alexametrics

Hidupkan SWK Kuliner, Mantan Boomerang dan Power Metal Jadi Juri Band

7 September 2019, 20:48:13 WIB

SENTRA Wisata Kuliner (SWK) Convention Hall (CH) Kuliner membuat orang pangling dalam setahun terakhir. Kesan kumuh bak pasar basah hilang dan berubah menjadi sentra kuliner yang cozy. Tak heran, sentra PKL itu dijadikan ajang sejumlah festival.

GALIH ADI PRASETYO, Surabaya

Nyaman. Kesan itu pasti muncul ketika pengunjung datang ke SWK CH Kuliner. Terasa lapang. Berbeda dengan saat SWK yang dibangun untuk menampung PKL makanan dari Klampis Ngasem dan Gebang Putih itu dibuka pada 2016. Dulu, desain sentra PKL tersebut tidak ergonomis. Menempati lahan seluas 40 x 20 meter, bangunan tersebut memiliki sekat tembok setinggi 1,5 meter tiap stan. Begitu sumpek. Karena itu, para pedagang dengan bercanda menyebutnya sebagai pasar daging. Bukan sentra kuliner.

’’Saya benar-benar tidak betah duduk lama menikmati makanan di sana ketika itu,’’ kenang Kepala Bappeko Surabaya Eri Cahyadi dalam dialog dengan Jawa Pos beberapa waktu lalu Eri kemudian berkoordinasi dengan pedagang setempat dan bersama-sama merumuskan renovasi seperti apa yang bisa dilakukan untuk menarik pengunjung. ’’Jika dibiarkan, akan mati. Kasihan pedagang. Telantar pula lahannya. Sama-sama tidak baik,’’ papar Eri.

Gayung bersambut. Renovasi desain pun dilakukan. Hasilnya positif. Pengunjung makin ramai dan betah berlama-lama di sentra kuliner tersebut. Jika lama di sana, tentu saja pengunjung njajan. Omzet kotor Rp 3 juta–Rp 4 juta per hari kini adalah standar. Tak jarang, jika ada festival, omzet bisa mencapai Rp 7 juta. SWK menjadi apik, dagangan pun laris manis. Tempat itu menjadi hidup.

Salah satu yang menjadi pelopor perubahan adalah Andy Setiawan. Mantan PKL Klampis Ngasem yang dulu berjualan HP. ’’Saya 13 tahun berjualan di sana, sudah lumayan, tapi ada penertiban,’’ ujar pria yang kini berjualan tahu tek tersebut.

Dia bercerita bahwa tiga sampai empat bulan pertama buka, SWK memang ramai. Namun, karena tempatnya terasa sumpek, gerah, dan tidak nyaman, pengunjung pun sepi. ’’Pendapatan tidak bisa diprediksi. Tak jarang, tidak ada seorang pun pembeli yang mampir,’’ keluh pria yang akrab disapa Andy Elektrik tersebut.

Kondisi itu berlangsung sampai dua tahun. ’’Semuanya nyaris putus asa,’’ tambahnya. Bahkan, mereka pernah tidak sanggup membayar tagihan listrik. ’’Sampai diputus gara-gara nunggak,” katanya.

Andy mengatakan, saat itu pedagang benar-benar tidak paham cara berjualan dan memasarkan. ’’Saat ada rombongan banyak, harga dinaikkan,’’ ujar pria berambut gondrong tersebut. Saat itulah dia berinisiatif untuk mengatur harga. Pedagang dipertemukan. Harga disesuaikan dengan yang disetujui dan wajar.

Menurut dia, tempat tersebut membutuhkan sesuatu yang bisa menjadi ciri khas. Saat itu dia berupaya membuat panggung hiburan. Berhasil. Sound system-nya adalah milik Andy sendiri dan sekarang menjadi aset CH Kuliner. ’’Berhasil, tapi segmennya terbatas. Sebab, musiknya cuma dangdut,’’ kata vokalis grup band metal, The Lamkoar, itu.

Andy lantas berdialog dengan pemkot. Keputusan besar diambil. Desain diubah, termasuk desain tempat dagangan. Sekat hilang. Para pedagang berjajar membentur huruf U. Sisi tengah diperuntukkan konsumen. ’’Kami juga menggandeng mahasiswa dari Universitas Ciputra,’’ katanya. Mahasiswa diminta mengembangkan konsep yang pas bagi CH kuliner agar pembeli datang dan ramai.

Andy sadar betul, CH Kuliner membutuhkan aktivasi berupa event. Bulan lalu acara meriah digelar. Patriotis Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) itu membuat kompetisi band. Pesertanya berasal dari Jawa Timur.

Benar saja, ratusan orang menjadi saksi pergelaran itu. Pedagang ketiban rezeki. Omzet tembus lebih dari Rp 7 juta. Jurinya juga tidak sembarangan. Ada mantan vokalis Boomerang Roy Jeconiah, mantan personel Power Metal Mugix Adam, dan personel Red Spider Munir.

Kisah survive dan berkembangnya CH Kuliner tampaknya bakal menjadi inspirasi bagi sentra kuliner lain untuk berbenah. Kebetulan, saat ini banyak sentra kuliner yang sepi dan mati

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : gal/c7/ano

Close Ads