Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 April 2017 | 19.14 WIB

Menelusuri Hilangnya Jejak Tan Tjin Kie, Orang Terkaya di Cirebon

MIRIS: Bongkahan nisan Makam Mayor Tjan Tjin Kie di RT 07 RW 03 Kelurahan Kecapi, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. - Image

MIRIS: Bongkahan nisan Makam Mayor Tjan Tjin Kie di RT 07 RW 03 Kelurahan Kecapi, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.

Kenangan tentang orang Tionghoa terkaya di Cirebon pada awal abad ke-20, Mayor Tan Tjin Kie, sirna sudah. Makamnya menjelma menjadi permukiman warga.



MIKE DWI SETIAWATI, Cirebon 



---



MAKAM sang mayor di sekitar permukiman warga di kawasan Dukuh Semar, Kota Cirebon -tak jauh dari Terminal Harjamukti- itu kini tertutup oleh halaman rumah warga. Nisannya pun ditemukan menjadi pijakan melintas gorong-gorong.



Namun, jejak-jejak makam sang mayor masih terlihat jelas. Mulai bata berukuran besar yang panjang, motif bunga khas Tiongkok, hingga guratan-guratan lain di sepanjang bongkahan yang tersisa. Menurut catatan National Geographic Indonesia, tertulis bahwa Tan Tjin Kie wafat pada 13 Februari 1919 dalam usia 66 tahun.



Tan Tjin Kie merupakan seorang Tionghoa terkaya dan filantropis di Cirebon. Karirnya melecut sejak menjabat letnan tituler pada 1884. Lalu, dia bergelar kapitein pada empat tahun berikutnya. Pemerintah Manchu menganugerahi gelar maharaja kelas II pada 1893, sedangkan Pemerintah Hindia Belanda memberinya penghargaan Bintang Emas untuk Pengabdian, Gouden Ster van Verdienste. Lalu, pangkat mayor titulernya disematkan pada 1913.



Tan Tjin Kie memiliki puluhan rumah mewah dan ribuan hektare tanah serta pabrik gula. Salah satu rumahnya yang paling mewah berada di Desa Luwunggajah, kini masuk Kecamatan Ciledug, yang diberi nama Binarong. Nama Mayor Tan Tjin Kie memiliki pengaruh luar biasa dalam dunia politik dan militer di Kota Cirebon saat itu.



Sang mayor memiliki beberapa pesanggrahan bergaya hindia abad ke-19 di seantero Cirebon seperti Roemah Pesisir, Roemah Tambak, dan Roemah Kalitandjoeng. Namun, Gedong Binarong dengan pilar-pilar anggun merupakan istana termegahnya yang bertempat di Ciledug, Kabupaten Cirebon bagian timur. Dia juga memiliki Suikerfabriek Luwunggadjah, pabrik gula yang sekaligus menjadi pabrik uangnya.



''Mayor juga banyak berjasa dalam pembangunan sarana prasarana di Kota Cirebon. Di antaranya, membangun Rumah Sakit Orange yang sekarang menjadi Rumah Sakit Sunan Gunung Djati, mendirikan sekolah Tionghoa, dan Vihara Winaon,'' ujar budayawan Tionghoa Jeremy Huang.



Menurut dia, jasa Mayor Tan Tjin Kie sangat besar untuk Kota Cirebon. Pada zamannya, Tan Tjin Kie menjadi penghubung masyarakat Tionghoa Kota Cirebon dengan pemerintah Hindia Belanda.



Melihat kondisi makam sang mayor yang kini tertumpuk permukiman warga, Jeremy mengajak masyarakat Kota Cirebon, khususnya masyarakat Tionghoa, peduli kembali sebagai penghormatan kepada Tan Tjin Kie.



''Saya berharap pemerintah Kota Cirebon juga dapat memulihkan kembali makam Tan Tjin Kie. Tujuannya, menghormati dan mengingat jasa sang mayor,'' ucapnya. (*/c22/ami) 


Editor: Thomas Kukuh
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore