
TETAP GARANG: God Bless saat tampil di JogjaROCKarta di Stadion Kridosono, Kota Jogja (1/3/2020).
Selama lima dekade, God Bless memberi pengaruh besar kepada skena musik Indonesia tentang panggung, adaptasi, dan konsistensi.
FAHMI SAMASTUTI, Surabaya
---
BAGI Log Zhelebour, God Bless adalah ’’si sulung’’ pembuka jalan. Logiss Record, perusahaan rekaman yang dia dirikan, serta seluruh band dan musisi yang bernaung di bawahnya, tumbuh bersama Ahmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah, dan para personel yang sempat keluar masuk.
’’Bisa dibilang, kami ini belajar sambil membuat sejarah,” katanya kepada Jawa Pos di Surabaya kemarin (4/5).
Kami yang dimaksud Log bahkan bisa diterjemahkan lebih luas lagi: Indonesia. Hari ini, tepat di 50 tahun kelahirannya, God Bless telah memberi pengaruh begitu besar bagi skena musik tanah air, khususnya rock. Mulai dari gaya panggung, penulisan lirik, pengaturan aransemen, sampai konsistensi berkarya.
’’Dulu memulai, tidak pernah berpikir sejauh ini. Alhamdulillah, teman-teman tetap berkomitmen untuk tetap bersatu apa pun yang terjadi,” kata Iyek, sapaan akrab Ahmad Albar, dalam pernyataan tertulis yang diterima Jawa Pos kemarin.
Mereka membuka jalan tentang bagaimana membuka konser sebuah band dunia, Deep Purple, pada 1975. Pada ’’Musisi’’ yang termaktub di album ’’Cermin” dan sampai sekarang masih sering jadi lagu wajib festival musik, mereka menunjukkan bagaimana musik berkualitas bakal melintas waktu.
Mereka juga, saat merilis album ’’Semut Hitam’’, memperlihatkan bagaimana beradaptasi dengan usia dan zaman. Dan, menjadi pembuka Deep Purple lagi pada Maret lalu adalah bukti betapa tak pernah sia-sia ’’kukejar prestasi itu, seribu langkah kupacu’’.
Paul Heru Wibowo, pengamat musik, menyebut perubahan yang dilakukan God Bless pada ’’Semut Hitam’’ sebagai bentuk keluwesan mereka merespons era dan pasar. Meninggalkan kerumitan di album sebelumnya, ’’Cermin’’, yang meskipun secara estetis diakui, jeblok di pasaran.
Ada bebunyian, kata Paul, yang sangat Indonesia di album yang dirilis pada 1988 tersebut. Iyek pun, seiring performa vokalnya yang tergerus umur, juga menampakkan cengkok khasnya. Lagu-lagu mereka pun jadi lebih mudah diikuti penggemar yang ingin sekadar ikut bernyanyi di konser.
’’Sekarang, coba dengerin ’Semesta’, ’Rumah Kita’, itu suara Indonesia. Suara yang tidak terlalu tinggi atau rendah. Kalau nyanyi bareng itu, bisa,” kata dosen Universitas Multimedia Nusantara Jakarta tersebut.
Secara khusus, Paul mengapresiasi Log Zhelebour yang dinilainya jadi ”kuncian” God Bless. Di tangan produser asal Surabaya itu, band pelantun Rumah Kita tersebut menjadi standar di musik rock. Baik dalam hal karya maupun penampilan panggung.
Log mengenang, yang ada di benaknya saat itu, God Bless yang lama vakum dan tak merilis album harus jadi pionir dan kudu sukses. Sebuah ambisi yang tak mudah diwujudkan. Sebab, industri hiburan Indonesia karut-marut kala itu.
Kontrak tampil antara artis dan promotor tidak menguntungkan. Kadang si artis rugi, tapi tak jarang pula sang promotor yang harus nombok.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
