Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 September 2015 | 20.38 WIB

Bocah-Bocah di Tapal Batas, Ikan Jadi Medium Belajar Paling Gampang

Wartawan Jawa Pos Yusuf Asyari bersama beberapa murid PAUD di Desa Tuleng, Pulau Pura, Alor (24/8). - Image

Wartawan Jawa Pos Yusuf Asyari bersama beberapa murid PAUD di Desa Tuleng, Pulau Pura, Alor (24/8).

JawaPos.com - Wahana Visi Indonesia (WVI) yang bermitra dengan World Vision sebenarnya sudah terlibat dalam program pengembangan daerah di Kabupaten Alor selama 16 tahun terakhir. Mereka berfokus pada pengembangan di bidang pendidikan, kesehatan, dan perekonomian.



Pada 2012, WVI menjadikan kedua PAUD pimpinan Menahem dan Aleta sebagai proyek percontohan pendampingan.



"Yang kami lakukan adalah meningkatkan kualitas pembelajaran," kata Ketua Pengurus Yayasan Wahana Visi Indonesia Grace Hukom kepada Jawa Pos yang ikut mengunjungi Pulau Pura.



Para guru PAUD mendapatkan materi modul dan cara membuat kurikulum. Kurikulum itu disusun dengan memanfaatkan potensi lokal seperti kebiasaan baik, lagu, dongeng, permainan, tarian, serta material lain.



Misalnya bunga, daun, biji-bijian, bebatuan, atau ikan. Ikan merupakan materi yang paling gampang untuk dijadikan medium belajar. Sebab, mayoritas warga setempat bekerja sebagai nelayan. Otomatis, para bocah Pulau Pura pun akrab dengan makhluk air tersebut.



Metode pembelajaran dibagi menjadi centre based (belajar di kelas) dan home based (pendidikan anak di rumah). Sejauh ini, ada masing-masing 12 rumah di tiga desa di Pulau Pura yang sudah didesain home based. Konsepnya mirip bedah rumah yang dibuat bernilai pendidikan. Orang tua dilibatkan dalam desain rumah itu.



Misalnya mengatur meja belajar dan meja makan, menyediakan kamar tidur, atau membuat taman bunga. Targetnya adalah mengajari anak untuk mengenal pendidikan sejak bayi.



"Itu hal baru bagi warga di sini. Tapi, setelah mereka diajak, hasilnya ternyata menyenangkan," kata Aleta.



Dampak positif dari kombinasi pembelajaran di sekolah dan rumah tersebut juga dirasakan pengajar di tingkat sekolah dasar (SD). Kepala SD Inpres Retta Putri Juli Djahimo menjelaskan, saat ini ada sepuluh lulusan PAUD yang belajar di kelas I. Sisanya adalah dua anak yang tidak belajar di PAUD.



Perbedaannya sangat terlihat. Lulusan PAUD lebih cepat menyerap pelajaran SD. "Beda dengan dulu (sebelum para pengajar PAUD mendapat pendampingan menyusun kurikulum, Red)," kata Putri.



Padahal, menjadi guru PAUD di wilayah itu sama sekali tidak bisa dijadikan sandaran penghasilan. Para orang tua murid pun menyumbang seikhlasnya.



Di PAUD Bethel Retta, ada tiga guru lain di luar Menahem. Sedangkan di Sayang Tiberias, terdapat lima pengajar, termasuk Aleta. Mereka tidak mendapat gaji, hanya insentif dari Pemerintah Kabupaten Alor.



Itu pun sangat minim. Misalnya, di PAUD Sayang Tiberias, insentif hanya Rp 1 juta per tahun dibagi lima guru. Jadi, per guru hanya menerima Rp 200 ribu setahun.



Uang sejumlah itu diberikan dalam dua semester. Sekali menerima pada semester pertama Rp 100 ribu. Semester berikutnya, enam bulan kemudian, baru dapat Rp 100 ribu lagi.



Padahal, Menahem, misalnya, punya tanggungan tiga anak. Salah satu anak akan masuk SMA. "Saya sampai sempat berpikir merantau untuk menghidupi keluarga," kata Menahem.

Editor: Arwan
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore