Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 November 2016 | 02.44 WIB

Ridho Aji Baskoro dan Warisan Pekerjaan Sopir Pemindahan Napi

BUS TIDAK BIASA: Ridho Aji Baskoro di samping bus yang sering dia kemudikan. Bus transpas itu biasa mengangkut narapidana Rutan Medaeng ke berbagai lapas di Jawa Timur. - Image

BUS TIDAK BIASA: Ridho Aji Baskoro di samping bus yang sering dia kemudikan. Bus transpas itu biasa mengangkut narapidana Rutan Medaeng ke berbagai lapas di Jawa Timur.



Ketika kali pertama mengemudikan bus, dia tidak paham fungsi botol mineral. Dia mengira botol tersebut barang rongsokan yang tidak digunakan. Dengan cekatan, Ridho membersihkan botol-botol tersebut dan membuangnya.



Sesaat kemudian, Yuliadji yang masuk ke bus mempertanyakan keberadaan botol yang telah dipersiapkan. Dengan polos, Ridho menjawab telah membuangnya.



Mendengar jawaban tersebut, pria 58 tahun itu tersenyum, lantas memberi tahu bahwa botol sengaja disiapkan untuk mempermudah napi yang ingin buang air kecil.



”Untuk perjalanan jauh dan yang dipindah napi laki-laki, botol itu sering bersama kami,” kata sipir kelahiran Mojokerto itu. Ridho mengaku harus ekstrasabar saat mengantar napi ke lapas.



Bukan hanya karena status orang yang dipindahkannya. Tapi, juga kondisi kendaraan yang menjadi satu-satunya alat transportasi pemindahan itu.



Menurut sipir yang memulai karir sebagai pegawai Rumah Penitipan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) Kelas I Surabaya tersebut, bus yang dikemudikan itu sangat tua. Umurnya sudah 14 tahun. Sudah uzur.



Kondisinya tidak lagi mulus. Banyak cat di bodi bus yang sudah mengelupas. Bagian yang terkelupas tersebut tampak cokelat. Tanda karat. Lampu sisi kiri bagian bawah juga pecah.



Belum lagi, kondisi mesin tidak selalu prima. Tiap kali akan menggunakan bus, Ridho wajib memanasinya. Mesin bus yang sudah lama itu juga membuat lajunya tidak secepat mobil baru.



Bahkan, untuk menyalip kendaraan pun, perlu ancang-ancang terlebih dahulu. Tak bisa langsung melesat kilat seperti bus anyar.



”Kalau tidak terbiasa pegang bus ini, ya susah mengendarainya,” ucap Ridho sambil menunjukkan bus yang tiap pekan dikemudikannya. Ridho berkenalan dengan bus transpas pada awal 2014.



Kala itu, dia memundurkan bus yang diparkir di rupbasan. Kepala Rutan Medaeng Agus Irianto yang tengah mengikuti kerja bakti bertanya kepada para petugas tentang sosok yang mengemudikan bus tersebut.



Dia tahu bahwa yang memegang kemudi bukan Yuliadji. Sebab, ayah Ridho itu juga ikut kerja bakti. Setelah mendapat informasi bahwa yang membawa bus adalah putra Yuliadji, Agus pun menawari Ridho agar pindah ke rutan.



Tugasnya, menjadi sipir sekaligus sopir bus pemindahan napi yang akan menggantikan Yuliadji saat pensiun pada Juli 2016. Gayung bersambut.



Ridho yang diminta menggantikan posisi Yuliadji sebagai ahli waris pekerjaan sopir napi menanggapi. Dia bersedia dipindah ke rutan. ”Saya tidak memaksa, itu keputusan Ridho sendiri,” tegas Yuliadji.



Sejak pindah ke rutan itulah, Ridho selalu ”dilatih” bapaknya. Setiap kali ada pemindahan napi, Yuliadji memercayakan kemudi kepada Ridho. Dia hanya mendampingi.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore