Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Februari 2018 | 15.00 WIB

Videokan Ritual Adat dan Susun Kurikulum Pendidikan

Penggagas Sekolah Adat Bayan Renadi - Image

Penggagas Sekolah Adat Bayan Renadi


Awalnya ada dua pilihan. Yaitu, apakah memasukan pelajaran budaya ke sekolah formal atau membuat sekolah non formal dalam konsep adat. Jika masuk sekolah formal, ada beberapa kendala. Baik dari segi kurikulum maupun guru. Menurut dia, di sekolah formal banyak guru dari luar, sehingga tidak mengetahui Adat Bayan. Akhirnya, sekolah non formal yang menjadi pilihan.


Sekretaris Lembaga Pranata Adat Gubuk Karang Bajo-Bayan itu mengatakan, banyak kendala yang dihadapi. Pertama, belum adanya konsep pembelajaran adat, mencari guru pun tidak mudah, dan anggaran yang tidak ada. Akhirnya, pada empat September lalu, pihaknya nekat melaksanakan pembelajaran. Dia dibantu Rainom dan Tjatur Kukuh dari Santri Foundation dan teman-teman dari Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN). Sambil jalan, dia akan menyusun konsep kurikulum pendidikan.


Kertamalip, kepala Desa Karang Bajo mengatakan, dia sangat mendukung Sekolah Adat Bayan. “Ini program yang sangat bagus,” tutur dia. Pihak desa sudah berupaya membantu menyediakan buku untuk perpustakaan sekolah desa. Pengadaan buku diambil dari anggaran desa.


Menurut dia, sekolah adat perlu didorong agar anak muda tetap mengetahui budaya dan adat yang ada. Sebab, tutur dia, saat ini banyak dari mereka yang tidak mengetahui.



Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore