Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 25 April 2017 | 04.06 WIB

Eduardus Bimo Aksono, Temukan Metode Penentuan Jenis Kelamin Burung

PENELITI KELAMIN BURUNG: Gunawan (kiri) peternak Cucak Rowo dan Eduardus Bimo Aksono saat melihat kondisi kandang dan pakan burung. - Image

PENELITI KELAMIN BURUNG: Gunawan (kiri) peternak Cucak Rowo dan Eduardus Bimo Aksono saat melihat kondisi kandang dan pakan burung.


Tidak ingin melihat penyuka burung kecele karena salah memilih jenis kelamin, Eduardus Bimo Aksono membuat gebrakan baru. Melalui metode replikasi DNA, Bimo berhasil menciptakan penentu jenis kelamin burung.





EDI SUSILO, Surabaya





ANDA punya ’’sepasang’’ cucakrawa, tapi tak kunjung berkembang biak? Wah, siapa tahu burung yang dipasangkan itu keliru. Bisa jadi, keduanya cewek. Atau, keduanya lelaki.



Kalau itu terjadi, tentu perkembangbiakan tidak kunjung jadi. Dua burung tersebut enggak bakal jadian. Sebab, tidak ada cucakrawa yang gay. Kecuali, salah satunya berjenis cucokkk... rawa...



Padahal, kicauan burung itu elok sekali. Suaranya khas. Melengking, sedikit mendengung, dengan nada yang bervariasi. Karena itu, harganya mahal banget. Satu ekor bisa mencapai Rp 3 juta–Rp 5 juta. Harganya bisa naik lima kali lipat jika dijual sepasang. Sepasang yang asli, jantan dan betina.



”Harga itu wajar karena pengembangbiakannya sangat sulit,” terang Eduardus Bimo Aksono kepada Jawa Pos saat mengunjungi salah satu peternakan cucakrawa milik Gunawan di kompleks Wisma Mukti, Klampis Anom, Surabaya, Sabtu (22/4).



Kesulitan pengembangbiakan cucakrawa terjadi lantaran burung tersebut masuk kategori monomorfik. Hewan yang sulit dibedakan hanya dari struktur anatomi dan morfologinya. Kondisi tersebut membuat peternak sulit menjodohkan cucakrawa. Sebab, penentuan jenis kelaminnya sangat sulit.



Ya, jika diamati secara kasatmata, dua puluh pasang cucakrawa milik Gunawan tersebut memang tidak ada bedanya. Pasangan burung di setiap sangkar itu mirip saudara kembar. Ujung paruh hingga cakar memiliki warna serupa.



Sulitnya membedakan jenis kelamin burung bernama ilmiah Pycnonotus zeylanicus tersebut membuat Gunawan frustrasi saat memulai peternakan. Dalam bisnis yang dia mulai delapan tahun lalu itu, Gunawan mengaku sering tertipu.



”Dunia bisnis cucakrawa ini sebenarnya dunia hitam,” katanya, lantas terkekeh. Membayangkan nasibnya saat memulai bisnis. Burung yang dibelinya dari peternak lain sering kali tidak sesuai dengan yang dijanjikan.



Burung yang dibeli per pasang belum tentu pasangan asli. Sejenis. Bisa jantan semua. Kadang betina semua.



Selama tiga tahun awal, usaha pengembangbiakan cucakrawa bisa dibilang gagal. Di antara 20 pasang burung yang dia beli, hanya dua pasang yang berhasil bertelur. Ada beberapa ekor lainnya yang mati karena berkelahi dalam satu kandang saat perjodohan.



Pensiunan pegawai bank swasta itu pernah menilai sepasang burung berjodoh karena keduanya menunjukkan perilaku saling tertarik. Namun, setelah ditinggal beberapa menit, ternyata dua burung tersebut sedang mempersiapkan pertarungan. Akhirnya, seekor di antaranya menjemput ajal.



Gunawan tidak sendiri. Pengalaman apes ditipu penjual itu ternyata juga menimpa sebagian besar peternak cucakrawa di berbagai daerah. Kasusnya sama, terkena sirep dunia hitam bisnis cucakrawa.



Pengalaman para peternak cucakrawa itulah yang kemudian ditampung Bimo. Kecintaannya pada dunia burung membuat dia tak tega mendengar keluh kesah para peternak. Berbekal kemampuannya di bidang biologi molekuler, Bimo mencoba untuk membantu para peternak.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore