Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 19 Januari 2017 | 03.48 WIB

Prof Afaf Baktir Temukan Formula untuk Menghalau Biofilm dalam Usus

RUANG PENELITIAN: Prof Afaf Baktir sedang memasukkan cawan petri ke alat shaker yang berfungsi menggoyang cawan di laboratorium biokimia Fakultas Sains dan Teknologi Unair. - Image

RUANG PENELITIAN: Prof Afaf Baktir sedang memasukkan cawan petri ke alat shaker yang berfungsi menggoyang cawan di laboratorium biokimia Fakultas Sains dan Teknologi Unair.

Prof Afaf Baktir mengurai pengaruh biofilm dalam sebuah penelitian. Kini formula besutannya mampu menjadi solusi melawan penyakit.



OKKY PUTRI RAHAYU



TELAH tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Itulah penggalan ayat surat Ar-Ruum: 41 dalam Alquran. Ayat itu dijadikan alasan awal Prof Afaf Baktir untuk bergelut mencari solusi lewat penelitian yang digarapnya selama tujuh tahun terakhir.


Guru besar Universitas Airlangga di bidang ilmu biokimia itu merasa prihatin terhadap geliat aktivitas manusia belakangan ini. Menjamurnya kendaraan bermotor hingga melejitnya era industri telah berimbas pada polusi dan limbah yang berpeluang meracuni tubuh.


Meningkatnya penyakit-penyakit degeneratif seperti autis, kanker, dan diabetes membuat Afaf berpikir dari segi yang berbeda. Kala itu, 2010, Afaf menggagas hipotesis tentang peran biofilm Candida spp dalam munculnya penyakit-penyakit tersebut.


Mikroorganisme tersebut bahkan tinggal di usus manusia yang sehat sekalipun. Artinya, mikroba itu tidak beracun. Ia justru membantu proses pencernaan. Seharusnya tidak berbahaya.


Tadinya Afaf berpikir hal serupa. Namun, keanehan terjadi pada mikroba tersebut. Pertumbuhan Candida yang tidak terkendali (overgrowth Candida) ditengarai sebagai mata rantai yang terabaikan dalam peningkatan penyakit degeneratif. Ternyata, mikroba itu dapat membentuk biofilm akibat kontak dengan zat-zat beracun dari lingkungan yang masuk ke dalam usus melalui mulut. Dalam bentuk biofilm, mikroorganisme tersebut menghasilkan sisa metabolisme beracun yang terdistribusi ke darah. Organ tubuh pun terganggu.


Lalu, apa biofilm itu? ”Seperti kotoran putih yang nempel di gigi,” ujar Afaf. Jika diamati tanpa mikroskop, biofilm hanya berupa lapisan putih. Seolah tidak berpotensi meracuni. Tapi, ketika diamati dengan mikroskop elektron, penggambarannya sangat jelas. Mirip kerumunan bulir-bulir jeruk yang melekat satu sama lain.


Kemampuan membentuk biofilm oleh Candida adalah salah satu upaya melindungi diri. Polutan dari luar tubuh justru mendorong mikroba itu untuk membentuk biofilm. Sebuah fenomena yang menarik untuk diungkap lebih dalam menurut Afaf.


Sel Candida sendiri tidak dapat menembus usus menuju sirkulasi darah. Sistem imun dalam tubuh tidak mengizinkan ia memasuki sirkulasi darah. Namun, dalam bentuk biofilm, mikroba itu dapat melepas sisa pencernaan yang dihasilkannya ke sirkulasi darah. Akibatnya, racun tersebut menyebar ke organ dalam tubuh manusia.


Senyawa toksik tersebut kemudian mengganggu kerja organ. Hingga terjadi penurunan fungsi organ secara perlahan-lahan. Senyawa toksik yang mampu dihasilkan Candida itu meliputi etanol, formaldehida, asetaldehida, D-arabinitol, dan asam-asam organik berbahaya seperti asam tartarat.


Lepasnya formaldehida atau yang beken dengan nama formalin ke tubuh berisiko kanker karena sifatnya karsinogen. Bahan toksik Candida juga mampu mengakibatkan penyakit autis. Maka tak heran, Candida banyak ditemukan dalam tubuh penyandang autisme. Kandungannya dapat dilihat dalam feses maupun urine.


Penelitian Afaf dimulai dari salah seorang keponakannya yang menyandang autisme. Pada suatu hari, keponakan itu datang ke rumahnya dalam keadaan tidak seperti biasanya. Hampir seluruh rongga mulutnya penuh Candida. Atau seperti sariawan yang memenuhi seluruh bagian rongga mulut hingga lidah.


’’Dugaan saya, itu Candida. Tapi, kok itu bisa mengadakan kolonisasi di rongga mulut sebanyak itu,” ujar dosen di Fakultas Sains dan Teknologi Unair tersebut.


Setelah ditelusuri, penyebabnya adalah penggunaan obat antijamur yang dikonsumsi sang keponakan selama dua pekan. Afaf langsung menduga, Candida itu jika diberi obat pada kondisi fisik tertentu justru membentuk biofilm yang tidak terkendali.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore