
BUS TIDAK BIASA: Ridho Aji Baskoro di samping bus yang sering dia kemudikan. Bus transpas itu biasa mengangkut narapidana Rutan Medaeng ke berbagai lapas di Jawa Timur.
Setelah rombongan napi pergi, Ridho dan Yuliadji tetap berada di samping bus di pinggir jalan. Mereka menunggu teknisi dari Surabaya yang membawa onderdil.
Pakaian dinas rapi yang digunakan Ridho dan bapaknya sudah ditanggalkan dari badan. Mereka duduk di pinggir bus hanya dengan kaus singlet. ”Onderdilnya harus cari di Surabaya. Adanya memang di sana,” tegas Ridho.
Ridho mengatakan, banyak pengalaman duka saat menjadi sopir pemindahan napi dari rutan ke lapas. Selama lebih dari dua tahun menggantikan posisi bapaknya, dia selalu mengalami peristiwa yang tak terlupakan.
Saat ke Lapas Madiun pada Maret 2016, rem bus yang dikendarai Ridho bersama rombongan rusak. Tidak bisa berfungsi karena tabung angin rem selalu penuh. Saat tabung penuh, bus mendadak mengerem sendiri.
Untuk mengatasi hal itu, Ridho memutar otak. Akhirnya dia yang saat itu bersama Simatupang memiliki ide untuk mengeluarkan angin dari tabung. Caranya, tabung angin ditarik dengan tali rafia untuk mengeluarkan anginnya.
Selama perjalanan, Ridho sering berteriak-teriak. Saat tabung sudah hampir penuh dan mau mengerem, Ridho selalu berteriak ke Siamatupang. ”Tarikkkk Banggggg!” kata Ridho, menirukan seruan saat itu.
Dengan cekatan, Simatupang langsung menarik tali rafia yang terhubung dengan tabung. Sesaat kemudian, terdengar bunyi cusss cukup keras. Suara angin keluar dari tabung.
Sejak awal menjadi sopir bus transpas, Ridho paham risiko yang akan dihadapinya. Dia sering mendengar cerita dari bapaknya tentang suka dan duka mengantar pelaku tindak pidana ke ”rumah” baru mereka.
Termasuk risiko harus bangun dini hari demi memindahkan para napi. Setiap ada pemindahan, Ridho harus datang lebih awal. Biasanya, pukul 02.30 dia sudah sampai di rutan.
Hal pertama yang dilakukan adalah mengecek kelaikan bus untuk jalan. Ridho memeriksa satu per satu bagian kendaraan. Bukan hanya mesin yang dipanasi. Baut pada ban pun dicek.
Termasuk kunci pengaman pintu yang harus berfungsi selama perjalanan. Tidak lupa, Ridho mengecek ada tidaknya botol bekas air mineral di masing-masing tempat duduk napi.
Botol tersebut merupakan salah satu peranti penting dalam pemindahan napi. Terutama saat penjara yang dituju cukup jauh dari rutan. Botol-botol itu digunakan untuk menampung air kencing napi di perjalanan.
Berfungsi sebagai ”toilet berjalan” karena tidak mungkin pemindahan terhenti di tengah jalan hanya gara-gara seorang napi kebelet pipis.
”Kalau berhenti di sembarang tempat, berbahaya,” ucap anak kedua di antara dua bersaudara itu. Bisa saja timbul kegaduhan. Bahkan, risiko napi melarikan diri pun cukup besar.
Karena itu, yang tidak bisa menahan kencing dapat memanfaatkan botol mineral yang sudah disediakan. Ridho memiliki pengalaman unik dengan botol-botol tak terpakai itu.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
