
MIRIS: Bongkahan nisan Makam Mayor Tjan Tjin Kie di RT 07 RW 03 Kelurahan Kecapi, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.
Kenangan tentang orang Tionghoa terkaya di Cirebon pada awal abad ke-20, Mayor Tan Tjin Kie, sirna sudah. Makamnya menjelma menjadi permukiman warga.
MIKE DWI SETIAWATI, Cirebon
---
MAKAM sang mayor di sekitar permukiman warga di kawasan Dukuh Semar, Kota Cirebon -tak jauh dari Terminal Harjamukti- itu kini tertutup oleh halaman rumah warga. Nisannya pun ditemukan menjadi pijakan melintas gorong-gorong.
Namun, jejak-jejak makam sang mayor masih terlihat jelas. Mulai bata berukuran besar yang panjang, motif bunga khas Tiongkok, hingga guratan-guratan lain di sepanjang bongkahan yang tersisa. Menurut catatan National Geographic Indonesia, tertulis bahwa Tan Tjin Kie wafat pada 13 Februari 1919 dalam usia 66 tahun.
Tan Tjin Kie merupakan seorang Tionghoa terkaya dan filantropis di Cirebon. Karirnya melecut sejak menjabat letnan tituler pada 1884. Lalu, dia bergelar kapitein pada empat tahun berikutnya. Pemerintah Manchu menganugerahi gelar maharaja kelas II pada 1893, sedangkan Pemerintah Hindia Belanda memberinya penghargaan Bintang Emas untuk Pengabdian, Gouden Ster van Verdienste. Lalu, pangkat mayor titulernya disematkan pada 1913.
Tan Tjin Kie memiliki puluhan rumah mewah dan ribuan hektare tanah serta pabrik gula. Salah satu rumahnya yang paling mewah berada di Desa Luwunggajah, kini masuk Kecamatan Ciledug, yang diberi nama Binarong. Nama Mayor Tan Tjin Kie memiliki pengaruh luar biasa dalam dunia politik dan militer di Kota Cirebon saat itu.
Sang mayor memiliki beberapa pesanggrahan bergaya hindia abad ke-19 di seantero Cirebon seperti Roemah Pesisir, Roemah Tambak, dan Roemah Kalitandjoeng. Namun, Gedong Binarong dengan pilar-pilar anggun merupakan istana termegahnya yang bertempat di Ciledug, Kabupaten Cirebon bagian timur. Dia juga memiliki Suikerfabriek Luwunggadjah, pabrik gula yang sekaligus menjadi pabrik uangnya.
''Mayor juga banyak berjasa dalam pembangunan sarana prasarana di Kota Cirebon. Di antaranya, membangun Rumah Sakit Orange yang sekarang menjadi Rumah Sakit Sunan Gunung Djati, mendirikan sekolah Tionghoa, dan Vihara Winaon,'' ujar budayawan Tionghoa Jeremy Huang.
Menurut dia, jasa Mayor Tan Tjin Kie sangat besar untuk Kota Cirebon. Pada zamannya, Tan Tjin Kie menjadi penghubung masyarakat Tionghoa Kota Cirebon dengan pemerintah Hindia Belanda.
Melihat kondisi makam sang mayor yang kini tertumpuk permukiman warga, Jeremy mengajak masyarakat Kota Cirebon, khususnya masyarakat Tionghoa, peduli kembali sebagai penghormatan kepada Tan Tjin Kie.
''Saya berharap pemerintah Kota Cirebon juga dapat memulihkan kembali makam Tan Tjin Kie. Tujuannya, menghormati dan mengingat jasa sang mayor,'' ucapnya. (*/c22/ami)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
