
KOLEKSI: Brigadir Jarwo, Bripka Eko, Iptu Roni, dan Aiptu Wayan menunjukkan barang antik koleksi mereka.
Tiga anggota Patroli Jalan Raya (PJR) Jatim-V Banyuwangi ini memiliki hobi yang sama. Iptu Roni Falsah, Aiptu Wayan Redita, dan Bripka Eko Widayat sama-sama gemar mengoleksi barang antik.
NIKLAAS ANDRIES, Banyuwangi
SUASANA sedikit hening tampak di kantor Unit PJR Jatim-V di dekat perempatan Karangente kala itu. Jarum jam menunjukkan pukul 12.00 di kantor patroli jalan raya yang membawahi wilayah Situbondo, Jember, dan Banyuwangi tersebut. Artinya, sudah waktunya mereka istirahat makan siang. Sedikit tanda kehidupan yang tampak di bagian belakang pos yang berhadapan langsung dengan area parkir mobil dinas.
Di sana, tiga anggota PJR terlihat duduk dan ngobrol. Tampak pula kopi tersedia di atas meja. Ketiganya adalah Iptu Roni Falsah, Aiptu Wayan Redita, dan Bripka Eko Widayat. Obrolan pada jam istirahat itu pun terlihat santai, tapi serius. Beberapa kali, obrolan tersebut disertai gerak tubuh yang menandakan adanya sesuatu benda yang dibahas.
Ternyata benar. Obrolan tiga anggota PJR tersebut berkutat seputar barang antik. Mereka saling menceritakan koleksi benda warisan leluhur di rumah masing-masing. Bentuk dan jenis koleksi yang dimiliki pun beragam. Mulai keris, tombak, cincin, hingga barang pusaka lainnya.
Perbincangan pun kian hangat. Setelah setengah jam ngobrol, ketiganya pun bersiap-siap untuk pindah tempat. Yang menjadi jujukan adalah rumah Eko Widayat di Perum Pakis Jalio, Kecamatan Banyuwangi. Apalagi adanya rasa penasaran membuat mereka bergegas menuju rumah salah seorang anggota PJR tersebut. ”Mau lihat koleksi di rumah Eko,” ucap Roni.
Tidak sampai sepuluh menit, rombongan tersebut akhirnya sampai di rumah Eko. Setelah melepas sepatu, Eko didampingi Roni dan Wayan langsung masuk rumah. Lokasi yang dituju adalah ruangan di bagian belakang rumah Eko.
Melihat tempatnya, ruangan itu difungsikan pemilik rumah sebagai lokasi salat. Sajadah dan kaligrafi terpasang pada tempatnya. Di sudut ruangan, tampak sebuah lemari tua yang ada kacanya. Di dalam lemari tersebut, ada beberapa koleksi benda antik milik Eko. ”Saya simpan koleksi di sini,” kata Eko.
Saat pintu lemari itu dibuka, Eko mengeluarkan sejumlah benda pusaka. Ada keris dengan rupa dan jenis serta ukuran yang berbeda. Layaknya manusia, keris tersebut juga punya nama. Misalnya, keris bermotif kera yang disebut Eko dengan Keris Hanomanya. Di bagian lainnya, ada pula koleksinya yang berbentuk tombak.
Sama halnya dengan keris, tombak itu punya nama. Eko menceritakan, kebanyakan koleksinya merupakan warisan dari orang tua. Seluruh koleksinya tetap tersimpan rapi hingga kini. ”Ada yang warisan. Ada juga yang diperolehnya sendiri,” ucapnya.
Momen berkumpul bersama saat jam istirahat menjadi waktu yang tepat untuk membicarakan benda peninggalan leluhur. Bila ada yang cocok, sistem barter maupun jual beli bisa dilakukan.
Bukan hanya di internal anggota PJR Jatim, koleksinya juga diperoleh dari berkumpul dengan sejumlah komunitas penggemar barang antik. Soal nilai, itu memang tidak bisa diukur dengan uang. Namun, prinsip dipegang ketiganya. Bila benda antik yang diperoleh melalui pembelian, otomatis nilainya bisa diukur. Namun, kalau merupakan pemberian atau warisan, sebisa mungkin benda tersebut akan dipertahankan. ”Kalau nilai bukan karena uang, pasti akan berusaha dipertahankan,” tegas Wayan.
Sejak kecil, Eko, Roni, dan Wayan memang tergila-gila dengan barang antik. Selain kesukaan mereka lebih banyak muncul karena faktor lingkungan keluarga yang memiliki hobi yang sama. Ada nilai menjaga warisan dan kekayaan budaya leluhur yang menjadi titik utama mereka dalam mencintai hobi yang tergolong unik pada era modern tersebut.
Ketiganya pun sepakat menampik ketertarikan soal barang antik itu lebih ditonjolkan pada sisi spiritual alias gaib. Sebab, tidak semua benda berkategori antik bisa dikaitkan dengan dunia magis. Justru estetika dari benda tersebut yang menjadi daya tarik melebihi mitos adanya kekuatan yang dimiliki sebuah benda.
Sebagai bukti kecintaan mereka, semua koleksi barang antik itu pun dirawat secara berkala. Keris, misalnya. Dirawat dengan bahan umum seperti poles hingga antikarat. Namanya juga ada unsur logam. Disimpan dalam tempat tertutup bisa menghasilkan aroma yang tidak enak.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
