
Warga Tanjung Selor berselfie di punggung buaya hasil tangkapan Si Buy.
Bagi masyarakat awam, buaya adalah hewan yang amat menyeramkan. Binatang yang hidup di dua alam itu dikenal sebagai predator ganas. Namun, tidak bagi Basri alias Si Buy. Pria ini justru adalah pemburu sekaligus penakluk buaya.
Warga Sungai Kayan, tepatnya di daerah Sabanar Lama, mendadak heboh karena ada buaya dengan panjang sekitar tiga meter di tepi sungai, Rabu (30/9). Mereka berkerumun melihat binatang itu dari dekat.
Buaya yang sudah mati tersebut adalah hasil tangkapan Si Buy. “Kami dapat di sungai daerah Sebalabau, di hilirnya Salangketo (wilayah Tanjung Buka, Tanjung Palas Tengah)," kata Si Buy mengawali perbincangan dengan Bulungan Post (Grup Jawa Pos).
Sekitar pukul empat pagi buaya itu timbul ke permukaan. Si Buy dengan cekatan berhasil menombaknya. Bagi warga Tanjung Selor, Kalimantan Utara dan sekitarnya, nama Buy sudah akrab di telinga.
Si pemburu atau pawang buaya itu memang sejak lama dikenal. “Biasa orang panggil Si Buy saja, atau pawang. Berburu buaya sudah jadi pekerjaan saya,” katanya. Pria kurus itu mengaku sudah sejak kecil mulai berburu buaya, bahkan sejak usia SD.
“Saya berhenti sekolah kelas 2 SD, langsung berburu buaya. Memang waktu itu bukan langsung yang besar-besar. Paling yang panjang satu atau dua meter dulu,” ungkapnya. Keahlian menangkap buaya diperolehnya secara turun-temurun sejak dari leluhur.
Selama berpuluh-puluh tahun berburu buaya, Buy tidak pernah menggunakan alat modern, seperti senapan atau perangkap canggih. Ia cuma berbekal tombak dan perahu ketinting kecil sepanjang lima meter.
“Kalau berburu kadang sendiri, kadang juga ada temannya. Kayak ini tadi kami bertiga. Sama dua-duanya namanya Ahmad. Mereka keponakan semua. Saya ajak, karena katanya mau belajar juga,” kata Buy lagi.
Meski sudah ahli, ia mengaku sering kewalahan menghadapi binatang buas itu. Sebab, buaya selalu melawan ketika akan ditangkap. Perkelahiannya dengan buaya sudah kerap terjadi.
Tanpa bermaksud sombong, Buy mengaku belum pernah terluka saat bertarung menghadapi buaya. “Alhamdulillah sampai sekarang belum pernah celaka,” ujarnya.
Pria berusia 46 tahun itu menceritakan, dirinya berburu buaya hanya di wilayah perairan Kaltara saja. Hal itu dilakukan untuk mencari nafkah, karena kulit dan tangkur atau kelamin buaya, bisa dijual.
Di sisi lain, berburu buaya juga dimaksudkan untuk membantu para petambak. “Di daerah muara banyak buaya yang ganas. Kalau tidak ditangkap, khawatir nanti mengganggu manusia. Di sana kan banyak orang yang menjaga tambak,” katanya.
Bicara soal keuntungan dari menangkap buaya, ia mengatakan, kulit buaya yang berukuran lumayan besar, bisa laku Rp 1 juta lebih. Sedangkan tangkurnya bisa dijual dengan harga Rp 2-3 juta.
“Tangkurnya laku, banyak yang nyari. Katanya obat mujarab itu. Salah satunya untuk obat kuat,” katanya. Penghasilan lain juga diperoleh dari tengkorak kepala buaya.
Sebelum dijual, tengkorak buaya terlebih dahulu diproses selama tiga bulan hingga menjadi kerangka. Tak tanggung-tanggung, harganya bisa mencapai Rp 6 juta, tergantung ukuran.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
