
DEMI FILM LAMA: Firdaus sedang serius membersihkan pita-pita seluloid film-film lama.
Suka menonton film-film lama Indonesia yang diputar ulang di televisi atau bioskop, misalnya Tiga Dara? Bisa jadi, ada peran tangan Firdaus di sana. Sebab, dialah yang selama ini menjaga film lama agar kondisinya tetap baik saat dialihmediakan menjadi format lain yang lebih canggih.
DHIMAS JAKARTA, Jakarta
BAU menyengat seperti tiner cat langsung menusuk hidung saat Jawa Pos mengunjungi ruang perawatan film milik Sinematek Indonesia di gedung Pusat Perfilman H Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, Senin (28/11). Baunya makin tidak nyaman karena sirkulasi udara minim. Ruangan itu berada di basement.
”AC-nya mati. Jadi seperti ini, bau dan sepi,” kata Firdaus di sela-sela kesibukannya membersihkan pita-pita film tanggung jawabnya. Saat itu jempol dan telunjuk kirinya mengapit pita seluloid dengan kain putih. Tangan kanannya menggerakkan pemutar untuk menggulung pita tersebut pelan-pelan.
Bau menyengat itu berasal dari tiga sumber sekaligus. Salah satunya pita seluloid yang berlapis emulsi perak halida dengan bau khasnya. Aromanya beradu dengan trichloroethylene (TCE) atau aseton yang dituangkan dalam kain putih untuk pembersihnya. Kadang dia juga menggunakan cairan etanol 95 persen.
Firdaus membiarkan hidungnya dengan telanjang menghirup bau tersebut. Memang, semestinya dia perlu masker untuk melindungi organ pernapasannya. Tapi, Firdaus tidak melakukan. Alasannya sederhana, dia sudah terbiasa begitu. ”Saya sudah menjalankan tugas ini sejak 1996. Indra penciuman saya sudah kebal,” kata bapak satu anak itu.
Setiap hari Firdaus mesti membersihkan pita seluloid film-film yang mayoritas diproduksi sineas dalam negeri tersebut. Jam kerjanya mulai pukul 09.00 sampai 16.00. ”Kalau pita negatif, satu hari satu judul film. Kalau pita positif, biasanya sehari bisa dua judul,” ujarnya tanpa menatap objek kerjanya. Pertanda dia sudah mahir melaksanakan tugas itu.
Menurut Firdaus, pembersihan pita seluloid tersebut membutuhkan waktu cukup lama karena satu judul film bisa lebih dari satu rol. Yang saat itu dia kerjakan adalah film dokumenter ABRI Masuk Desa buatan 1993 yang direkam dalam rol kecil. ”Paling banyak film G 30 S/PKI, sampai 15 rol,” ucapnya.
Di tengah pembicaraan, teknisi gedung datang bersama Budi Ismanto, rekan Firdaus yang baru beberapa bulan bergabung. Mereka lalu menyalakan AC yang mati. Ketika AC akhirnya hidup, suara mesin terdengar berisik. Tak berapa lama kemudian, hawa gerah di ruangan pun mulai dingin dan bau menyengat hidung perlahan menghilang.
Pembersihan film, jelas pria 45 tahun itu, cukup lama juga karena tidak boleh ada sisa cairan kimia di pita seluloid. Karena itulah, Firdaus dan Budi perlu mengulang membersihkan pita sampai empat kali. Dan, supaya lebih cepat kering, dia perlu mengeringkannya dengan bantuan kipas angin yang dia pasang di sisi kanan mejanya. ”Dengan cara ini pita filmnya jadi tetap bagus. Saya juga tidak sampai masuk angin,” kelakarnya.
Selesai membersihkan pita film dokumenter milik Puspen TNI itu, Firdaus beranjak menuju meja besar di depannya. Ada layar dan beberapa panel yang disebutnya sebagai editing table. Di situlah dia mengecek hasil kerjanya.
Setelah semuanya dipastikan beres, pita film yang sudah dibersihkan dimasukkan ke dalam wadah khusus yang kering. Firdaus lalu menunjukkan mesin pembersih canggih yang merupakan hibah pemerintah Jepang. ”Tapi, mesin ini sudah hampir sepuluh tahun tidak bisa digunakan. Rusak. Tidak ada spare part-nya,” terang dia. Saat mesin itu masih berfungsi, ujar Firdaus, tingkat kebersihan pita seluloid yang dibersihkan bisa mencapai 100 persen. Hanya, prosesnya lama.
Firdaus juga mengajak Jawa Pos ke ruang penyimpanan film. Di dalam ruangan itu terdapat rak bersusun dengan tumpukan rol film yang diwadahi plastik. Dia mengatakan, ada seribuan judul film yang tersimpan di ruangan tersebut. Paling banyak berbentuk pita seluloid, lalu laser disc dan aneka bentuk video format VHS maupun Betamax.
”Film tertua di sini Tie Pat Kai Kawin (Siloeman Babi Perang Siloeman Monjet). Sutradaranya The Teng Chun, buatan 1935,” urainya. Sedangkan koleksi terbarunya adalah Rumah tanpa Jendela yang dirilis pada 24 Februari 2011 dengan sutradara Aditya Gumay. Untuk film-film yang diproduksi akhir-akhir ini, banyak yang tidak disimpan di Pusat Perfilman H Usmar Ismail karena mayoritas sudah berbentuk digital.
Firdaus lantas mengambil film Tiga Dara dan Lewat Djam Malam yang baru-baru ini direstorasi untuk keperluan pembuatan film baru lagi. Kata dia, master atau negatif film Tiga Dara masih tersimpan dengan baik di Sinematek.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
