Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 12 Januari 2017 | 15.15 WIB

Perjalanan Film Animasi Gob and Friends Karya Arek Suroboyo

ANAK MUDA KREATIF: Tim Hompimpa Animation Studio berpose bersama. Mereka sedang mengerjakan 91 eposide Gob and Friends yang akan tayang di televisi. Film animasi itu digarap dengan teknologi motion capture. - Image

ANAK MUDA KREATIF: Tim Hompimpa Animation Studio berpose bersama. Mereka sedang mengerjakan 91 eposide Gob and Friends yang akan tayang di televisi. Film animasi itu digarap dengan teknologi motion capture.


Tidak mudah membuat film animasi 3 dimensi. Apalagi dengan kualitas yang dapat menandingi film animasi garapan luar negeri. Namun, dari sebuah kegagalan, 30 arek Suroboyo menciptakan film Gob and Friends. Saat ini film tersebut dapat dinikmati di Indosiar.



BRIANIKA IRAWATI



SUATU siang di taman Manggis Town, Mrs Neil sedang asyik membuka bingkisan berisi cupcake. Sebelum dimakan, Mrs Neil ingin memotretnya dengan handphone kesayangannya yang berwarna merah muda. Saat telah siap mengambil foto, tiba-tiba Gob, sesosok kerbau, muncul dalam frame foto Mrs Neil.


Satu kali jepret, Gob muncul dari semak-semak. Dua kali ambil foto, Gob semakin mendekat. Badan Gob yang besar mendominasi frame. Semakin lama, semakin dekat. Dengan usilnya, Gob mengambil cupcake milik Mrs Neil. Melihat hal tersebut, Mrs Neil marah. Mukanya garang. Dia lantas mengejar Gob yang membawa cupcake-nya. ”Errrgghhh,” geram Mrs Neil.


Gob berlari kencang. Begitu juga Mrs Neil yang mengejarnya. Di tengah jalan, muka Gob tampak kaget. Ada lubang saluran air yang sedang diperbaiki. Gob berupaya mengerem laju larinya. Gob berhasil berhenti, namun cupcake yang dibawanya terlempar ke dalam lubang.


Melihat itu, Mrs Neil semakin cepat berlari untuk menangkap cupcake tersebut. Tapi, keberuntungan berpihak kepada Gob. Mrs Neil jatuh ke lubang saluran air. Sementara itu, cupcake terpental keluar dan langsung ditangkap Gob. Kerbau tersebut langsung memakannya dan pergi meninggalkan Mrs Neil yang marah.


Kelucuan cerita tersebut dapat disaksikan dalam serial film animasi 3 dimensi Gob and Friends di televisi setiap Sabtu dan Minggu pukul 08.30. Saat melihat teknologinya, film animasi itu layak disejajarkan dengan film garapan luar negeri. Lihat saja film Final Fantasy. Atau film The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn. Mereka sama-sama menggunakan teknologi motion capture (mo-cap).


Melalui teknologi tersebut, gerak-gerik seorang aktor akan dipindai. Titik-titik gerakan itulah yang lantas direkam dan diwujudkan lewat wujud animasi. Sama seperti tatkala Andy Serkis ”memainkan” Gollum dalam saga The Lord of the Ring. Atau saat dia menjadi monyet raksasa dalam film King Kong. Atau tatkala Andy berubah wujud menjadi Caesar dalam seri The Planet of the Apes. Juga saat Benedict Cumberbatch menjadi si naga Smaug dalam film The Hobbit: The Desolation of Smaug pada 2013.


Dan Surabaya patut berbangga hati. Film 3D Gob and Friends adalah karya arek Suroboyo. Yakni, besutan Hompimpa Animation Studio Surabaya.


Selalu ada perjuangan di balik keberhasilan. Ya, tim produksi Gob and Friends harus melewati jatuh-bangun dalam pembuatan film animasi tersebut. Bukan hal mudah. Mereka pernah ditolak beberapa stasiun TV. Ada juga anggota yang keluar-masuk lantaran putus asa. Kebutuhan biaya yang besar membuat tim sempat vakum.


Hanya semangat ingin menumbuhkan film animasi Indonesia lah yang menguatkan mereka. ”Perjalanan kami sangat panjang untuk sampai seperti saat ini,” ujar Risma Suherja, founder Hompimpa Animation Studio.


Cerita berawal pada 2014. Gob and Friends kali pertama digarap dengan judul Manggis Town. Sebuah kota yang dihuni delapan karakter hewan dengan ciri khas masing-masing. Gob (si kerbau yang usil dan nakal) menjadi pemeran utama. Lalu, ada Jeki dan Ben (bebek yang kreatif). Yang lain adalah Pak Gori (seekor gorila yang berprofesi sebagai polisi), ChaCha (kucing yang cantik), Mrs Neil (tante siput yang endel), Wak Kura (bapak kura- kura yang lamban), dan Bebi (bayi bebek yang usil).


Manggis Town sempat dibuat dalam dua episode. Namun, langsung berhenti lantaran teknologi yang dirasa kurang tepat. Tapi, mereka tidak lantas mandek grek. Tim Hompimpa terus melakukan riset untuk menghasilkan karya film animasi yang layak dipublikasikan di Indonesia.


Waktu silih berganti. Setahun kemudian, mereka memutuskan untuk kembali lagi. Dengan nama baru dan teknologi lebih canggih. Muncullah judul Gob And Friends. Nama tersebut, lanjut dia, menjadi sebuah harapan agar film animasi itu dapat lebih dikenang oleh masyarakat.


Selain itu, mereka mulai menggunakan teknologi mo-cap. ”Itu tampak pada hasil gambarnya,” ungkap pria 29 tahun tersebut. Dengan terobosan baru itu, semangat mereka semakin besar. Dalam beberapa bulan, mereka dapat menyelesaikan 22 episode Gob and Friends. Satu episode film berdurasi 8 menit.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore