
LAYAKNYA WARGA MERDEKA: Petugas pembina keagamaan Lapas Kelas II-A Sidoarjo M. Rifai (berdiri) bersama anggota kelompok At-Taubah Kamis (16/2) di masjid lapas.
Kegiatan keagamaan di penjara bukan hanya pengajian. Para penghuni bui itu juga bermain musik. Mereka dapat mengaktualisasikan kemampuan dan kecintaan seni hadrah al banjari melalui proses pembelajaran setiap hari.
MAYA APRILIANI
MUSIK hadrah al banjari dari Masjid At-Taubah Lapas Kelas II-A Sidoarjo terdengar nyaring. Perpaduan nada-nada dari berbagai terbang (rebana) yang dimainkan para narapidana (napi) menghasilkan irama yang merdu. Suara empat napi di bagian vokal yang mengumandangkan salawat menambah syahdu.
Ratusan peserta pengajian mendengarkan hadrah itu dengan sepenuh hati. Mereka ikut menyanyi. Bahkan, para pembesuk yang datang ke lapas Kamis (16/2) pagi juga bisa mendengarkan musik dan lagu yang menenangkan hati.
Tidak sedikit anak kecil yang berkunjung ke penjara ikut menggoyangkan badan. Setelah menari, anak-anak yang masih lugu itu tertawa. Mereka begitu bergembira. Kegembiraan serupa dirasakan oleh para pemaian hadrah. Para napi dari berbagai latar belakang tindak pidana tersebut seolah tidak lelah memainkan rebana. Duduk berhadapan dengan para penghuni yang mengikuti pengajian, mereka memamerkan kepiawaiannya.
Saat memainkan rebana, tubuh para pemain pun bergoyang. Bahkan, ada yang sampai memejamkan mata sebagai tanda menghayati setiap nada. Jamianto, napi kasus laka lantas, yang menabuh rebana larut dalam permainan musik yang tercipta.
”Dulu, di luar (penjara) saya tidak bisa main begini sama sekali,” ucap pria 49 tahun itu. Saat belum masuk bui, napi yang divonis penjara 1,5 tahun tersebut hanya melihat dan mendengarkan hadrah. Biasanya, pada acara pernikahan atau khitanan. Sering juga didengar saat ada pengajian.
Ketika melihat kesenian tersebut, dia merasa tertarik. Tapi, belum ada rencana memainkannya. Napi yang baru lima bulan di lapas itu sibuk bekerja. Baru saat masuk penjara, dia bisa belajar. Sekarang dia masuk kelompok inti hadrah al banjari At-Taubah Lapas Delta.
Tugasnya memainkan salah satu rebana. Ketukannya sederhana. ”Satu ketukan seperti ini,” katanya, lantas mempraktikkan nada rebana yang menjadi tugasnya. Meski terlihat sederhana, Jamianto masih sering bingung.
Permainannya juga tidak selamanya mulus. Kendala masih tetap ada. Salah satunya adalah ketukan yang tidak seragam antara satu pemain dan pemain lainnya. Akibatnya, irama rebana tidak enak didengar.
Para pemain pun sadar dengan ketidakseimbangan permainan tersebut. Solusinya, pemain yang ketukannya salah harus menghentikan sejenak permainannya. Kemudian, dia memulai permainan lagi untuk menyelaraskan dengan permainan rebana rekan-rekannya.
Lukman Hakim, pemain hadrah lainnya, mengakui bahwa memainkan rebana tidak semudah seperti yang dilihat. Yang paling susah adalah mengepaskan ketukan. ”Tiap-tiap ketukan menghasilkan nada yang berberda,” kata napi narkoba tersebut.
Ketukan jari telunjuk dan jari tengah pun menghasilkan suara yang berbeda. Termasuk, ketukan pada rebana dengan jari-jari rapat ataupun renggang tidak bisa disamakan. Posisi ketukan pada bagian rebana, seperti di pinggir atau di tengah, juga menghasilkan perbedaan nada dan suara. ”Jadi, harus benar-benar paham,” lanjut pria yang divonis pidana penjara lima tahun dan enam bulan kurungan untuk hukuman pengganti denda itu.
Tidak sekadar paham, para pemain juga harus menerima ”risiko” belajar rebana. Salah satunya, jemari terasa sakit ketika baru mulai memainkan rebana. ”Abang-abang (merah-merah). Terus, kapalan,”sambung Aditya Nanda P., napi kasus pencabulan yang menjadi anggota aktif tim hadrah al-banjari.
Merahnya jari dan rasa sakit tidak menghalangi para napi untuk terus belajar. Mereka tetap memantapkan niat untuk memainkan musik di bui. Permainan tersebut merupakan wujud kecintaan pada agama dan budaya. Sekaligus sarana untuk menghibur diri.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
