Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 17 Oktober 2018 | 21.50 WIB

Impian 2 Desainer Tunarungu Setelah Tampil di Panggung Internasional

Putri Permata Sari didepan mesin jahit di Kediamannya di Cikini Jakarta Pusat, (21/9) - Image

Putri Permata Sari didepan mesin jahit di Kediamannya di Cikini Jakarta Pusat, (21/9)

Keikutsertaan di Jakarta Modest Fashion Week sangat mengangkat kepercayaan diri Ninik dan Puput. Kini mereka ingin bisa memasukkan karya ke department store dan, lebih jauh lagi, pasar internasional.


ANISATUL UMAH, Jakarta


---


KILAT blitz puluhan fotografer, juga sorot warna-warni lampu laser, masih terekam jelas dalam ingatan Sri Indriani Noersetyaningsih. Begitu pula aplaus meriah di atrium Gandaria City, Jakarta. Yang tak bisa dia dengar, tapi bisa dia tangkap lewat ekspresi ratusan orang di sana. Yang memaksa matanya berkaca-kaca.


"Saya terharu, bangga juga," kata perempuan yang akrab disapa Ninik tersebut dengan terbata-bata.


Hari itu, 28 Juli 2018, Ninik, seorang desainer tuli (lebih senang disebut demikian ketimbang tunarungu), melihat karya busananya diperagakan dengan apik. Oleh rekan-rekannya sesama penyandang disabilitas. Dalam sesi Dream and Design for Disabilities yang merupakan bagian dari Jakarta Modest Fashion Week itu.


Sebagian duduk di kursi roda. Ada juga yang memakai kruk untuk menopang kaki. Ada yang memiliki satu lengan. Dua di antaranya adalah atlet renang peraih emas ASEAN Para Games 2017 di Kuala Lumpur, yakni Laura Aurelia Dinda dan Nor Aimah.


Modest Fashion Week yang menampilkan banyak busana muslim itu sebelumnya diselenggarakan di tiga metropolitan dunia. Masing-masing Istanbul Modest Fashion Week pada Mei 2016, London Modest Fashion Week pada April 2017, dan Dubai Modest Fashion Week pada Desember 2017. Ajang tersebut dimotori Franka Soeria, pengusaha mode dari Indonesia yang bermukim di Istanbul, Turki.


Kebanggaan serupa dirasakan oleh desainer tuli lainnya, Putri Permata Sari. Meski, di antara lima desain yang dia ajukan, hanya satu yang bisa tampil dalam ajang yang sama.


"Senang sekali rasanya," katanya.


Meraih kebanggaan dalam ajang internasional tersebut merupakan buah kegigihan panjang keduanya. Melawan kekurangan diri sendiri. Menepis keraguan banyak orang.


Saat berkomunikasi, Ninik selalu fokus membaca gerak bibir lawan bicara. Lalu, menjawab pertanyaan dengan kalimat yang terbata-bata. Sesekali kakinya menyenggol-nyenggol kucing berbulu cokelat yang dia pelihara.


Dia pun lantas mengingat-ingat awal perkenalannya dengan dunia desain. Itu dimulai saat dia masuk Jurusan Desain Akademi Seni Rupa dan Desain Institut Sarjana Wanita Indonesia (Asride ISWI) Jakarta pada 1989. Setelah lulus pada 1992, perempuan kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 50 tahun silam tersebut sempat bekerja sebagai desainer di PT Arbo Nasional.


Sebenarnya, perempuan yang tuli sejak lahir tersebut ingin membuka butik sendiri. Namun, karena terkendala biaya, dia memulai usaha dengan membuka jasa jahit di rumahnya.


"Saya sejak kecil memang suka bikin kerajinan," ujar Ninik yang sejak kecil sering berpindah mengikuti penugasan ayahnya yang merupakan polisi.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore