Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Februari 2018 | 21.40 WIB

Nasida Ria, Legenda Kasidah Indonesia yang Terus Bertahan (2/Habis)

Bassit Nasida Ria, Rien Jamain memegang foto grup Nasida Ria angkatan pertama - Image

Bassit Nasida Ria, Rien Jamain memegang foto grup Nasida Ria angkatan pertama


Ketekunan membaca dan luasnya materi bacaan sang penulis membuat lagu-lagu Nasida Ria bisa akurat menggambarkan masa depan. Dalam album terbaru yang sebagian sempat diperdengarkan ke Jawa Pos, ciri khas grup legendaris itu masih terjaga.


TAUFIQURRAHMAN, Semarang


---


USIANYA sudah sepuh, 70-an tahun. Tapi, kepekaan telinga KH Buchori Masruri terhadap nada masih sangat terjaga "Masuknya kurang pas, tolong diganti," kata komposer utama Nasida Ria tersebut begitu Choliq Zain memperdengarkan lagu yang bercerita tentang dunia yang kian transparan.


Sebelumnya, dalam perjalanan menuju rumah Buchori di kawasan Sambiroto, Semarang, Jawa Tengah, Choliq sudah memperdengarkan lagu itu kepada Jawa Pos. Lagu yang judulnya masih dirahasiakan itu bakal masuk album ke-35 grup kasidah legendaris Indonesia itu yang dirilis tahun ini.


Choliq adalah pemegang kendali manajemen grup yang telah berusia lebih dari empat dekade tersebut. Hari itu, Selasa pekan lalu (31/1), masih ada beberapa calon pengisi album baru Nasida Ria lain yang juga diperdengarkannya kepada Jawa Pos yang semobil dengannya.


Lagu-lagu baru itu kembali memperlihatkan ciri khas Nasida Ria selama ini. Lirik sarat nasihat, tapi dengan tetap terkait isu-isu terkini. Nuansa nada yang tentu saja tetap Islami. Dan, petikan mandolin serta gesekan biola yang terdengar sangat Arabik.


Salah satu lagu, misalnya, berkisah tentang dunia komunikasi era digital yang seakan tanpa batas dan sekat. Kebaikan dan keburukan tampak kentara. Tidak ada lagi rahasia, semua telanjang di hadapan teknologi informasi.


Di luar tembang mereka yang memuat pesan keagamaan, tak sedikit yang menyebut lirik-lirik Nasida Ria yang bercerita tentang masa depan bak ditulis oleh ahli nujum. Sebab, selalu tepat "meramal" apa yang akan terjadi. Sehingga membuatnya selalu relevan sepanjang masa.


Perdamaian adalah salah satu contoh. Puluhan tahun setelah dirilis, siapa yang bisa membantah relevansinya dengan kon­disi dunia zaman now? Bahwa begitu banyak orang yang mengklaim sebagai pencinta perdamaian. Tapi, toh perang terus saja terjadi di berbagai penjuru bumi.


Contoh lainnya Bom Nuklir, lagu yang masuk album ke-14 grup yang didirikan Malik Zain itu. Akan musnah kehidupan di bumi//Bila bom nuklir di ledakan//Akan musnah kehidupan di bumi.


Bukankah sampai kini ancaman perang nuklir itu yang masih terus ditakutkan warga bumi? Lihat, misalnya, kehebohan yang timbul akibat uji rudal Korea Utara.


Rien Jamain, salah satu personel Nasida Ria generasi pertama yang masih aktif sampai kini, merasakan betul keakuratan lagu-lagu karya Buchori dan Zain. Rien mengenang, ketika Zain meninggal karena kecelakaan mobil dalam perjalanan mengantar Nasida Ria tampil di Lamongan pada 1992, itu hanya berselang beberapa tahun setelah dia menciptakan lagu Tabrak Lari.


Lagu itu pun jadi seperti isyarat kepergian sang guru. "Rahasia Allah, siapa yang tahu," gumamnya dengan mata berkaca-kaca.


Buchori dan almarhum Malik Zain memang berada di balik ketepatan Nasida Ria dalam menggambarkan masa depan. Kolaborasi keduanya memainkan peran penting dalam keberhasilan Nasida Ria bertahan lebih dari empat dekade.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore