
PALING SENIOR Badnur Riyadi (foto kiri)
Usia Badnur Riyadi bulan depan tepat menginjak 65 tahun. Namun, dia tetap begitu bersemangat menjadi kader Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Padahal, biasanya Banser berumur 20–45 tahun. Karena usianya paling tua, Badnur pun mendapat penghargaan ’’Banser Kehormatan’’.
JOS RIZAL
SUASANA gedung serbaguna KBIH Rohmatul Ummah pada Sabtu malam (25/3) terlihat semarak. Maklum, malam itu ada pelantikan pengurus Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sidoarjo masa khidmat. Sebelum memasuki ruangan, mereka yang datang mendapat balutan pita merah putih. Pita itu disisipkan di bagian dada dan kopiah. Merah Putih menjadi simbol kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Banyak pejabat yang hadir. Selain petinggi yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pemimpin Daerah (Forkopimda) Sidoarjo, beberapa tokoh lintas agama turut hadir. Gedung KBIH Rohmatul Ummah pun semakin sesak. Bukan hanya kader GP Ansor dan Banser. Kader-kader di Badan Otonom (Banom) NU pun tampak menyemarakkan pelantikan sekaligus ikrar 2.000 kader Ansor itu. Nah, salah satu di antara kader tersebut adalah Badnur Riyadi. ’’Abah Badnur ini luar biasa. Jadi Banser sepanjang masa. Beliau Banser Kehormatan,’’ kata Rizza Ali Faizin, ketua GP Ansor Sidoarjo.
Di usia yang menginjak 65 tahun, seharusnya Badnur masuk jajaran kepengurusan NU. Namun, Badnur menolak. Dia memilih Banser sebagai organisasi pengabdiannya. ’’Pokoknya Banser,’’ tegasnya saat ditemui di rumahnya di Desa Kedungbanteng, RT 6, RW 3, Tanggulangin.
Kampung Badnur dikelilingi hamparan sawah dan kolam-kolam ikan milik warga. Belok kanan-kiri serta beberapa kali melewati jalan berpaving membelah sawah. Warga di luar Desa Kedungbanteng sudah paham betul siapa Badnur. Dia bukan pejabat, tetapi dikenal banyak tokoh yang acap datang ke rumahnya. Di mata warga, Badnur juga disegani. Maklum, sejak muda dia aktif menjaga keamanan dan ketertiban. ’’Silakan masuk Le,’’ katanya sambil mengisap rokok keretek.
Bukan tanpa alasan Badnur tetap mengabdi sebagai anggota Banser. Dia lantas bercerita, menjelang 1990, ’’pemberontakan’’ banyak terjadi di Sidoarjo. Terutama di Tanggulangin. Para ’’pemberontak’’ itu membatasi dakwah dan kegiatan para pemuka agama. Khususnya kiai. Mereka kerap mendapat teror setelah berdakwah maupun memimpin suatu ibadah. Mulai dilempar batu hingga intimidasi lain. Tujuannya, dakwah para pemuka agama tersebut berhenti.
Sejak itu beberapa orang kemudian bergabung dengan Banser NU. Tugas mereka mengamankan kiai dan masyarakat yang menjadi korban teror. Ketika itu jumlah Banser di Sidoarjo, khususnya Tanggulangin, masih terbatas. Pada akhirnya, banyak warga yang bergabung menjadi bagian dari Banser. Alasannya, ikut menjaga kiai. ’’Katanya, mereka ikut menjaga nasib anak cucu. Sebab, para kiai itu sosok pengayom masyarakat. Karena kiai tersebut sangat penting, saya pun tergerak ikut menjaga kiai dan masuk Banser,’’ ungkapnya.
Selama bergabung dengan Banser sejak 1990-an, Badur mendapat banyak pelajaran. Mulai pelajaran olah tubuh, hingga ilmu olah batin. Di bidang olahraga, juga banyak dilatih mengenai judo dan pencak silat. Selain berfungsi untuk melindungi diri, olahraga tersebut juga berfungsi melindungi warga yang lemah. ''Kami juga mempelajari pola kejahatan,'' katanya.
Menjelang 2000, tidak lagi banyak teror yang kepada rumah ibadah dan pemuka agama. Termasuk di Desa Kedungbanteng. Penjagaan rumah ibadah dan pemuka agama oleh Banser lambat laun menurun. Kondisi lingkungan semakin kondusif dari tindak kejahatan.
Selama ini, Badnur juga membantu warga untuk menyembuhkan penyakit. Ceritanya, suatu ketika, seorang bocah jatuh dan kakinya terkilir saat bermain di sekitar kediamannya. Mengetahui bocah yang menangis kesakitan, Badnur kemudian membawanya ke rumah dan memijat bagian-bagian tertentu di kaki bocah tersebut. Berbekal pengetahuan silat dan susunan anatomi tubuh yang dimiliki, dia memijat susunan tulang bocah tersebut dengan penuh keyakinan. Beberapa hari kemudian, bocah itu sembuh. ''Sejak saat itu banyak orang berkunjung ke rumah,'' katanya.
Nama Badnur makin dikenal dari mulut ke mulut. Banyak dari warga sekitar yang terbantu. "Kades-kades di sekitar sini juga banyak yang datang," jelasnya. Yang unik, ketika ada yang kehilangan kendaraan bermotor dan ternak, ada juga yang meminta saran darinya.
Bukan hanya kasus kriminalitas, kasus asusila juga pernah ikut menangani. Sejak 2000 hingga saat ini, setidaknya sudah ada empat pasangan mesum yang ditertibkan. "Intuisi saja saya mengetahui. Saya gerebek kemudian saya nikahkan pasangan yang mesum itu. Biasanya, kalau gerebek pasangan mesum saya ditemani RT setempat. Supaya bisa langsung saya nikahkan." tuturnya. Kasus penggerebekan terakhir yang ditemuinya terjadi pada pertengahan 2015 lalu. Lokasiknya di luar Desa Kedungbanteng. (*/hud/sep/JPG)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
