alexametrics
Hidup dan Perjalanan Didi Kempot (10)

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot

Ora Maido Sopo Wong Sing Ora Kangen...
16 Mei 2020, 13:51:33 WIB

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di negeri Amerika Selatan itu mengadakan ’’minikonser”.

ZALZILATUL HIKMIA, Jakarta, Jawa Pos

SUDAH duta tahun berlalu, tapi pesan itu terus saja dikenang Murni Dasai. Apalagi disampaikan langsung saat dia berkesempatan berbincang dengan maestro.

’’Mas Didi waktu itu bilang, kalau kamu ingin sesuatu, kamu harus kerja keras. Tapi, tetap rendah hati dan semua akan baik,” kata Murni Dasai ketika dihubungi Jawa Pos Kamis lalu (14/5).

Murni bergiat di dunia industri hiburan di Suriname, negeri di Amerika Selatan yang hampir 15 persen dari 534 ribu warganya merupakan keturunan Jawa. Pada 2018 itu, Didi Kempot, sang maestro campursari, tengah menghelat konser untuk kali kesekian di negeri yang beribu kota di Paramaribo tersebut.

Dan, Murni yang berdarah Jawa itu dipercaya menjadi MC (master of ceremony) dalam konser tersebut bersama Jurmic Partodongso, seniman yang juga keturunan Jawa. Pada sesi interview, dia berkesempatan ngobrol panjang lebar dengan pelantun tembang Layang Kangen, Pamer Bojo, dan banyak lagi hit lainnya tersebut. Soal lagu hingga perjalanan karir.

Didi tak cuma terkenal di Suriname, dia seorang superstar di sana. Bahkan, namanya lebih dulu menjulang di sana ketimbang di sini. Didi juga mengabadikan keterpautannya dengan negeri bekas jajahan Belanda itu lewat lagu Angin Paramaribo.

Pengusaha Budi Sarwono turut jadi saksi betapa almarhum sangat dicintai dan dikagumi di Suriname. Dua tahun lalu keduanya barengan untuk kepentingan yang berbeda.

”Mas Didi ngamen, saya dodolan,” kelakar pria 50 tahun itu.

Budi tahu bahwa Didi Kempot seorang musisi terkenal. Tapi, dia tak menyangka jika sambutan untuk sang Godfather of Broken Heart begitu luar biasa.

Ketika di bandara, ada banyak sekali fans yang datang untuk menjemput. Hampir semua kalangan ada. Tua muda, seniman, aktivis, pejabat pemerintah hingga partai.

”Bahkan sampai presidennya ikut menyambut dan nonton konsernya juga. Itu menurut saya sangat luar biasa,” kenangnya.

Konser terakhir Didi Kempot di Suriname pada Oktober 2018 itu pun terbilang sukses besar. Diselenggarakan di Anthony Nesty Hall, Paramaribo, konser tersebut dibanjiri ribuan penonton.

Mereka bernyanyi dan njogeti semua lagu yang ditembangkan Lord Didi. ”Joget sikep sangat populer juga di sana,” katanya.

Yang paling tak terlupakan, Presiden Desi Bouterse yang memimpin Suriname sejak 2010 turut hadir. Padahal, Bouterse tak ada garis keturunan Jawa sama sekali.

’’Mas Didi juga memberikan kado istimewa bagi penggemarnya di sana dengan menyanyikan lagu Lobi Suriname, lagu asli Suriname,” kata Budi yang juga mengabadikan momen Didi di Suriname pada 2018 itu dalam video yang diunggah di YouTube.

Orang-orang Jawa datang, atau lebih tepatnya didatangkan Belanda sebagai buruh kontrak, secara bergelombang mulai 1890 hingga 1939. Sampai saat ini ada sekitar 65 ribu penutur bahasa Jawa di sana, dua kali lipat dari yang ada di Belanda.

Mayoritas orang Jawa di sana berakar di Jawa Tengah. Bahasa Jawa yang mereka gunakan kurang lebih berada di tataran yang sama dengan bahasa Jawa dalam lagu-lagu Didi Kempot.

Karena itu, mereka nyambung dengan lagu-lagu sang maestro campursari tersebut. Didi jadi semacam ’’jembatan komunikasi” atau dalam istilah Budi Sarwoni, ’’tombo kangen (obat rindu)” dengan tanah leluhur. Pemahaman mereka akan karya-karya penyanyi berjuluk Lord Didi itu pun ekuivalen dengan ’’saudara-saudara” mereka di Jawa.

Layang Kangen, misalnya, juga bisa membuat para pendengarnya di Suriname mewek. ”Saya sempat tanya, apa alasan Mas Didi nulis lagu yang begitu sedih dan bikin nangis?” kenang Murni.

Dia tak menyangka bahwa jawabannya lebih menyayat hati ketimbang kangen pacar. ”Mas Didi jawab, karena waktu itu lagi jadi pengamen di Jakarta, terus karena lapar, jadi dia kangen sama orang tuanya di Solo,” sambungnya.

Pertautan Murni dengan Didi sepertinya mewakili perkenalan kebanyakan orang-orang Jawa di sana: melalui saluran radio. Ada radio dan televisi di sana yang khusus menampilkan lagu-lagu berbahasa Jawa, termasuk yang dari tanah leluhur.

Nah, ayahanda Murni dan bapak mertuanya merupakan pendengar setia lagu-lagu Didi yang diputar di radio. ”Aku yo akhire melu ngrungoke musik dari Mas Didi (Aku juga akhirnya ikut mendengarkan musik dari Mas Didi),” ungkapnya, lantas tertawa.

Beruntung baginya, saat ikut sang suami kuliah di Jogjakarta pada 2007, dia pun akhirnya bisa bertemu dengan sang penyanyi legendaris tersebut. Yang kerap dielu-elukan almarhum bapaknya.

”Kan almarhum bapaknya (Ranto Edi Gudel) pelawak terkenal dulu dan kakaknya, Mas Mamiek (Prakoso), juga pelawak kan? Tapi, dia sangat berani dengan memilih untuk jadi pengamen,” ungkap istri Marciano Dasai, kepala Jurusan Teknik Infrastruktur di Anton de Kom University of Suriname, tersebut.

Kecintaan warga Suriname kepada Didi kian bertambah karena kerendahan hatinya. Apalagi, melodi lagu-lagunya yang sederhana dan gampang dicerna bisa menembus berbagai kalangan. Bukan hanya orang-orang keturunan Jawa, melainkan juga keturunan India, Afrika, hingga Amerindians.

Budi Sarwono dan Didi Kempot, juga di Paramaribo dua tahun lalu. (MURNI DASAI FOR JAWA POS)

’’Ora maido sopo wong sing ora kangen (Tak heran kalau semua orang kangen),” kata Murni, mengutip lirik dalam Layang Kangen.

Kedekatan itulah yang membuat Murni terpukul saat mendengar kabar duka terkait sang idola. Setelah mendapat konfirmasi berita tersebut benar adanya, air mata Murni tak terbendung lagi.

Dia yang baru tahu keesokan harinya (waktu Suriname) menangis sejadi-jadinya. Hatinya nyesek. Masih tak percaya dengan apa yang terjadi.

Bukan hanya Murni, hampir seluruh musisi di Suriname yang mengenal Didi Kempot ikut larut dalam kesedihan karena ditinggal sang idola. Penyanyi Emmely Kartoredjo pun tak henti-hentinya meneteskan air mata ketika terkenang sang musisi. Bahkan ketika di-interview media. ”Semua fans dan artis-artis shock banget, Mbak,” tutur warga Suriname keturunan Jawa tersebut.

Budi pun tak sampai hati ketika harus mengabarkan berita duka kepada rekan-rekannya di Suriname. Sambil menahan duka, dia pun menguatkan hati untuk menghubungi Jurmic Partodongso. Responsnya sudah bisa ditebak, kaget. Tidak percaya.

”Beliau sampai menelepon saya dua kali,” tutur Budi yang terakhir bertemu Didi di acara Diaspora Jawa Dunia yang diadakan di Solo pada Oktober 2019.

Sebagai persembahan terakhir, 22 musisi Suriname membuat minikonser untuk menghormati sang maestro. Minikonser dari rumah itu tak direncanakan. Semuanya serba mendadak.

Awalnya, Murni diminta salah satu stasiun televisi untuk membuat pesan video dan sedikit bernyanyi lagu Didi Kempot. Karena masih shock, dia mengatakan masih tak sanggup untuk bernyanyi. ”Saya bilang, kalau video pesan bisa. Saya masih nangis terus karena belum bisa percaya waktu itu,” papar perempuan kelahiran Nickerie, Suriname, itu.

Setelah mengirim videonya, sorenya dia melihat video kolaborasi dari dua temannya yang kebetulan artis. Lalu, muncul ide untuk membuat video kolaborasi dengan rekan-rekan artis lainnya sebagai bentuk penghargaan terakhir untuk Didi Kempot.

Mereka begitu bersemangat dengan ide tersebut. Meski tak bertatap muka, semua kompak bernyanyi dengan handphone masing-masing dari rumah. ”Saya kontak teman-teman, bikin WA (WhatsApp) Group, kontak ama video-editor Riviano Towikromo dan co-MC Jurmic Partodongso,” katanya.

Video-video tersebut diracik menjadi satu kesatuan lagu Layang Kangen yang di-upload di Facebook Riviano Towikromo. Seperti Angin Paramaribo yang, tulis Didi dalam lagunya, ’’tansah ngelingake (selalu mengingatkan)”, nama sang Godfather of Broken Heart itu pun akan abadi di negeri yang ribuan kilometer jauhnya dari tanah kelahirannya tersebut.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c7/ttg



Close Ads