
MUDAH AKRAB: Soline Lagarde saat mengajar bahasa Inggris pada Sabtu (4/3) di taman pendidikan Kampoeng Sinaoe, Desa Siwalanpanji, Buduran.
Selama dua minggu berada di Sidoarjo, Soline Lagarde dan Noura Louzgani, mahasiswi dari Prancis dan Jerman, mendapatkan banyak pengalaman berharga. Mereka juga benar-benar menikmati kegiatan mengajar yang dilakoninya.
RESVIA AFRILENE
TIGA mobil masuk bersamaan di taman pendidikan Kampoeng Sinaoe, Jalan KH Khamdani, Desa Siwalanpanji, Buduran, Sabtu (4/3). Mereka mengangkut 27 siswa SMPN 1 Tulangan yang hendak mengikuti kelas sore di Kampoeng Sinaoe. Kelas sore sebenarnya rutin diadakan. Namun, kelas sore kali ini lebih spesial.
Maklum, dua bule dari Prancis dan Jerman akan langsung menjadi guru mereka. Tentu saja anak-anak sangat antusias. Sembari menunggu kedatangan dua guru asing tersebut, mereka berlatih beberapa kosakata yang mungkin nanti bisa digunakan saat ngobrol bareng.
Salah seorang siswa itu adalah Salshabilla. Gadis tersebut terlihat beberapa kali berbicara sendiri. Seolah sedang ngobrol tentang kehidupan kuliah. ’’What kind of major that you take? Can you tell us more about it? (Jurusan apa yang kamu ambil? Bisakah kamu menceritakannya kepada kami?, Red),’’ ujarnya. Bukan hanya Salshabilla, kawan-kawannya yang lain pun berusaha membuat percakapan.
Tidak berselang lama, dua guru asing yang ditunggu-tunggu datang. Keduanya perempuan dan masih muda. Namanya, Soline Lagarde dan Noura Louzgani. Soline berasal dari Prancis dan Noura tinggal di Jerman. Berkulit putih dan rambut pirang, postur tubuh Soline dan Noura cukup tinggi. ’’Cantik ya!’’ puji beberapa siswa bersahutan.
Soline dan Noura sudah hampir dua minggu berada di Indonesia. Persisnya di Sidoarjo. Mereka mengajukan diri sebagai volunteer teacher di Kampoeng Sinaoe. Selama berada di Sidoarjo, mereka tinggal di rumah Mohammad Zamroni, sang pendiri Kampoeng Sinaoe.
Melihat kedatangan Soline dan Noura, Ida Nurmala, istri Zamroni, langsung menyambutnya. Tanpa menunggu lama, dia mempersilakan Soline dan Noura menempati kelas yang sudah disiapkan. Jangan membayangkan kelasnya berada di dalam ruangan seperti sekolah formal. Yang dimaksud kelas di Kampoeng Sinaoe adalah gazebo dengan genting jerami. Taman nan indah mengelilinginya. Angin semilir pun bebas menyapa.
Ida membagi 27 murid SMPN 1 Tulangan yang tergabung dalam English Club ke dalam dua kelas. Setiap kelas berisi belasan siswa bersama guru pembimbing. Di kelas yang diisi Soline, ada 14 siswa plus Yudho Prasetyo sebagai pembimbing.
Anak-anak tampak tidak sabar mendengarkan cerita dari Soline tentang negaranya. Terutama cara mempelajari bahasa Inggris. Soline memulai kelasnya dengan perkenalan singkat. Perempuan 20 tahun yang kini mengenyam pendidikan double degree di Versailles University Prancis itu kali pertama berkunjung ke Indonesia. ’’Saya mengambil program studi hukum dan bahasa Inggris sekaligus. Makanya, perpustakaan adalah apartemen kedua saya,’’ canda Soline dalam bahasa Inggris.
Salah seorang siswa, Mohammad Fattah, bertanya tentang latar belakang ketertarikan Soline, termasuk Noura, ke Indonesia. ’’Saya ingin berbagi sudut pandang negara saya dengan kalian semua. Rakyat Indonesia. Mengapa? Sebab, kita semua berhadapan dengan tantangan (global, Red),’’ papar Soline.
Pertanyaan yang sama terlontar di kelas Noura. Yang menanyakannya adalah Calvin Kenshi. Noura menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dengan sejarah besar. Karena itu, dia dan Soline ingin merasakan suasananya dengan mendatangi secara langsung. Kebetulan, mereka berdua juga bersahabat sejak SD. Saat itu keluarga Soline pindah ke Jerman.
Selama berada di Sidoarjo, Noura dan Soline sudah mengalami banyak pengalaman menarik. Misalnya, saat membeli gado-gado di kawasan Jalan Gajah Mada. Saking panasnya cuaca waktu itu, Soline dan Noura berhenti sejenak di persimpangan Masjid Al Abror. Menurut Noura, di negaranya tidak akan ada orang yang bertanya apakah dia sedang bingung mencari jalan bila tidak bertanya. Ternyata berbeda dengan Indonesia. ’’Semua orang bertanya. Apakah kami tersesat?’’ kata Noura yang sedang menempuh studi ilmu fisika terapan di Universitas Frankfurt, Jerman, lantas tertawa.
Keduanya juga sudah memiliki pengalaman mengikuti pernikahan ala Jawa salah seorang guru Kampoeng Sinaoe. ’’What do you think? (Apa yang kalian pikirkan, Red),’’ tanya Mohammad Reza dengan spontan.
Soline memulai jawabannya dengan tertawa lepas. Soline ternganga saat melihat mahkota sang pengantin yang begitu berat. Dia juga terkagum-kagum dengan sesi midodareni (malam menjelang akad) yang khidmat dan sakral. Dia lantas menyatakan, di negaranya, menikah itu sangat simpel. ’’Cukup mengucapkan sumpah dan melempar bunga. Selesai,’’ ujarnya.
Selepas banyak bercerita tentang perbedaan Indonesia dengan Eropa, Soline dan Noura masuk ke bahasan utama. Yakni, cara belajar bahasa Inggris yang efektif, cepat, dan menyenangkan. Soline maupun Noura diberondong pertanyaan oleh anak-anak. Jawaban mereka sangat sederhana. Mereka juga belajar bahasa Inggris. Sebab, dalam keseharian, bahasa yang mereka gunakan adalah Prancis dan Jerman.
’’Movies, songs and books. Have enjoy moment with those thing and you’ll master English (Film, lagu, dan buku-buku. Nikmati saat bersama hal-hal itu dan kamu akan menguasai bahasa Inggris, Red),’’ tutur Noura.
Noura, begitu juga Soline, tumbuh dari keluarga yang hobi membaca buku. Plus sangat mencintai seni. Setiap kali menonton film atau mendengarkan musik dalam bahasa Inggris, mereka juga belajar. Awalnya tidak paham sama sekali, lalu kenali beberapa kata. Setelah itu, dijamin bisa mengerti hingga aksen si pembicara. ’’Pilih buku favoritmu dalam bahasa Inggris. Pasti sangat membantu,’’ ungkap Noura.
Di sesi penutup, Noura, Soline, dan puluhan siswa SMPN 1 Tulangan diajak bernyanyi bersama. Salah satunya, lagu Hello yang dipopulerkan Adele. Hello, it’s me. I was wondering if after all these years you’d like to meet... (*/c14/pri/sep/JPG)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
