
PERLU DIREVITALISASI: Wardana di depan masjid kuno di Desa Adat Karang Bayan, Lombok Barat, Kamis (2/3).
Pulau Lombok terkenal dengan sejumlah desa adatnya. Tak kurang dari enam desa adat masih bertahan sampai sekarang. Sayang, salah satunya, Desa Adat Karang Bayan di Lombok Barat, kini terancam punah.
M. HILMI SETIAWAN, Lombok Barat
MESKI berlabel desa adat, Karang Bayan berada di kawasan yang mudah dijangkau. Jalan menuju ke sana cukup mulus. Beraspal. Sisi kanan dan kirinya dihiasi hamparan sawah yang mulai menguning. Mungkin satu–dua bulan lagi bisa dipanen.
Satu kilometer menjelang tiba di tujuan, banyak penjual buah-buahan di pinggir-pinggir jalan yang menyambut. Ada yang menjual durian, rambutan, pisang, manggis, dan sebagainya. Desa Karang Bayan memang dikenal sebagai penghasil buah-buahan di Lombok.
Desa Adat Karang Bayan yang masuk wilayah Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, merupakan basis penduduk suku Sasak. Pada dekade ’80-an sampai ’90-an, di desa itu masih banyak rumah berdinding kayu. Tapi, sekarang rumah-rumah tradisional tersebut sudah berubah bentuk menjadi rumah berdinding batu bata. Untuk menuju pusat desa itu, pengunjung mesti menyusuri jalan setapak yang menanjak berjarak sekitar 100 meter.
Penduduk Karang Bayan dulu dikenal sebagai penganut Islam Waktu Telu. Mereka mengerjakan salat hanya dalam tiga waktu, bukan lima waktu sebagaimana lazimnya umat Islam. Yakni saat duhur, asar, dan magrib. Islam di sana berakulturasi dengan Hindu sehingga banyak produk budaya Karang Bayan yang berbau dua agama itu.
Penduduk Karang Bayan percaya bahwa mereka masih satu nenek moyang dengan orang Bayan yang ada di Kabupaten Lombok Utara. Sebab, bentuk bangunan rumah maupun masjidnya mirip dengan yang ada di Desa Adat Bayan, Lombok Utara.
Saat ini bangunan asli peninggalan nenek moyang warga Karang Bayan yang tersisa tinggal empat buah. Di antaranya dua masjid kuno dan sebuah ruang dapur yang berada di dalam pagar bambu. Ukuran masjid yang dipercaya berdiri sejak 400 tahun lalu itu sekitar 6 x 8 meter.
Bangunan masjid kuno Karang Bayan cukup unik. Fondasi sekaligus lantainya cukup tinggi, hampir 2 meter. Terbuat dari tanah lempung dan batu gunung. Meskipun tidak menggunakan semen, fondasi bangunan masjid tersebut masih kukuh sampai sekarang. Setiap sore masjid khas suku Sasak itu digunakan anak-anak untuk mengaji. ”Yang diganti hanya atapnya yang dari jerami ilalang itu,” kata Wardana, warga setempat, Kamis (2/3).
Pria 40 tahun tersebut menceritakan, juru kunci masjid kuno Karang Bayan selama ini bernama Nuarsah. Namun, baru sekitar satu bulan lalu, Nuarsah meninggal dunia. Sampai sekarang tokoh masyarakat setempat belum menunjuk juru kunci masjid yang baru.
Wardana menambahkan, masjid itu memiliki dapur untuk memasak ramai-ramai jamaah saat ada acara-acara keagamaan. Misalnya perayaan Maulid Nabi, tahun baru Islam, atau saat buka puasa dan Idul Fitri.
Diakui, masjid kuno di Karang Bayan tidak begitu luas. Bangunan masjid tersebut hanya bisa menampung 30 orang. Sedikitnya jamaah di masjid itu antara lain disebabkan ukuran masjid yang kecil. Karena itu, jamaah yang datang ke masjid umumnya orang-orang yang memiliki pemahaman agama yang tinggi. Masyarakat umum menjalankan ibadah di pelataran masjid.
Tidak jauh dari masjid kuno, ada sebuah rumah adat Karang Bayan yang masih berdiri kukuh. Rumah utama berukuran 7 x 10 meter. Lantainya cukup tinggi. Sekitar 2 meter dari tanah. Untuk mencapai ruang utama, pengunjung harus menaiki anak tangga. ”Bangunan kuno di sini umumnya tinggi-tinggi,” ucap Wardana.
Bapak empat anak itu menjelaskan, ada alasan khusus rumah adat Karang Bayan dibuat tinggi. Antara lain untuk menghindari binatang-binatang liar seperti ular atau macan. Kemudian, rumah berfondasi tinggi tersebut juga aman saat banjir menggenang.
Wardana menjelaskan, saat ini rumah utama adat Karang Bayan ditinggali Nenek Merti. Dia dipercaya sebagai generasi keenam pendiri Kampung Karang Bayan. Suami Merti yang bernama Darsani sudah lama meninggal. ”Nenek Merti usianya sudah 90 tahun. Tinggal sendirian. Saya adalah anak angkatnya,” jelas pria kelahiran 1970 itu.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
