
Helmy Mubarok lulusan Al-Azhar Kairo, Mesir rela mengabdi di daerah pelosok atau tepatnya di SDN 002 Desa Apas, Kecamatan Sebuku.
JawaPos.com - Tanpa memikirkan gelar yang telah susah payah didapatkan, seorang pemuda rela mengabdi di daerah pelosok dan terpencil. Gelar yang diperolehnya pun terbilang bergengsi bagi masyarakat Indonesia dan akan menganggap pekerjaan yang diperolehnya akan lebih mudah. Apa keinginan pemuda ini ingin mengabdi di pelosok dan perbatasan negeri ini, berikut liputannya.
SABRI, Radar Nunukan
Helmy Mubarok atau biasa akrab disapa Helmy ini merupakan anak seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kota Bandung dan lulusan perguruan tinggi ternama di Mesir, yakni Al-Azhar Kairo. Hampir enam tahun ia berjuang untuk lulus dari Al-Azhar Kairo. Sebagai lulusan luar negeri ia tak pernah merasa malu ketika mengabdi daerah terpencil.
Helmy yang bergabung di tim pengajar muda Indonesia Mengajar angkatan 13 mendapatkan peluang untuk mengabdi sebagai guru Sekolah Dasar (SD) di salah satu sekolah di Desa Apas, Kecamatan Sebuku. Dirinya tertarik untuk menjadi sebagai tenaga pengajar, karena selama ini belum pernah berbuat sesuatu untuk Ibu Pertiwi, Indonesia.
“Saya terlalu lama di luar negeri, untuk berbuat kepada daerah sangat sulit karena tidak memiliki kesempatan yang banyak karena letak geografis sangat jauh antara Indonesia dengan Mesir,” kata Helmy Mubarok kepada Radar Nunukan (Jawa Pos Group), saat ditemui di lantai IV kantor Bupati Nunukan, Kamis (1/12).
Mengabdi untuk negara ketika berada di Mesir sulit dilakukan di lapangan, hanya bisa dilakukan dengan tulisan. Sedangkan, untuk mengabdi secara nyata baru kali pertama ia lakukan dengan bergabung sebagai tenaga pengajar muda.
Kuliah di Mesir mulai Strata Satu (S1) hingga Pasca Sarjana (S2) bukan sebuah hal yang lumrah, apalagi hanya menjadi seorang guru SD. Biasanya, dengan gelar itu, banyak mahasiswa Indonesia lulusan Mesir menjadi dosen di perguruan tinggi dan mendapat posisi yang strategis.
Pria kelahiran Kota Bandung ini, mengabdi di daerah pelosok berjanji akan menjalani dengan ikhlas. Sebelum mendaftar di Indonesia Mengajar bersama 9 ribu pendaftar lainnya, ia sudah berpikir dengan matang apa yang akan dilakukan nantinya saat menjadi seorang guru.
Sebagai pengajar muda tentu akan mendapatkan tantangan tersendiri. Helmy yang ditempatkan di Desa Apas, Kecamatan Sebuku, selain harus mengajar tiap hari, ia juga harus selalu berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Ia telah mengetahui ketika ditempatkan di Desa Apas, Kecamatan Sebuku harus beradaptasi dengan masyarakat yang berbeda agama. Sebagai lulusan kampus Islam, ia harus beradaptasi secara perlahan untuk menyesuaikan dengan masyarakat di Desa Apas.
“Saya sudah disampaikan bahwa lokasi penempatan mayoritas nonmuslim, ini merupakan sebuah tantangan bagi saya dan wajib berbaur dengan masyarakat walaupun beda agama,” ujar pria kelahiran 10 Juni 1992 ini.
Sebelum bergabung di Indonesia Mengajar, orang tua Helmy menolak dengan keras, seorang lulusan luar negeri tidak cocok untuk mengabdi di daerah pelosok. Seharusnya mengabdi di perguruan tinggi atau lembaga negara. Namun dengan rayuan, akhirnya berhasil dizinkan untuk mengabdi sebagai tenaga pengajar muda.
Sebagai guru muda yang harus ditempatkan di daerah pelosok, hal yang sulit baginya adalah meminta izin kepada orang tua. Karena ketika ditempatkan di daerah pelosok belum tentu mampu dapat berkomunikasi dengan keluarga. Seperti di SDN 002 di Kecamatan Sebuku yang memang diketahui jaringan telepon seluler sangat sulit.
Menjadi pengajar muda dipastikan harus siap mendapat tantangan. Bagi Helmy yang dibutuhkan untuk menjadi sebagai guru dengan lulusan luar negeri bukan hal yang aneh, karena sebuah status kelulusan bukan menjadi tolak ukur bagi seseorang untuk berbuat untuk negara. Walaupun dikatakan pernah kuliah di luar negeri, namun akhirnya harus menjadi seorang guru SD justru tak membuat Helmy terbebani.
Terpenting baginya adalah sebuah pengabdian untuk anak-anak yang ingin mendapatkan ilmu, karena selama kuliah di Mesir ketika ilmu tak disalurkan baginya sebuah kesia-siaan. “Ilmu yang telah didapatkan harus diberikan kepada orang lain terutama bagi yang membutuhkan,” pesannya. (***/eza/fab/JPG)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
