Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Agustus 2018 | 00.50 WIB

Kisah Kakak Beradik Raih Medali Emas Olimpiade Matematika di Korsel

Noriko Khang (kiri) dan Yuriko Khang menunjukkan medali emas WMI yang diraihnya di Korsel. - Image

Noriko Khang (kiri) dan Yuriko Khang menunjukkan medali emas WMI yang diraihnya di Korsel.

JawaPos.com - Kompak beradu meraih prestasi di ajang olimpiade matematika. Dua putri asal Balikpapan ini meraih medali emas dalam kompetisi World Mathematics Invitational (WMI) di Korea Selatan (Korsel).


DINA ANGELINA, Balikpapan


Semangat Noriko Khang dan Yuriko Khang terisi penuh. Kali ini tak ada rasa takut untuk menghadapi kompetisi tingkat internasional. Alih-alih pusing memikirkan kompetisi, sebaliknya kedua kakak beradik itu malah senang. Bagaimana tidak, mereka ditemani oleh orang tua dalam perjalanan tersebut. Anggap saja kesempatan ini sekaligus bisa menjadi momen liburan bagi keluarga kecil tersebut.


Noriko dan keluarga memang tiba terlebih dahulu sebelum waktu lomba. Ada satu hari yang bisa dimanfaatkan untuk istirahat dan refresh otak. Tak jauh-jauh, mereka menghabiskan waktu cukup dengan keliling Kota Seoul. “Senang bisa coba memakai baju tradisional Korea Selatan, hanbok,” kata Noriko kepada Kaltim Post (Jawa Pos Group).


Kesempatan berjalan-jalan sebelum kompetisi ini cukup ampuh. Duo saudara Khang itu bisa menjalani lomba tanpa beban. Tepatnya saat kompetisi WMI 2018 berlangsung Sabtu (14/7). Jumlah kompetitornya tidak terhitung. Bahkan total peserta dalam ajang itu mencapai 1.200 orang.


Setidaknya ada 23 negara yang berpartisipasi dalam WMI 2018. Sebagian besar peserta berasal dari Asia misalnya Taiwan, Tiongkok, Singapura, Vietnam, Indonesia, dan Korea Selatan. Lalu ada pula dari Afrika Selatan, Bulgaria, Amerika Serikat, dan lainnya. Ribuan peserta ini terbagi dalam 13 kategori atau grade perlombaan. Mulai tingkat TK hingga SMA.


Pelaksanaan lomba seluruh kategori dilakukan secara bersamaan. Mereka hanya terpisah ruang untuk membedakan grade. Kiko, sapaan akrab Noriko, mengambil lomba untuk siswa level kelas 5 SD, sedangkan Shin Shi, sapaan Yuriko, dengan level kelas 3 SD. Meski berpartisipasi dalam kompetisi yang sama, Noriko dan Yuriko memiliki jalan yang berbeda hingga bisa menjadi peserta WMI 2018.


Kiko menjadi salah satu peserta yang datang berdasarkan undangan. Bukan tanpa alasan, perempuan yang duduk di bangku kelas 6 SD itu sudah pernah meraih medali emas WMI dua tahun berturut-turut. Sementara sang adik, Shin Shi masih harus menjalani proses seleksi agar bisa berkompetisi langsung di Negeri Ginseng tersebut.


Walau begitu, bocah yang duduk di bangku kelas 4 SD itu sudah punya pengalaman di ajang WMI. Dia berhasil menyabet medali emas WMI 2017 di Vietnam dan medali perak WMI 2016 di Kamboja.


Dalam kompetisi WMI, setiap peserta mendapatkan waktu selama 80 menit untuk menjawab pertanyaan. Ada 15 soal berbentuk pilihan ganda dan 10 soal dalam bentuk isian. Kiko bercerita, waktu yang diberikan panitia masih kurang. Dia tidak sempat memeriksa ulang jawabannya setelah mengisi lembaran soal itu.


Dia menambahkan, kesulitan bukan hanya soal waktu yang kurang. Sebagai peserta, Kiko justru merasa bahasa menjadi salah satu kendala selama kompetisi. Apalagi pendamping mereka hanya mampu berbahasa Mandarin dan Korea. Meski ada pula yang bisa berbahasa Inggris, namun pelafalannya tidak begitu jelas.


“Syukurnya itu tidak menghambat proses lomba karena soal tetap menggunakan bahasa Inggris. Walau memang ada bahasa yang seperti menggunakan Google Translate. Jadi bahasanya aneh,” ucapnya.


Setelah kompetisi berakhir, pengumuman dan penyerahan medali berlangsung 16 Juli. Hasilnya menggembirakan, dua saudara itu menyabet medali emas di masing-masing kategori. Tak hanya itu, Kiko juga membawa pulang piala “The Legend” karena berhasil meraih medali emas hingga tiga tahun berturut-turut.


Selain itu, kesempatan menjalin pertemanan dengan berbagai peserta dari negara lain menjadi perhatian bagi kedua anak cerdas tersebut. Apalagi setiap peserta dapat saling bertukar kado. “Saya paling banyak dapat kenalan dari Tiongkok karena mereka juga sudah sering ikut lomba. Kalau Shin Shi banyak kenalan dari peserta sesama Indonesia dan Taiwan,” ucap perempuan berusia 11 tahun itu.


Sukses meraih medali emas berkali-kali di WMI, Kiko mengungkapkan kuncinya karena banyak mempelajari soal untuk grade SMP. Sehingga dia tidak hanya menguasai materi yang sesuai dengan level sekolahnya. Selama ini, Kiko tak memiliki banyak waktu untuk persiapan WMI 2018. Sebelumnya waktunya banyak terpusat pada olimpiade matematika di Bulgaria.

Editor: Fadhil Al Birra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore