu berstatus buron. Tak mau ambil risiko, Jarwo akhirnya melarikan diri. ”Saya lari dengan Mas saya, Darmuji,” katanya.



Bersama Darmuji, Jarwo berkelana dari kota satu ke kota yang lain. Dari rumah teman satu ke rumah teman yang lain. Malang, Sidoarjo, sampai Gresik. Terkadang, dia juga balik ke Surabaya. Pelarian itu berlangsung selama sebulan. ”Saya menunggu berkas kakak saya P-21,” akunya.



Jarwo sedang berada di rumah kakaknya, Darmaji, di Gedangan, Sidoarjo, ketika mendengar kabar lengkapnya berkas pemeriksaan kakaknya. Di rumah Darmaji, dia belajar membuat tempe selama empat hari. ”Cuma belajar dasar-dasarnya. Lha wong cuma sebentar,” paparnya.



Saat pamitan pulang, dia disangoni kedelai oleh Darmaji. Tidak banyak. Hanya 3 kilogram. Dia masih ingat pesan Darmaji kala itu. Agar keledai tersebut digunakan dengan sebaik-baiknya.



Tentu, Jarwo tak langsung menanam kedelai itu agar tumbuh pohon raksasa seperti cerita Jack dan Kacang Ajaib. Sampai di rumah, Jarwo langsung praktik membuat tempe. Sepertiga kedelai pemberian Darmaji diolahnya menjadi tempe. Ternyata sukses. Tempe buatannya itu digoreng dan dibagikan kepada tetangganya.



Karena girang, dia langsung melapor ke Darmaji. ”Yo wis berarti jodoh nggawe tempe. Terusna ae dodolan tempe,” ujar Jarwo menirukan pesan Darmaji lewat percakapan telepon kala itu.



Darah Bonek sepertinya memang melekat pada diri Jarwo. Hanya dengan modal Rp 80 ribu, dia nekat kulakan kedelai. Tempe pertamanya pun hanya dari 3 kilogram kedelai. Mereknya Tempe Dolly. Karena namanya itu, banyak yang tertarik sekaligus bertanya. Kok Dolly? ”Iya, Dolly tutup, jadi jualan tempe,” terang Jarwo.



Setiap sore dia menjajakan tempenya dengan menggunakan sepeda onthel. Pelan-pelan, usahanya berkembang. Produksinya bertambah menjadi 5 kilogram kedelai setiap hari. Namun, karena masih manual, proses produksi cukup menguras tenaganya. ”Sebenarnya, mau terus ditambah. Tapi, tenaganya tidak ada,” ungkap Jarwo.



Melihat usaha itu berkembang, Kelurahan Putat Jaya tertarik dan mengusulkan Jarwo untuk mendapat mesin giling. Akhir 2014, pemkot memberinya mesin. Namun, dia tidak mau mengambil mesin tersebut di kelurahan. Alasannya, dia masih takut polisi mengetahui keberadaannya. ”Takut status buron belum hilang,” urainya.



Merasa sudah tenang, dia mulai berani menunjukkan diri. Dia memutuskan untuk menghalalkan Eva. Pernikahan itu terjadi pada 24 Desember 2014. Mereka berdua pun bagi tugas. ”Saya yang bagian produksi, Mas Jarwo bagian jualan,” imbuh Eva.



Setelah enam bulan berjalan, ada yang protes dengan produknya. Nama Tempe Dolly dianggap masih saru. Akhirnya, mereknya diganti Tempe Mandiri Jaya. Namun, hanya berjalan beberapa bulan. ”Karena namanya sulit diingat dan ndak terkenal,” selorohnya.



Dia pun kembali mengganti merek produknya. Menjadi Tempe Bang Jarwo. ”Terinspirasi judul kartun Adit & Sopo Jarwo,” tambah Jarwo.



Usahanya semakin berkembang setelah mendapatkan pendampingan bisnis pada pertengahan 2015 oleh Gerakan Melukis Harapan (GMH). Jarwo mendapatkan ilmu terkait pemasaran, pembukuan, hingga promosi. Sejak saat itu pula, dia melek teknologi dan mengenal media sosial. ”Pemasaran sudah merambah media sosial selain keliling pakai sepeda. Hasilnya lumayan,” terang pria kelahiran 10 Oktober 1980 tersebut.



Sekarang setiap hari dia mampu membuat tempe dari 20 kilogram kedelai. Omzetnya mencapai Rp 10 juta per bulan. Margin keuntungan 100 persen. Pelanggannya berasal dari berbagai dinas dan lintas kota. Ada yang dari Jakarta, ada yang dari Bali.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore