Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 6 Desember 2016 | 02.11 WIB

Mengunjungi ’’Pabrik’’ Kerupuk Lapas Kelas II-A Sidoarjo, Langsung Patenkan Nama Merek

BELAJAR PRODUKTIF: Andik Prasetyo (dua dari kanan) memantau pembuatan kerupuk puli di bengkel kerja Lapas Kelas II-A Sidoarjo. Produksi kerupuk dikerjakan para penghuni lapas setiap hari. - Image

BELAJAR PRODUKTIF: Andik Prasetyo (dua dari kanan) memantau pembuatan kerupuk puli di bengkel kerja Lapas Kelas II-A Sidoarjo. Produksi kerupuk dikerjakan para penghuni lapas setiap hari.

Pembinaan bagi narapidana di Lapas Kelas II-A Sidoarjo semakin beragam. Sebulan terakhir mereka disibukkan dengan pembuatan kerupuk puli. Meski mereka tergolong baru belajar, kerupuk buatan para napi itu sudah laris.





MAYA APRILIANI





TANGAN Supiyan menekan kuat mesin pemotong kerupuk. Dia juga cekatan meletakkan adonan yang sudah matang melalui proses perebusan ke dalam mesin tersebut.



Sebelum dimasukkan ke mesin, bahan kerupuk setengah jadi yang kenyal itu dilumuri minyak terlebih dulu. Dengan begitu, bagian yang telah terpotong tipis-tipis tersebut mudah dipisahkan, tidak lengkel di tangan.



Itu sekaligus mempercepat proses penataan pada papan bambu yang berakhir di penjemuran.



Pada Jumat siang (2/12) Supiyan tampak tidak sendirian memproduksi kerupuk di bengkel kerja lapas. Ada enam penghuni lain yang ikut bekerja. Mereka memiliki tugas masing-masing.



Ada yang menata bahan kerupuk irisan. Ada yang membuka plastik adonan kerupuk setelah direbus. Sebagian lagi mengangkat tumpukan bahan bambu berisi irisan kerupuk untuk dijemur.



’’Sejak pukul 07.00 kami sudah membuat kerupuk,’’ ucap Supiyan, napi narkoba yang dihukum penjara selama lima tahun satu bulan tersebut.



Supiyan yang bertanggung jawab membuat adonan kerupuknya. Kerupuk puli asli buatan warga penghuni bui itu berbahan dasar tepung terigu dan tapioka.



Pria 37 tahun tersebut sudah hafal di luar kepala perbandingan bahan dan bumbu-bumbu pembuatan kerupuk itu. Misalnya, bawang putih dan garam.



Bapak satu anak tersebut juga sudah fasih menilai kekalisan adonan. Termasuk rasanya. Tidak mengherankan jika rasa kerupuk buatan warga penghuni lapas itu sangat gurih. Teksturnya juga renyah.



Dalam waktu sehari, ’’pabrik’’ kerupuk lapas tersebut mampu membuat 60 kilogram adonan. Tetapi, bahan itu tidak bisa dibuat sekaligus, harus melalui dua tahap pembuatan.



Tahap pertama, 30 kilogram. Tahap selanjutnya, 30 kilogram lagi. Itu terjadi lantaran peralatannya terbatas.



Mesin mikser hanya mampu menampung setengah dari total adonan harian. Panci untuk merebus pun tidak bisa menampung atau memproses keseluruhan bahan.



’’Bambu untuk menjemur juga terbatas,’’ ujar Kasubsi Bimbingan Kerja (Bimker) Lapas Kelas II-A Sidoarjo Andik Prasetyo. Menurut dia, papan bambu untuk menjemur irisan kerupuk hanya berjumlah sekitar 50 buah.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore