Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 25 April 2018 | 00.19 WIB

Saut Situmorang, Komisioner KPK Dengan "Kekasih" Saksofonnya

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dengan saksofonnya. - Image

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dengan saksofonnya.


Persis karaoke pada umumnya, Saut hanya meniup saksofon ketika part musik masuk track vokal. Suara tunggal saksofon itu layaknya instrumen sebuah lagu.


"Sebenarnya ada grup, tapi untuk sementara kalau lagi sibuk kadang-kadang susah (ngumpul, Red)," tuturnya. "Jadi, saya main (saksofon) dengan ini (minus one)," imbuh wakil ketua KPK tersebut.


Pagi itu Saut "bercumbu" dengan saksofon sopran profesional Yamaha YSS-675. Alat musik itu merupakan satu di antara tiga saksofon miliknya. Selain sopran, Saut punya jenis alto dan tenor.


Saksofon kelas profesional tersebut biasa digunakan musisi seperti Kenny Gorelick alias Kenny G. Di bawah kelas itu, para penggemar saksofon biasanya menggunakan saksofon student (pemula).


Sudah dua dekade Saut mengakrabi saksofon. Tapi, tak pernah sampai menapak fase profesional atau komersial. Hanya hobi.


"Sebenarnya untuk melatih napas saja. Kalau (kondisi tubuh) nggak baik, cepet capek biasanya," ucap mantan anggota Badan Intelijen Negara (BIN) itu.


Meski hanya hobi, pengetahuan Saut soal saksofon tidak bisa dianggap remeh. Termasuk jenis dan kualitasnya.


Misalnya, bagian reeds (buluh bambu) dan mouthpiece (bagian saksofon yang penggunaannya ditempatkan di bibir, Red). "Kalau pakai reeds (ketebalan) 2 lebih tipis, niupnya jadi lebih gampang, yang lebih melengking pakai 3,5," katanya.


Saut mulai belajar saksofon secara mandiri pada 1997. Semasa masih bertugas sebagai diplomat di Kedutaan Besar RI (KBRI) di Singapura. Tanpa kursus.


Dia jatuh cinta dengan instrumen tersebut karena bunyi yang dihasilkan membuatnya kelepek-kelepek.


Kebetulan, sejak kecil memang dia gemar mendengarkan musik. "Agak lama bermain alto student (pemula)," ujarnya.


Semakin lama Saut kian menikmati bermain saksofon. Setiap ada waktu luang, dia memainkannya.


Saut lantas membeli saksofon tipe profesional di Singapura pada 2000 seharga SGD 5.000 atau sekitar Rp 30 juta (kurs saat itu). "Dulu dianggap main saksofon dianalisis (secara intelijen) macam-macam. Padahal, saya hanya suka," ucapnya, lantas tersenyum.


Untuk mempertahankan kualitas suara, Saut tidak pernah ketinggalan tentang informasi suku cadang saksofon terbaru. Untuk reeds, misalnya, Saut saat ini menggunakan merek Flying Goose buatan Tiongkok yang harganya relatif kelas menengah. Dia juga tidak pernah absen ke tukang servis bila suara saksofon tidak sesuai dengan tekanan tiupan.


Bukan hanya soal perawatan, Saut juga tidak mau ketinggalan tentang perkembangan instrumen atau lagu. Agar terus update, radio menjadi salah satu media memantau lagu.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore