Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 6 Maret 2017 | 06.59 WIB

Yang Dikhawatirkan Hanya soal Mental Juara

BENAHI KUALITAS: Anitama Purnawati menunjukkan cara memanjat yang benar. - Image

BENAHI KUALITAS: Anitama Purnawati menunjukkan cara memanjat yang benar.

Anitama Purnawati adalah mantan atlet nasional panjat tebing yang pernah mengharumkan nama Jawa Timur di Pekan Olahraga Nasional (PON). Kini, dia masuk sebagai PNS di Disparpora Pemkab Sidoarjo. Namun, dia tetap tidak mau dipisahkan dari dunia panjat dinding.

JOS RIZAL

LANGIT di atas SMAN Olahraga (Smanor) sore itu sedikit mendung. Gumpalan awan menghalangi pendaran cahaya mentari. Namun, suasana itu malah membuat sekumpulan remaja yang tengah memanjat dinding berbahagia. Mereka makin leluasa menatap ke atas. Membidik puncak dinding seraya menggapai dan mencengkeram bebatuan tiruan.

Satu per satu batu yang disusun mirip bebatuan tebing itu dipanjat. Enam remaja bergantian mengasah kemampuan sore itu. Kaus mereka basah. Penuh cucuran keringat yang bercampur magnesium karbonat. Yakni, sejenis serbuk putih sebagai pengering tangan supaya tidak licin kala memanjat.

Di halaman depan sekolah tersebut, empat tebing buatan itu tampak menjulang. Ketinggiannya beragam. Dua digunakan dan dua lainnya tidak tersentuh. Warna dinding tersebut beragam. Mulai mencolok hingga gelap. Bentuknya juga bermacam-macam. Ada yang cekung, ada pula yang pipih. Terasa asyik dipandang.

Tepat di muka tebing-tebing buatan itu, berdiri Anitama Purnawati. Dia adalah pelatih remaja-remaja tersebut. Dia terlihat melipat tangannya di dada. Namun, sorot matanya tidak pernah lepas dari sekumpulan remaja yang tengah mendaki. Saat itu, ada tiga gadis berkerudung yang memanjat di papan sisi utara.Sementara itu, tiga remaja putra memanjat di papan sisi selatan. ’’Bagus. Ya, tetap seperti itu,’’ kata Anitama.

Remaja-remaja tersebut makin cepat merayap. Bagai cicak. Tangan mereka cekatan mencengkeram bebatuan hingga sampai ke puncak. Setiba di ujung, yaitu bagian puncak papan, mereka melepas cengkeraman dan terjun ke bawah dengan tali pengaman. Beberapa remaja pun berteriak lepas. ’’Mereka adalah remaja terpilih se-Jawa Timur,’’ kata Anitama.

Pada sesi berlatih itu, dia tidak banyak mengomentari kemampuan anak didiknya. Selain membekali skill, tugas utamanya adalah membantu meningkatkan dan mengembangkan kekuatan psikologis atlet panjat tebing.

Sejauh ini, menurut Anitama, atlet binaannya sudah oke dari segi kemampuan. Terutama anak didiknya di Smanor. Atlet-atlet tumbuh dengan baik. Mereka makan teratur dengan nutrisi terukur. Mereka juga disiplin. Bila tiba waktunya belajar, ya belajar. Waktu berlatih, ya berlatih. Begitu seterusnya. Seluruh atlet mendapat porsi yang sama.

Anitama tak pernah khawatir dengan kondisi atlet panjat tebing. Yang dikhawatirkan hanya satu, yaitu mental juara. Menurut dia, tidak semua atlet bermental juara. Tak semua orang bisa menjadi juara. ’’Soal latihan dan makanan, semuanya sudah dilakukan dengan teratur dan terukur. Tapi, tidak demikian dengan mental juara,’’ katanya.

Anitama menyebutkan, anak-anak itu sudah sering mengikuti pertandingan. Kadang mereka menang dan kalah. Namun, tidak semua anak bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian. Terlebih ketika mengalami kekalahan dalam suatu pertandingan. Ada beberapa atlet yang shock begitu lama ketika kalah. Ada pula yang lekas bangkit dan mengejar ketertinggalan hingga akhirnya menjadi atlet berprestasi. ’’Saya membantu menciptakan mental juara itu,’’ tuturnya.

Ibu satu anak tersebut melanjutkan, atlet perlu memiliki keadaan psikologis yang kuat. Sebab, hal itu menjadi faktor kunci.

Dalam suatu perlombaan atau kejuaraan, faktor tersebut kerap memainkan kondisi kejiwaan. Bagi Anitama, pada intinya, kejuaraan adalah perang psikologis. Pertandingan tak serta-merta pertandingan itu sendiri. Atlet-atlet boleh jadi terlatih dengan baik, tapi tidak demikian dengan kondisi psikologisnya. ’’Aduh,ini hambatannya terlalu sulit. Pijakannya jauh-jauh.Kaki kita kayaknya nggak bakal nyampek ya?’’ujarnya.

Anitama pun kerap melontarkan ’’serangan’’ semacam itu kepada lawan sebelum bertanding. Sang lawan terkadang mulai berpikir dan terpengaruh. Akibatnya, permainan lawan sedikit berubah. Sementara itu, dengan kebulatan tekad, Anitama bisa mencapai puncak. Menatap papan panjatan dengan tenang dan optimistis.

Anitama sering berhasil menaklukkan lawannya dengan cara-cara psikis. Dia sering memegang kartu as tersebut hingga menjadi juara, dan kini akhirnya dipercaya menjadi pelatih. Banyak prestasi yang diukirnya. Dia dua kali menyabet emas dalam Pekan Olahraga Nasional (PON). Yakni, pada PON 2008 dan PON 2012.

Anitama tak lagi menjadi atlet panjat tebing. Kini dia berkecimpung di bidang pengolahan data bagian kepemudaan disparpora. Dia resmi tercatat sebagai PNS sejak 2014. Meski begitu, dia tidak ingin meninggalkan dunia panjat tebing. Dalam benaknya, dia selalu ingin berpartisipasi untuk mencetak atlet pewaris takhta juara.

Dia menuturkan, ada tanggung jawab yang diemban sebagai mantan atlet nasional. Misalnya, memperbaiki kualitas atlet. Baginya, hampir seluruh atlet mengalamimasalah yang sama saat ini. Yakni, krisis mental juara. Dia pun menaruh harapan besar untuk ikut membenahi masalahtersebut. ’’Yang paling saya tekankan pada atlet adalah mental juara,’’ tegasnya.

Selain di Smanor, alumnus IKIP Budi Utomo itu dipercaya menjadi pelatih pada pengcab panjat dinding Surabaya. Anitama juga kerap diminta melatih remaja yang tengah menjalani pemusatan latihan daerah Jawa Timur. Biasanya, hal itu dilakukan menjelang perhelatan PON. ’’Memasuki masa-masa itu, waktu saya dihabiskan untuk melatih atlet-atlet,’’ katanya.

Dia mengaku bahagia menjadi mantan atlet nasional sekaligus pelatih. Terlebih pada momen ketika bertemu dengan para atlet. Baik yang potensial maupun yang memanjat demi kesenangan. ’’Yang paling saya suka ketika melatih adalah melihat anak-anak kecil memanjat tebing. Biasanya, mereka memanjat tanpa beban dan tampak bebas,’’ jelasnya.

Perempuan kelahiran Surabaya itu menjadi atlet sejak lulus SMA. Ketika masih menjadi siswa SMAN 3 Surabaya, dia mengikuti ekstrakurikuler panjat dinding. Sejak saat itu, bakatnya terasah. Karirnya sebagai atlet profesional terus melonjak. Mulai tingkat lokal, regional, hingga nasional. ’’Lulus SMA sekitar tahun 2000. Saya menjadi atlet sekaligus membantu melatih,’’ ujarnya.

Menjadi pelatih susah-susah gampang. Menurut dia, sejatinya Indonesia dibanjiri atlet yang berpotensi. Dengan demikian, para atlet cukup mudah diarahkan. Namun, kesulitannya ada pada konsistensi atlet itu sendiri. Banyak atlet yang mudah patah harapan saat kalah. ’’Mudah putus asa,’’ katanya.

Tujuan masing-masing individu terkadang juga tak sama. Tidak banyak yang mendambakan podium juara pertama dengan berselimut bendera merah putih. Anitama pun bercerita soal kesuksesan merebut emas di event olahraga tertinggi nasional. Menjelang PON 2008, dia berlatih begitu gigih. Namun, nasib sial menimpa Anitama. Dia mengalami kecelakaan berat. Kakinya terkilir setelah jatuh dari ketinggian 2 meter. Ternyata, dampaknya sangat fatal.

Setelah kejadian itu, Anitama mengalami gangguan ketika berjalan. Selama lebih dari dua bulan, dia harus merasakan kondisi tersebut. Dia merasa ngilu bila melangkah. Saat itu, dia sempat patah harapan untuk mengikuti pertandingan tingkat nasional. Namun, dengan segenap kepercayaan diri, dia memutuskan untuk kembali berlatih tanpa menghiraukan rasa sakit. ’’Akhirnya bisa juara. Jadi, sekali lagi, kuncinya hanya dua. Meneguhkan mental atlet menjadi mental juara dan memupuk jiwa pengabdi bagi negara,’’ tegasnya. (*/c18/hud/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore