Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 Oktober 2015 | 04.43 WIB

Bocah Penderita Asma di Tengah Kepungan Asap, hanya Bisa Menangis

MENANGIS: Nadya Shafira Nugroho siswa kelas dua SD menangis saat diberi oksigen disaksikan oleh teman sebanya di rumah Jalan Angkasa Kelurahan Sidomulyo Barat Kecamatan Tampan, Pekanbaru, Riau, Rabu (7/10). - Image

MENANGIS: Nadya Shafira Nugroho siswa kelas dua SD menangis saat diberi oksigen disaksikan oleh teman sebanya di rumah Jalan Angkasa Kelurahan Sidomulyo Barat Kecamatan Tampan, Pekanbaru, Riau, Rabu (7/10).

Banyak sudah upaya yang dilakukan Sarmaini Amin agar sang cucu tetap bertahan di tengah kepungan asap. Mulai dari evakuasi ke Sumatra Barat hingga membeli tabung gas oksigen nebuler demi menyambung nafas sang cucu, Nadia Safira Nugroho (6). Kini, ia hanya bisa mengurung sang cucu dirumah dan mengawal kemanapun ia pergi, bahkan ke sekolah sekalipun.





Bocah kelas satu SDN 110 tersebut memang sebelumnya sudah mengidap penyakit asma. Ia memang sangat rentang dengan berbagai kondisi udara. Terlebih kondisi udara Kota Pekanbaru, Riau saat ini dalam kategori sangat berbahaya karena kabut asap yang menyelimuti. Akibatnya, gadis kecil dengan asma seperti Nadia tak berdaya dan menjadi semakin susah untuk bernafas.



Saat kabut asap melanda sekitar sebulan lalu, Nadia mengeluhkan batuk berkepanjangan. Khawatir, sang nenek Sarmaini langsung melarikan cucunya ke rumah sakit.



Dokter pun menyarankan Nadia untuk dievakuasi tempat yang udaranya lebih bersih agar penyakitnya tak. Sarmaini pun langsung berangkatvke Sumatra Barat bersama Nadia dan sang adik yang berusia 1 bulan.



Tiga minggu disana, ternyata kegiatan sekolah di Pekanbaru sudah dimulai. Tak ingin cucu ketinggalan pelajaran, Sarmaini kembali pulang ke Pekanbaru.



Malangnya, sehari di Pekanbaru, ternyata asap kembali pekat dan sang cucu kembali kesulitan bernafas. "Kondisi tersebut membuat kami semakin kebingungan. Kondisi asap yang tak bisa diprediksi membuat kami serba salah," ujar Sarmaini saat ditemui di rumahnya Jalan Angkasa No 16, Panam, Rabu (7/10).



Meski lemah dan sulit bernafas, Nadia tetap bersekolah dengan pengawalan Sarmaini. Sang cucu tak bisa lepas dari masker saat berada di sekolah. Dirumah, Nadia juga bergantung pada oksigen yang berasal dari tabung 1 kubik dan regulator serta nebu yang dibeli sang nenek dengan uang pribadi.



Harga satu set tabung tersebut tergolong cukup mahal. Yakni Rp 800 ribu per set. Jika dipakai intensif, oksigen tersebut hanya membantu Nadia bernafas selama kurang lebih dua jam saja. Tabung mahal tersebut sebenarnya bukan pilihan awal Sarmaini. Ia biasanya membeli tabunh oksigen portable kecil yang harganya hanya Rp 35 ribu. Namun, saat ini apotek kehabisan stok tabung oksigen tersebut.



Akibatnya ia pun harus beralih ke yang lebih mahal. Itupun untuk pengisian ulang tabung, Sarmaini juga mengaku kesulitan. Sebab, peminatnya diapotek sangat banyak dan sering kehabisan. Hingga hari ini, sudah empat buah tabung ukuran satu kubik dan tak terhitung tabung portable yang dihabiskan untuk menyambung nafas Nadia.



Sarmaini mengaku, sebelumnya Nadia belum pernah separah ini. "Biasanya jika asmanya kambuh, Nadia cukup minum obat dan beristrihat saja. Namun kini, sejak asap ia harus dipasangkan nebu dan selang oksigen. Karena ia sangat kesulitan bernafas. Ia kesakitan. Kami tak tega melihatnya. Jika tak ada peralatan bantu nafas tersebut, entah bagaimana kondisi Nadia saat ini," ungkap sang nenek dengan wajah murung.



Nadia sendiri saat ditemui Riau Pos tampak terbaring sambil mengenakan peralatan bantu nafas dihidungnya.



Tak jarang ia menangis karena sulit bernafas dan mengaku sesak. Wajahnya begitu pucat. Matanya sayu seperti kelelahan. Bocah kecil tersebut adalah satu dari ribuan korban keganasan asap.



Oleh karena itu, Sarmaini berharap kelak Pemerintah bisa segera mengatasi bencana tersebut. Ia ta ingin ada Nadia Nadia lain diluar sana yang harus membeli mahal oksigen untuk bernafas.



"Sampai kapan asap ini berakhir? Saya kasihan melihat Nadia yang tak henti merasa sesak. Ia masih sangat kecil untuk merasakan hal tersebut," tambahnya.



Untuk biaya sendiri, Sarmaini sudah menghabiskan banyak uang agar sang cucu bisa  hidup. Namun, itu tak lagi dipedulikamnya. Yang terpenting Nadia bisa tersenyum dan melakukan akitivitas seperti biasa.

Editor: Arwan
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore