
CERIA: Anak-anak Kampung Kaliasin menunjukkan hasil karya di Sanggar Teras Warna.
Sanggar Teras Warna mengubah Kaliasin semakin manis. Kampung yang suram kini berubah humanis. Meskipun, di kiri dan kanannya, gedung tinggi mengimpit dengan cara yang sadis.
GALIH ADI PRASETYO
SAMAR-SAMAR tembang syahdu mengisi kekosongan di gang selebar 1 meter itu. Dempetan rumah-rumah seolah tak menciptakan celah. Hanya ada pintu rumah yang dibatasi jalan paving.
Lebih jauh ke dalam, suara rancak jimbe semakin keras. Sembilan orang berdiri sambil memegang alat musik. Santai. Sesekali raut muka mereka berubah sesuai entakan jimbe. Seseorang dengan lantang bernyanyi dan sangat menjiwai.
Terlihat di balik pagar tembok setinggi 0,5 meter, dua buah etalase buku dengan tinggi 2 meter menutupi suara celoteh anak. Sesekali terdengar suara perempuan memandu anak-anak itu untuk fokus. ”Ayo diperhatikan, Adik-Adik,” ujar seorang perempuan ayu berjilbab. Bercanda dan belajar bersama tujuh anak.
Di depan rumah sebuah tulisan berbunyi Sanggar Teras Warna. Tersusun dari kayu berwarna cokelat. Teras dengan ukuran tidak lebih dari 20 meter persegi itu menjadi awal lahirnya perubahan di kampung yang sempit tersebut.
Tak mau kampungnya terus-terusan dipandang sebelah mata, Faizal Rahman Yonaf mengubah teras rumahnya di Kaliasin Gang 2 menjadi tempat berkreasi. ”Di sini kami melakukan apa pun. Yang penting positif,” ujar bapak satu anak itu.
Memang Kaliasin merupakan wilayah yang memiliki campuran budaya beragam. Dekat dengan kawasan bisnis yang membuat banyak orang luar tinggal dan menetap di sana. ”Di sini budayanya nyampur. Bukan hanya yang positif, tapi yang negatif juga,” terang Faiz.
Akulturasi budaya negatif di sekitar kampung itu membuat resah warganya. Tak mau berdiam diri, Faiz mulai berpikir untuk membuat suatu perubahan. ”Dulu waktu kuliah bisa berubah lebih baik untuk masyarakat. Masak sekarang enggak bisa seperti itu?” ujar Faiz.
Lingkungan sekitar rumahnya menjadi sasaran utama. Teman sepermainan hingga yang lebih dewasa diajak duduk bersama. Mereka berupaya mencari solusi dan mengalihkan pandangan negatif yang melekat pada Kampung Kaliasin.
Pada 18 Oktober 2014, tercetuslah Sanggar Teras Warna. Geliat untuk mengentaskan pemuda-pemudi di sana dimulai. Obrolan warung kopi menjadi wahana bertukar pikiran.
Waktu awal berdiri memang tidak mudah. Walaupun antusiasme mereka tinggi, bukan berarti tidak ada masalah. Tenaga pengajar bagi anak-anak saat itu masih sedikit. Bahkan, awalnya harus melibatkan keluarga. ”Awal berdiri, ibu saya dan istri saya ikut mengajar,” ujar alumnus program studi tata boga itu.
Selain mengajar anak-anak, Faiz mulai berpikir untuk berbuat lebih besar. Mengentaskan sesama dari belenggu kehidupan negatif seperti minum-minum. ”Mulai cari kegiatan yang mereka sukai. Perkusi itu misalnya,” ujar Faiz.
Anak-anak korban keluarga broken home dan putus sekolah menjadi salah satu sasaran Sanggar Teras Warna. Tak sedikit di antara mereka yang menjadikan sanggar Teras Warna sebagai pelarian. ”Awal datang, ada cewek yang ngerokok. Yang suka mabuk juga ada,” terang Faiz.
Pendekatan secara halus dan kekeluargaan selalu diutamakan Sanggar Teras Warna untuk menyadarkan mereka. Saat forum diskusi, mereka diajak untuk mencurahkan segala keluh kesahnya. ”Kalau langsung kita bilangi dan kita larang, takutnya mereka malah lari,” cerita Faiz.
Faiz memang membiarkan anak asuhnya untuk berkreasi sebebas-bebasnya. Kreativitas adalah hal dasar untuk membuat seseorang betah dan tidak kembali ke kegiatan negatif. ”Seperti itu, kita membiarkan anak-anak menggambar di pintu garasi,” ujar Faiz.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
