
TAK SURUT: Aan memperlihatkan batu akik yang menembus pasar internasional.
Pasar batu alam mulai surut. Akibatnya, banyak perajin gulung tikar. Tetapi, masih ada yang memilih bertahan.
ZAKI JAZAI, Trenggalek
SEKITAR pukul 12.30 WIB kemarin (10/1), Jawa Pos Radar Trenggalek mengunjungi sebuah kafé di wilayah Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek. Karena waktu istirahat siang bagi mayoritas pekerja, hampir semua tempat di lokasi tersebut dipenuhi pelanggan.
Namun, suasana berbeda justru terlihat di sudut kafé tersebut. Tampak di sana dua pria seperti berdiskusi mengenai batuan akik yang dipegang.
Bukan hanya itu. Di meja depan dua orang pria tersebut juga terdapat puluhan batu akik dengan berbagai bentuk dan corak. Ya, dua orang itu Aan Yuli Prastyo, pedagang batu akik, bersama seorang rekannya. Mereka sedang berdiskusi mengenai batu akik kerajinannya.
’’Mari bergabung. Inilah kegiatan kami jika sedang berkumpul. Kendati tidak booming lagi, kerajinan batu akik tidak ada matinya,’’ tuturnya.
Setelah itu, sambil menunjukkan contoh batu akik hasil kreasinya, Aan menerangkan mengenai kegiatannya tersebut. Dia tertarik kerajinan batu akik sejak kecil.
Pada usia 10 tahun, Aam tertarik dengan corak bagus di beberapa batuan, terutama yang ditemukan saat bermain di sungai sekitar rumah. Bahkan, tidak jarang bebatuan yang dianggap bagus dibawa pulang untuk dikoleksi.
’’Semula hanya karena tertarik, hingga akhirnya sekitar September 2014 saya mulai menekuni kerajinan ini,’’ ujarnya.
Keinginnanya menekuni kerajinan batu akik itu mulai berbuah ketika batuan tersebut booming sekitar awal 2015 . Saat itu banyak pesanan dari masyarakat yang ingin memiliki batu akik buatannya hingga dia kewalahan memenuhi.
Untuk melayani seluruh pesanan, lanjut Aan, dirinya mempekerjakan tiga karyawan di rumahnya. Tugasnya, memoles batu akik, membantu membeli bahan baku, hingga memilih corak batu yang bagus. Sayang, lambat laun gaung batu akik memudar. Tiga pekerjanya tersebut pergi dan memilih mendirikan usaha sendiri.
Kendati demikian, meredupnya peminat batu akik tidak membuat putus asa Aan. Dia terus berinovasi agar karyanya yang berbahan bebatuan dari pegunungan wilayah Trenggalek itu tetap digandrungi peminat. Alhasil, kini dia lebih jeli memilih pola atau corak pada batu agar diminati masyarakat luas.
Sebab, ucap Aan, selera masyarakat mengenai corak batu saat ini ketimbang booming dahulu berbeda. Dahulu masyarakat cenderung memilih batu yang kelihatan mengilap. Kini selain mengilap, tambah dia, corak pada batu harus memiliki arti. Misalnya, pemandangan, gambar hewan, dan akivitas manusia.
Batu yang dia gunakan sekarang masih batu dari pegunungan Trenggalek. Misalnya, jenis mosagate dan chalsedony. Pemilihan corak pada batu dimulai setelah batu bongkahan didapat dari penambang.
Setelah itu, batu bongkahan itu dipotong dengan berbagai ukuran. Setelah bongkahan batu tersebut dipotong, dipilih corak yang bagus. Kemudian, batu tersebut dipoles untuk dijadikan batu akik maupun liontin.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
