Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 Desember 2016 | 20.07 WIB

Novi Ika Ratnasari, Guru Pelestari Seni Ludruk di Spendasi, Ajak Meditasi supaya Lebih Fokus dalam Berlatih

KARENA HOBI: Novi Ika Ratnasari (kanan) membimbing siswa-siswinya seni ludruk. - Image

KARENA HOBI: Novi Ika Ratnasari (kanan) membimbing siswa-siswinya seni ludruk.

Jangan pernah lupa akan sejarah. Peribahasa tersebut kini terus dipegang teguh oleh Sanggar Banyu Bening SMPN 2 Sidoarjo (Spendasi). Teater Jawa modern yang diasuh Novi Ika Ratnasari itu terus eksis dalam mengembangkan seni dan budaya Jawa, khususnya ludruk.





SEPTINDA AYU PRAMITASARI





TEMBANG jula-juli mengiringi para pemain ludruk dari Sanggar Banyu Bening di ruang karawitan Spendasi, Selasa (20/12). Jihan, Anne, Wali, Tomi, dan Satya mulai masuk ke panggung mini tersebut.



Mereka adalah siswa-siswi kelas IX dan alumnus Spendasi yang sedang belajar ludruk. Belum apa-apa, gaya dan ekspresi mereka sudah membuat penonton ngakak. Tidak kuasa menahan tawa.



Satya langsung mendekati Jihan sambil menggombal. ’’Dik, Dik, bapakmu maling ya?’’ tanya Satya. ’’Kok tahu,’’ jawab Jihan. ’’Karena kamu telah mencuri hatiku,’’ celetuknya dan langsung disambut tawa penonton.



Wali yang sejak awal melihat keahlian Satya merayu Jihan pun tertarik untuk belajar. Wali sangat ingin bisa merayu dengan kata-kata gombal kepada perempuan cantik bernama Anne. ’’Ajarono aku nggombali wedok po’o,’’ pinta Wali kepada Satya.



Melihat keinginan Wali yang begitu besar sambil memohon-mohon seperti anak kecil, Satya pun membantu untuk mendapatkan gadis impian.



’’Yo wes rene tak ajari. Meloko omonganku (Ya sudah sini saya ajari. Ikuti kata-kataku, Red),’’ kata Satya.



’’Dik, Dik, awakmu eruh enggak bedane ciki sama kamu (Kamu tahu enggak bedanya ciki sama kamu),’’ kata Wali sambil terus menirukan kata-kata Satya. ’’Enggak tahu,’’ jawab Anne.



’’Kalau ciki mengandung pewarna, kalau kamu mengandung formalin,’’ sahut Wali keceplosan. Tawa pun kembali pecah di ruang karawitan.



Tidak terkecuali Novi Ika Ratnasari, guru bahasa jawa sekaligus pelatih ludruk di Spendasi. Sesekali perempuan 32 tahun itu memberikan arahan tentang olah vokal dan olah tubuh para pemain ludruk tersebut.



’’Ayo, jangan blocking,’’ ujar Novi kepada para anak didiknya. Ya, tim Sanggar Banyu Bening Spendasi saat itu melakukan latihan sebagai persiapan tampil di salah satu stasiun televisi nasional pekan ini.



Mereka akan menampilkan seni teater Jawa modern (TJM) atau ludruk dengan kesenian campursari. Hampir setiap hari Novi melatih muridnya.



’’Mereka ini anak ekstrakurikuler TJM di Spendasi. Kami bikin nama sanggarnya Banyu Bening,’’ katanya. Sejatinya, Novi bukanlah seniman ludruk maupun musik. Suami Nur Hadi itu hanya memiliki latar belakang pendidikan bahasa Jawa.



Namun, kecintaannya di bidang seni, khususnya ludruk, boleh dikatakan tidak terukur lagi.  Novi tidak pernah tampil di depan layar sebagai pemain ludruk. Tetapi, dia sangat berperan di belakang layar.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore