Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 30 Maret 2017 | 03.19 WIB

Pagar Besi Hilang, Pusara Buat Jemur Sisa Nasi

TERLUPAKAN: Makam Radjamin dan istrinya di kompleks Makam Rangkah yang terkesan tidak terurus. - Image

TERLUPAKAN: Makam Radjamin dan istrinya di kompleks Makam Rangkah yang terkesan tidak terurus.

Nama Radjamin Nasution menduduki peringkat pertama dalam daftar wali kota Surabaya. Ironisnya, makam wali kota yang dikenal doyan blusukan itu kini memprihatinkan.



GALIH ADI-EDI SUSILO



KANTOR juru kunci Makam Rangkah Selasa (28/3) siang terlihat lengang. Di samping kantor itu, orang-orang duduk di atas kijing makam. Mereka menikmati angin semilir sambil menyeruput minuman. ”Kenopo, Mas? (ada apa, Mas? Red),” ucap seorang pria yang biasa disapa Pak Ache. Dia adalah pembuat kijing sekaligus pengurus Makam Rangkah.


Dahinya langsung berkerut saat ditanya letak makam Radjamin Nasution. Setelah berpikir sejenak, dia berkata dengan lantang. ”Sebelah kono lho, Mas! (sebelah sana, Mas),” ujarnya. Ibu jarinya menunjuk arah utara. Meski demikian, dia ternyata tidak tahu bahwa Radjamin adalah wali kota pertama Surabaya. ”Baru tahu sekarang kalau itu makam wali kota,” katanya.


Menuju makam Radjamin harus menyusuri jalan beraspal di dalam kompleks kuburan itu. Di sebuah belokan, jalan aspal berakhir. Yang ada hanya jalan tanah. Terlihat tumpukan sampah dan gerobak. Sesekali ada kambing yang naik ke kijing. Di sana, tampak sebuah makam dengan cungkup yang terkerangkeng. Namun, ternyata di dalamnya bukan hanya makam. Ada juga tumpukan barang-barang. ”Bukan yang itu makamnya. Yang ini lho, Mas,” tutur seorang perempuan yang mengenakan daster hijau. Sumiah alias Miah menunjuk sebuah makam. Miah adalah orang yang dipercaya keluarga Radjamin untuk merawat makam. Dia mendapat tugas tersebut sejak 1997.


Makam Radjamin dikelilingi pagar besi yang terlihat berkarat. Tanpa cungkup. Sisa-sisa cat hijau yang menempel di pagar telah mengelupas. Beberapa besi pagar hilang. Menurut dia, besi itu dicuri orang saat malam. ”Jadi, sekarang saya tutupi seng,” ucapnya. Seng yang dimaksud Sumiah itu juga sudah berkarat. Ada tulisan ”tambal ban” di bagian tengah seng. Makam Radjamin berjejer dengan istrinya. Nama istrinya yang tertulis di nisan adalah Ny Haji D. Radjamin. Sementara itu, di nisan makam Radjamin, terdapat tulisan yang agak panjang. Yakni, ”Suami dan Ajah Kami Jang Tertjinta Radjamin Nasution gelar Soetan Koemala Pontas, Lahir 15 Agustus 1892, Wafat 10 Pebruari 1957”.


Bagian tengah dua makam itu ditumbuhi tanaman kuping gajah. Yang memprihatinkan, ada orang yang memanfaatkan makam tersebut untuk menjemur sisa-sisa nasi. Pada Selasa (28/3) itu terlihat nampan berisi karak (nasi kering) di atas kijing. Miah mengungkapkan, makam Radjamin dan istrinya jarang dikunjungi orang. ”Dulu sih keluarganya sering datang. Tapi, sekarang mereka datang hanya saat megengan (sebelum Ramadan),” terangnya.


Sejarawan Universitas Airlangga (Unair) Purnawan Basundoro menyampaikan, kiprah Radjamin Nasution dalam lingkup pemerintahan Surabaya dimulai sejak masa kolonial. Pada 1942, Radjamin tercatat sebagai satu-satunya bumiputra yang masuk anggota Wethouders, badan pengurus harian kota yang dibentuk pemerintah kolonial. ”Saat itu Radjamin duduk sebagai ketua urusan ekonomi Gemeente (Pemerintah Kota) Surabaya,” ungkapnya.


Setelah pemerintah kolonial berganti dengan pendudukan Jepang, kiprah Radjamin tak meredup. Pada masa itu, dia diangkat menjadi wakil wali kota untuk mendampingi Takahashi Ichiro sebagai wali kota Surabaya saat itu.


Jepang memilih Radjamin sebagai wakil karena beberapa pertimbangan. Di antaranya, Radjamin adalah muslim yang memiliki kedekatan dengan warga Surabaya. ”Jepang jelas memilih Radjamin karena memiliki pengaruh besar di Surabaya,” terang penulis buku sejarah pemerintah Kota Surabaya tersebut.


Radjamin menjadi wakil wali kota hingga masa kemerdekaan. Kemudian, dia ditunjuk sebagai wali kota pertama Surabaya setelah proklamasi. Namun, jabatan itu tak dipegang lama. Radjamin hanya menjabat pada 17–28 Agustus 1945. Sebab, peran pemerintah daerah waktu itu digantikan Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) yang diketuai Doel Arnowo.


Meski menjabat singkat, Purnawan menuturkan bahwa Radjamin tetap perlu memperoleh penghormatan dari seluruh warga Surabaya atas jasanya. Termasuk menghormati tempat dia bersemayam. Bukan hanya Radjamin, kondisi makam wali kota lainnya yang menjabat pada masa awal kemerdekaan juga belum mendapatkan perhatian penuh. Padahal, makam para wali kota tersebut bisa menjadi salah satu bukti kuat sejarah pemerintahan Surabaya. ”Paling tidak, pemkot harus punya inisiatif untuk merawat kondisi makam pejabat kotanya. Jangan sampai semrawut tak terawat,” jelasnya. (*/c16/oni/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore