Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 November 2016 | 02.44 WIB

Ridho Aji Baskoro dan Warisan Pekerjaan Sopir Pemindahan Napi

BUS TIDAK BIASA: Ridho Aji Baskoro di samping bus yang sering dia kemudikan. Bus transpas itu biasa mengangkut narapidana Rutan Medaeng ke berbagai lapas di Jawa Timur. - Image

BUS TIDAK BIASA: Ridho Aji Baskoro di samping bus yang sering dia kemudikan. Bus transpas itu biasa mengangkut narapidana Rutan Medaeng ke berbagai lapas di Jawa Timur.

Ridho Aji Baskoro mewarisi pekerjaan bapaknya, Yuliadji. Dia adalah pengemudi bus transportasi pemasyarakatan (transpas) milik Rutan Kelas I Surabaya (Medaeng). Tiap pekan, dia memindahkan narapidana (napi) ke berbagai lembaga pemasyarakatan.





MAYA APRILIANI





PERISTIWA pada pertengahan Mei 2016 itu tak bisa hilang dari ingatan Ridho Aji Baskoro. Laki-laki 26 tahun tersebut masih ingat betul kejadian yang membikin dia jantungan. Kala itu, Ridho sedang menjalankan tugas. Mengantar 30 napi ke Lapas Pamekasan.



Di tengah perjalanan, kendaraan yang dikemudikannya mendapat cobaan. Baut di roda sisi kiri belakang mrotol. Tiga baut patah dan lepas dari ban. Tiga lainnya masih nyangkut, tapi kondisinya memprihatinkan. Hampir copot dari roda.



Tidak ingin mengambil risiko lebih parah, Ridho meminggirkan kendaraan berisi para napi hukuman tinggi tersebut. Untung, saat itu dia masih didampingi bapaknya, Yuliadji. Seorang petugas rutan, P. Simatupang, juga ikut bersamanya.



Termasuk dua polisi yang mengamankan pemindahan napi. Saat bus berhenti di tepi jalan, Ridho segera turun untuk mengecek kondisi kendaraan yang dikemudikannya itu. Dia dan bapaknya berusaha untuk memperbaiki kerusakan dengan sekuat tenaga.



Tak lupa, mereka juga menghubungi Lapas Pamekasan. Mengabarkan kejadian yang tengah dialami. ”Untungnya jarak lapas tidak jauh. Tinggal 5 kilometer lagi,” ucap Ridho saat ditemui di Rutan Medaeng, Kamis (27/10) siang.



Ridho pantas deg-degan. Dia sadar, kekuatannya dan tim saat itu tidak sebanding dengan jumlah napi di dalam kendaraan. Meski dibekali senjata, mereka kalah jumlah.



Jika ada pemberontakan dari para pelaku kejahatan, bukan tidak mungkin Ridho dan kawan-kawan menjadi korban. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, mereka pun mempersiapkan senjata.



”Pistol yang biasanya kosong kami isi peluru. Buat jaga-jaga,” imbuh Simatupang yang ikut berbincang dengan Ridho. Simatupang yang berbadan besar juga siaga di bagian sisi kiri kendaraan. Tepat pada bagian pintu utama.



Kakinya digunakan untuk mengganjal pintu bus agar tidak mudah dibuka. Saat itu, lanjut dia, ada napi yang ingin berulah. Dia beralasan borgol di tangannya kesempitan. Minta dikendurkan sambil berteriak-teriak dan memukul bus.



Permintaan itu tidak hanya dilontarkan sekali. Tapi, petugas tidak menanggapi. Hanya sekali borgol di tangan napi dibuat longgar. Petugas melonggarkan borgol dengan penuh kewaspadaan.



Tangan kiri dan kanan dua napi yang diborgol bersamaan dikeluarkan melalui pintu bus yang hanya terbuka sedikit. Dari luar, Simatupang melonggarkan borgol dengan kunci.



”Jadi, orangnya tidak turun bus. Hanya tangannya yang dikeluarkan,” lanjut dia seraya mempraktikkan cara melonggarkan borgol tersebut. Setelah menunggu sekitar setengah jam, bantuan dari lapas datang.



Ada 15 sipir yang tiba di lokasi bus untuk menjemput napi. Mereka menggunakan dua Isuzy Elf sewaan dan mobil tahanan lapas. Tetap dengan pengamanan pihak kepolisian.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore