
MEMBAUR: Brigadir Arip Purwito mengagumi pelajaran disiplin yang diterapkan di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL).
Sangat jarang ada anggota polisi yang menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL). Sejak 1976, hanya 10 orang yang belajar di sekolah milik TNI-AL tersebut. Orang ke-10 itu adalah Brigadir Arip Purwito.
THORIQ S. KARIM
BISA jadi, STTAL menjadi dunia baru bagi Brigadir Arip Purwito saat resmi menjadi siswa pada 2014. Dia harus berbaur dengan lingkungan militer. Penyesuaian harus dilakukan agar bisa menjalankan tugas kedinasan itu. ”Penyesuaian terberat adalah kedisiplinan,” katanya. Polisi memang disiplin. Tapi, kedisiplinan militer lebih ketat. Menurut Arip, polisi merupakan aparat sipil yang dipersenjatai. Tugas utamanya menjaga keamanan dan ketertiban di masyarakat. Berbeda dengan TNI-AL, AU, maupun AD. ”Mereka bertanggung jawab pada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peperangan menjadi napas mereka,” ujarnya.
Arip masuk STTAL berawal dari surat yang diterima Polda Metro Jaya. Surat itu berisi tentang pembukaan pendaftaran sekolah kedinasan di STTAL. Polda Metro Jaya lalu melakukan perekrutan. Ada dua bintara dan empat perwira yang ditugaskan mengikuti seleksi tersebut. Hasilnya, hanya Arip yang lolos.
Pria kelahiran Nganjuk pada 1985 itu sempat kaget saat mengenyam pendidikan D-3 Teknik Informatika di STTAL. Maklum, tidak ada rekan satu satuan dengannya. Dari ratusan mahasiswa, hanya dia yang berstatus anggota Polri. ”Cukup asing dan merasa diasingkan,” kenang dia. Tradisi militer berbeda jauh dengan polisi. Hierarki kepemimpinan di kepolisian lebih santai. Tidak seperti di militer yang sangat dijunjung tinggi. ”Saat berpapasan dengan senior saja harus hormat,” imbuh dia.
Di kepolisian tidak seperti itu. Berpapasan dengan anggota yang lebih tinggi dianggap hal biasa. Bahkan, antara junior dan senior sering bercanda. Hierarki sudah pudar. ”Di sini, hierarki sangat kental. Saya pun harus menyesuaikan,” ujar suami Ita Eni Ernawati itu.
Tradisi itu terjadi setiap saat. Baik saat berada di kelas, di ruang makan, maupun di mes. Penuh kekakuan yang didasarkan pada hubungan junior-senior. Meski begitu, Arip tidak memandang negatif aturan tersebut. Sebaliknya, dia menjadikan semua itu pelajaran berharga.
Menurut bapak dua anak itu, penghormatan terhadap senior akan menambah rasa kebersamaan. para senior yang merasa dihormati akan lebih perhatian kepada juniornya. Sewaktu ada masalah, tanpa ada perintah, semua saling membantu.
Di STTAL, pria yang bergabung di satuan kepolisian pada 2006 itu mengambil D-3 teknik informatika. Jurusan itu sesuai dengan tugas sewaktu berdinas di Polda Metro Jaya. Arip menjadi salah satu anggota Tim Teknologi Informasi Polda Metro Jaya. Ilmu yang dia serap di lembaga tersebut sesuai dengan pekerjaan. ”Banyak teori yang bisa menjadi modal untuk diaplikasikan,” kata pria yang pernah bercita-cita menjadi anggota TNI-AU itu.
Teori tersebut menjadi bekal dia saat kembali bertugas nanti. Arip juga mulai merancang berbagai penelitian yang menunjang kebutuhan Polri. Itu dilakukan karena satuan yang menugaskannya adalah kepolisian. ”Teman dari TNI-AL akan membuat penelitian yang berhubungan dengan kapal perang,” ujarnya.
STTAL menjadi ladang ilmu dan wawasan baginya. Bukan hanya aspek akademik, tradisi dan kehidupan di lingkungan STTAL juga memberi pengalaman luar biasa. Kedisiplinan yang selama ini dianggap seram ternyata membawa banyak nilai positif. ”Ada kehidupan baru yang banyak nilai positifnya,” ucapnya.
Arip berharap Polri juga memiliki lembaga pendidikan akademik. Selama ini, lembaga pendidikan Polri menitikberatkan pada kepemimpinan. Misalnya, Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Siswa di tempat tersebut dipersiapkan menjadi pemimpin.
Apabila ada anggota yang ingin mengembangkan aspek akademik, mereka belajar di perguruan tinggi lain. Misalnya, Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, dan perguruan tinggi negeri lain. Arip mengatakan, apabila Polri memiliki lembaga pendidikan bidang akademik, pasti banyak anggota yang berminat untuk belajar. ”Mereka tidak perlu belajar ke kampus lain, cukup di kampus milik kepolisian,” ungkap dia.
Sayangnya, hingga kini belum ada rencana pengembangan pendidikan kampus di internal kepolisian. Padahal, banyak materi yang bisa diajarkan. Misalnya, hukum militer, hukum pidana, dan materi penyidikan. Mahasiswa pun beragam, baik internal kepolisian, polisi militer TNI-AD, TNI-AL, maupun TNI-AU.
Bahkan, tidak tertutup kemungkinan dari penyidik pegawai negeri sipil (PPNS). Mereka membutuhkan ilmu tentang metode penyelidikan, penyidikan, serta pengetahuan tentang hukum. ”Kebutuhan itu seharusnya bisa difasilitasi satuan kepolisian,” ucapnya. (*/c6/oni/sep/JPG)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
