Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 17 Februari 2017 | 18.19 WIB

Eksistensi Kelompok Hadrah At-Taubah di Bui, Tangan Merah dan Kapalan Tetap Senang

LAYAKNYA WARGA MERDEKA: Petugas pembina keagamaan Lapas Kelas II-A Sidoarjo M. Rifai (berdiri) bersama anggota kelompok At-Taubah Kamis (16/2) di masjid lapas. - Image

LAYAKNYA WARGA MERDEKA: Petugas pembina keagamaan Lapas Kelas II-A Sidoarjo M. Rifai (berdiri) bersama anggota kelompok At-Taubah Kamis (16/2) di masjid lapas.

Kegiatan keagamaan di penjara bukan hanya pengajian. Para penghuni bui itu juga bermain musik. Mereka dapat mengaktualisasikan kemampuan dan kecintaan seni hadrah al banjari melalui proses pembelajaran setiap hari.



MAYA APRILIANI



MUSIK hadrah al banjari dari Masjid At-Taubah Lapas Kelas II-A Sidoarjo terdengar nyaring. Perpaduan nada-nada dari berbagai terbang (rebana) yang dimainkan para narapidana (napi) menghasilkan irama yang merdu. Suara empat napi di bagian vokal yang mengumandangkan salawat menambah syahdu.


Ratusan peserta pengajian mendengarkan hadrah itu dengan sepenuh hati. Mereka ikut menyanyi. Bahkan, para pembesuk yang datang ke lapas Kamis (16/2) pagi juga bisa mendengarkan musik dan lagu yang menenangkan hati.


Tidak sedikit anak kecil yang berkunjung ke penjara ikut menggoyangkan badan. Setelah menari, anak-anak yang masih lugu itu tertawa. Mereka begitu bergembira. Kegembiraan serupa dirasakan oleh para pemaian hadrah. Para napi dari berbagai latar belakang tindak pidana tersebut seolah tidak lelah memainkan rebana. Duduk berhadapan dengan para penghuni yang mengikuti pengajian, mereka memamerkan kepiawaiannya.


Saat memainkan rebana, tubuh para pemain pun bergoyang. Bahkan, ada yang sampai memejamkan mata sebagai tanda menghayati setiap nada. Jamianto, napi kasus laka lantas, yang menabuh rebana larut dalam permainan musik yang tercipta.


”Dulu, di luar (penjara) saya tidak bisa main begini sama sekali,” ucap pria 49 tahun itu. Saat belum masuk bui, napi yang divonis penjara 1,5 tahun tersebut hanya melihat dan mendengarkan hadrah. Biasanya, pada acara pernikahan atau khitanan. Sering juga didengar saat ada pengajian.


Ketika melihat kesenian tersebut, dia merasa tertarik. Tapi, belum ada rencana memainkannya. Napi yang baru lima bulan di lapas itu sibuk bekerja. Baru saat masuk penjara, dia bisa belajar. Sekarang dia masuk kelompok inti hadrah al banjari At-Taubah Lapas Delta.


Tugasnya memainkan salah satu rebana. Ketukannya sederhana. ”Satu ketukan seperti ini,” katanya, lantas mempraktikkan nada rebana yang menjadi tugasnya. Meski terlihat sederhana, Jamianto masih sering bingung.


Permainannya juga tidak selamanya mulus. Kendala masih tetap ada. Salah satunya adalah ketukan yang tidak seragam antara satu pemain dan pemain lainnya. Akibatnya, irama rebana tidak enak didengar.


Para pemain pun sadar dengan ketidakseimbangan permainan tersebut. Solusinya, pemain yang ketukannya salah harus menghentikan sejenak permainannya. Kemudian, dia memulai permainan lagi untuk menyelaraskan dengan permainan rebana rekan-rekannya.


Lukman Hakim, pemain hadrah lainnya, mengakui bahwa memainkan rebana tidak semudah seperti yang dilihat. Yang paling susah adalah mengepaskan ketukan. ”Tiap-tiap ketukan menghasilkan nada yang berberda,” kata napi narkoba tersebut.


Ketukan jari telunjuk dan jari tengah pun menghasilkan suara yang berbeda. Termasuk, ketukan pada rebana dengan jari-jari rapat ataupun renggang tidak bisa disamakan. Posisi ketukan pada bagian rebana, seperti di pinggir atau di tengah, juga menghasilkan perbedaan nada dan suara. ”Jadi, harus benar-benar paham,” lanjut pria yang divonis pidana penjara lima tahun dan enam bulan kurungan untuk hukuman pengganti denda itu.


Tidak sekadar paham, para pemain juga harus menerima ”risiko” belajar rebana. Salah satunya, jemari terasa sakit ketika baru mulai memainkan rebana. ”Abang-abang (merah-merah). Terus, kapalan,”sambung Aditya Nanda P., napi kasus pencabulan yang menjadi anggota aktif tim hadrah al-banjari.


Merahnya jari dan rasa sakit tidak menghalangi para napi untuk terus belajar. Mereka tetap memantapkan niat untuk memainkan musik di bui. Permainan tersebut merupakan wujud kecintaan pada agama dan budaya. Sekaligus sarana untuk menghibur diri.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore