
MLEINTAS BATAS: Didi Kempot saat tampil di Jazz Gunung 2019 di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)
Photo
DOMINGGUS ELCID LI,.Sosiolog, pendengar Didi Kempot, tinggal di Kupang, NTT
Berbeda Bukan untuk Dibunuh
’’Sekecil apa pun duit ngamen yang saya terima, duit itu hasil dari lagu saya. Saya tidak menyanyikan lagu orang lain,” tutur Didi Kempot ketika ditanyai Andi F. Noya tentang sejarahnya mencipta.
Jika dibahasakan dengan cara lain ’’Sekecil apa pun hasil tanah kami, itulah hasil dari tangan kami”. Rasa kedaulatan yang dinyanyikan dengan bahagia oleh Didi, kami mengerti.
Jauh di relung hati Didi, kehadiran bahasa Indonesia yang menjadi bahasa nasional sekaligus bahasa persatuan tidak serta-merta menggantikan bahasa sehari-harinya. Rasane wong sing patah atine ra iso dinasionalke (rasa orang patah hati tidak bisa dinasionalkan).
Kekhususan itu dimengerti dengan baik oleh Didi. Dia bahkan memberi nama setiap tempat perjumpaan sekaligus perpisahan. Entah Stasiun Balapan, entah Solo, entah Wonosari. Lokasi-lokasi itu jelas disebutnya.
Setiap orang berasal dari suatu tempat. Ada rumahnya. Kecuali mereka yang menolak pulang. Dalam pengertian itu, ’’mudik” sebagai sebuah ritus bisa dimengerti.
Di Timor misalnya, anak-anak kota sering kali tidak bisa pulang ke kampung. Sebab, orang tuanya tidak mengajarkan bahasa nenek moyang.
Melampaui Samudra, Tak Pernah Ambyar
Memang hanya sedikit orang yang bisa mengerti keinginan atau rasa banyak orang. Didi Kempot di antara yang sedikit itu yang lagunya diterima, dinyanyikan bersama, ditanggap dari kampung hingga kota, juga lintas benua, dalam rasa Jawa yang lekat.
Sedikit orang yang punya tekad baja, untuk mewujudkan apa yang diyakininya dan dengan segala keasliannya. Di titik ini Didi tidak pernah ambyar.
Sebab, itulah keyakinan Didi Kempot yang dilakoninya sepanjang hidup. Keyakinan itulah yang mungkin membuat dia tetap kuat dan bertahan menyanyi dalam sakit untuk semua yang lagi susah dihantam korona. Ia ingin menghibur.
Di tengah globalisasi yang membuat orang merasa maju jika pergi dan sering tidak pernah bisa kembali atau menemukan rumah, Mas Didi tetap setia mengingatkan: ’’Harus ada tempat untuk pulang!”
Sejauh apa pun orang pergi. Seberapa lama pun orang pergi. Didi Kempot adalah matriks waktu yang memungkinkan orang untuk pulang.
Orang Jawa di Suriname yang dibawa pergi melampaui Samudra Atlantik seabad lampau menemukan titik pulang dalam Didi Kempot. Di sini, kaum pekerja, asisten rumah tangga, penulis kere, atau pejabat yang bosan korupsi (tapi tidak bisa berhenti) menemukan tambatan hatinya dalam lagu-lagu Didi Kempot.
Mas Didi telah menyediakan ’’rumah” agar kami dan mereka bisa mampir leren (istirahat). Atau hanya untuk sambat (curhat) sejenak.
Sugeng tindak Mas Didi Kempot! (*)
*) Sosiolog, pendengar Didi Kempot, tinggal di Kupang, NTT
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=cvSd7xFzqbA
https://www.youtube.com/watch?v=XEAUA4z3XvU
https://www.youtube.com/watch?v=CZ4eueCSrS4

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
