Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Februari 2018 | 15.00 WIB

Videokan Ritual Adat dan Susun Kurikulum Pendidikan

Penggagas Sekolah Adat Bayan Renadi - Image

Penggagas Sekolah Adat Bayan Renadi


Menurut Renadi, kegiatan diskusi sudah lama diadakan, yaitu sebelum didirikan sekolah adat. Acara itu sangat penting agar para pemuda tidak lupa dengan budaya yang mereka miliki. Mereka cukup antusias setiap kali mengikuti acara diskusi.


Tidak hanya itu, melalui sekolah adat, dia juga membuat video tentang ritual adat. Setiap kali ritual dilaksanakan, pihaknya melakukan perekaman. Misalnya, ritual Maulid Bayan, yaitu acara adat yang dilakukan saat perayaan maulid nabi. Ritual itu diadakan selama dua hari, pada 14-15 Robiul Awal sesuai Kalender Bayan.


“Diadakan setelah perayaan maulid nabi,” ucap alumnus STKIP Hamzanwadi Selong itu.


Ritual Idul Fitri juga didokumentasikan. Salat id sama dengan lainnya, tapi setelah salat masyarakat berkumpul dengan mambawa makanan. Selanjutkan, mereka pun menikmati hidangan itu bersama-sama. Acara itu bisa merekatkan silaturahmi di antara warga. Mereka bisa merayakan hari kemenangan bersama-sama.


Renadi mengatakan, pihaknya juga mendokumentasikan mejojo. Yaitu, ritual doa bersama untuk kelestarian hutan dan laut. Semua kegiatan itu direkam. Video itu digunakan untuk bahan pembelajaran bagi siswa sekolah adat. Mereka bisa belajar melalui video.


“Rekaman video juga di-upload di facebook dan youtube,” terangnya.


Sekarang, lanjut dia, pihaknya juga sedang membuat drama yang bercerita tentang seni cupak gurantang, sebuah cerita rakyat yang cukup terkenal di wilayah Bayan. Cerita itu dipentaskan dalam bentuk drama dan direkam menjadi video, sebagai bahan untuk pendidikan adat. Para siswa tentu akan mudah mengetahui cerita rakyat.


Anak dari pasangan Singayang dan Indrani itu mengatakan, sekolah adat tidak berhenti hanya belajar tari dan musik. Saat ini, dia bersama beberapa temannya sedang menyusun kurikulum sekolah adat. Ada banyak program yang akan dilaksanakan. Kurikulum itu akan dibagi sesuai kelas usia.


Siswa usia 3 – 6 tahun akan belajar permainan tradisional. Seperti slodor, slentik, niningsih dan permainan lainnya. Semua permainan itu sangat bermanfaatkan, karena ada nilai edukasinya. Bagaimana mereka diajak berolah fisik, bersosial dan berorgansasi.


Sementara Anak usia 7 – 12 tahun akan belajar tentang lingkungan dan ritual. Belajar bagaimana menjaga alam dan ritual yang dilakukan untuk melestarikan alam. Menurut dia, generasi muda harus mencintai dan menjaga alam, sehingga alam sekitar tidak rusak dan tetap lestari.


Sedangkan siswa usia 13 – 19 tahun akan belajar tahapan dan rangkaian ritual adat. Misalnya, rangkaian perkawinan adat, khitanan, maulid adat dan tahapan adat lainnya. “Tidak mudah membuat kurikulum, karena belum ada buku panduan,” tutur dia.


Pria berusia 35 tahun itu menerangkan, belum ada daerah yang mempunyai sekolah adat. Kalaupun ada paling hanya berupa sanggar. Belum ada yang mempunyai sekolah. Menurut dia, sebenarnya sudah cukup lama muncul ide membentuk Sekolah Adat Bayan.


Ide itu muncul pada 2013. Saat Lembaga Pranata Adat Gubuk Karang Bajo-Bayan sedang menyusun program jangka pendek, menengah dan panjang. Muncul gagasan mendirikan sekolah budaya.


“Awalnya bukan sekolah adat, tapi sekolah budaya,” ucapnya.


Selanjutnya, pada 2014, dia mengikuti kegiatan yang diadakan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman). Dalam pertemuan itu, dia bertemu dengan perwakilan dari berbagai daerah. Ada yang dari Banten, Batak dan daerah lainnya. Dia bertukar pikiran dan menyampaikan gagasan sekolah adat. Ia pun semakin mantab, namun ide itu belum bisa diterapkan.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore