Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 17 Januari 2017 | 22.43 WIB

Ifan Anugrah Setiawan, Pelari Muda Pemecah Rekor ASEAN

CALON ATLET DUNIA: Ifan melakukan sprint dalam salah satu sesi latihan. - Image

CALON ATLET DUNIA: Ifan melakukan sprint dalam salah satu sesi latihan.

Lari sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari Ifan Anugrah Setiawan. Selama delapan tahun terakhir, remaja 16 tahun itu menekuni atletik. Berbagai prestasi telah diraih. Terakhir, dia berhasil memecahkan rekor se-ASEAN.



SEPTINDA AYU PRAMITASARI



IFAN Anugrah Setiawan masih ingat betul kemenangannya di event 8th ASEAN Schools Games (ASG) di Chiang Mai, Thailand, pada pengujung Juli 2016. Tidak hanya menyabet medali emas, dia juga memecahkan rekor ASEAN di cabang olahraga atletik kategori lari 400 meter. Catatan waktunya adalah 47,87 detik.


’’Berlari. Berlari. Berlari. Tidak ada yang saya pikirkan lagi selain berlari sekencang-kencangnya,’’ ungkapnya, Senin (16/1).


Prestasi itu memang sangat mengejutkan. Betapa tidak, selama enam tahun belakangan, rekor ASG masih dipegang atlet atletik dari Malaysia Amir Fikri bin Ismail. Catatan waktunya 47,90 detik. Sudah sepantasnya Ifan merasakan kebanggaan yang luar biasa atas pencapaiannya tersebut.


Menjadi jawara dalam ajang internasional bukan kali pertama dicapai Ifan. Sebelumnya, putra pasangan Afandi dan Ida Prasetyawati itu menyabet medali perak di event 7th ASG di Brunei Darussalam 2015. Dia didapuk oleh menteri pemuda dan olahraga (Menpora) untuk mewakili Indonesia sebagai atlet lari kategori remaja.


Tahun ini Ifan juga telah ditunjuk untuk mewakili Indonesia dalam ajang ASG di Singapura untuk cabang olahraga atletik lari. Dia berlomba pada Juli mendatang. Dia juga dipilih Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) pusat untuk maju ke Southeast Youth Athletic Championship 2017 di Filipina pada Maret. ’’Tahun ini saya ingin kembali menang,’’ tegas remaja 16 tahun tersebut.


Menjadi atlet lari nasional memang menjadi impian Ifan sejak kecil. Tampaknya, darah atlet orang tuanya mengalir deras di dalam diri Ifan. ’’Ayah kebetulan dulu atlet lari dan renang. Ibu atlet lompat tinggi. Jadi, saya memang terlahir dari keluarga atlet,’’ bebernya.


Ifan menceritakan, dirinya menekuni olahraga lari sejak kelas II SD. Awalnya, dia hanya diajak ayahnya untuk joging keliling kampung di Desa Buduran. Olahraga rutin itu terus dilakoni bersama ayahnya. Ifan pun menikmatinya. ’’Nyaman dan mengasyikkan,’’ katanya.


Menurut Ifan, orang tuanya sama sekali tidak pernah memaksa dirinya menjadi seorang atlet lari. Namun, dia sadar bahwa ayahnya mencoba untuk mengenalkan dunia lari kepadanya dengan cara yang ’’lembut’’. Mulai membelikan Ifan sepatu lari hingga baju olahraga. Hal itu ternyata benar-benar mampu memancing semangatnya untuk berlatih lari.


Ketika duduk di bangku kelas IV SD, Ifan diajak sang ayah berlari di GOR Sidoarjo. ’’Tiba-tiba senang setiap lari di GOR. Akhirnya, saya masuk ke klub lari di Sidoarjo,’’ ujarnya.


Berbagai perlombaan pun diikuti. Mulanya hanya tingkat kabupaten, lalu naik ke level Jawa Timur. Prestasi demi prestasi diraih. Semakin lama menekuni lari, Ifan merasa semakin jatuh hati. Saat duduk di bangku SMP, karir Ifan di dunia lari semakin moncer. Pada 2014, misalnya, dia menyabet medali emas dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja tingkat nasional. Tahun berikutnya, dia menyabet juara I Kejurnas Atletik dan juara I dalam Pekan Olahraga Pelajar (POP) Nasional 2015.


’’Hampir setiap event saya dikirim untuk cabang atletik lari,’’ tutur anak sulung dua bersaudara itu. Dari hari ke hari, Ifan mengaku semakin ketagihan dengan atletik. Tanpa ragu, dia memutuskan untuk menekuninya. ’’Ayah dan ibu sangat senang. Sebab, ada yang menjadi penerus atlet,’’ ujarnya, lantas tertawa.


Selama ini, beber dia, orang tuanya berperan penting terhadap kesuksesan karirnya sebagai atlet lari. Ayahnya bertugas sebagai manajer pribadi. Mengatur jadwal latihan hingga lomba yang akan diikuti. Sementara itu, sang ibu mengatur pola makan sehari-hari. ’’Saya memiliki kehidupan yang berbeda dengan pelajar lain. Makan saya sudah diatur dan punya jadwal latihan setiap hari,’’ kata Ifan.


Jadwal latihan lari yang padat memang harus diimbangi dengan kondisi tubuh yang fit. Setiap hari, Ifan sudah terbiasa hanya sarapan buah-buahan dan sayur-sayuran. Siang, dia makan nasi merah dan sorenya kembali menyantap menu sehat. Ketika bersekolah, dia kerap membawa bekal untuk menghindari makanan yang kurang sehat.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore