
PANTANG MENYERAH: Sudana menunjukkan blower dan pipa besi buatannya untuk menyedot dan mengalirkan air ke lahan sawah.
Kepala Desa Kedinding ini tergolong ”plus”. Inovasinya di bidang pengairan sawah membantu banyak warganya yang petani. Pemanfaatan alat pompa air bersistem baling-baling itu kini sudah mulai menyebar ke desa-desa sekitar.
FIRMA ZUHDI AL FAUZI
SAAT ditemui Rabu (9/11), Sudana sedang sibuk di belakang rumahnya, Dusun Kedinding, Desa Kedinding, RT 10, RW 3, Kecamatan Tarik.
Tangannya membersihkan daun bambu kering yang memenuhi bagian atas pipa besi buatannya. Pipa besi berukuran 12 dim itu dibuat khusus dari besi sisa hasil usahanya sebagai pengepul besi.
Pipa itu akan digunakannya untuk mengalirkan air dari afvoer ke sungai tersier dan sawah setelah disedot dari mesin blower modifikasinya. Setelah pipa tersebut bersih dari kotoran, Sudana menutupnya dengan terpal agar awet.
Mesin blower yang digunakan Sudana itu boleh dibilang istimewa dan inovatif. Istimewa, karena mesin itu karya dia sendiri. Inovatif, karena cara kerja mesin tersebut mengadopsi sistem baling-baling kapal.
”Mesin penggeraknya sama dengan umumnya, yakni menggunakan mesin diesel 12 pk atau 24 pk. Tapi, ditambah baling-baling kapal di pipa penyedotnya, biar air mudah terdorong ke atas,” ujar Sudana.
Baling-baling itu diletakkan di dalam pipa dan dimasukkan ke sungai. Fungsinya, mengangkat air yang letaknya lebih rendah daripada posisi sawah.
Jika baling-baling kapal digunakan untuk mendorong kapal agar bisa maju, pemasangan baling-baling pada blower ini dibalik. Dengan begitu, air tertarik ke atas.
Sebab, jika pemasangannya sama dengan baling-baling kapal, air malah akan terdorong dan tidak bisa tersedot. Keuntungannya, volume air yang terangkat akan semakin banyak.
Selain itu, sistem tersebut membuat tenaga yang dikeluarkan diesel menjadi lebih sedikit. Mesin diesel tidak mudah panas karena daya sedotnya dibantu baling-baling. Bahkan teruji mampu mengangkat air dari posisi yang dalam.
Agar performanya lebih maksimal, sekeliling pipa yang dimasukkan di afvoer untuk menyedot tadi ditambahkan penyaring dari besi. Dipasang mengelilingi pipa agar bisa menyaring kotoran dari sungai yang menghambat penyedotan air.
”Ini terpikir pada 2014,” lanjut pria kelahiran Sidoarjo, 7 Agustus 1968, itu. Idenya untuk membuat alat itu muncul saat petani di Desa Kedinding mengalami gagal panen pada 2013.
Penyebabnya bukan hama, melainkan pengairan sawah yang bermasalah. Sebelum sampai ke desa mereka, air sudah habis duluan untuk mengairi sawah yang berada di desa sebelah barat. Posisi lahan di sana lebih tinggi.
Lahan persawahan di Desa Kedinding memang berada paling ujung dari lokasi lahan sawah yang dialiri air dari afvoer Balong. ”Sampai Desa Mliriprowo saja air sudah habis kalau sedang musim tanam, jarang sampai sini,” ujar suami Piyarti Sari itu.
Hingga awal 2014, kondisinya masih sama. Kondisi itulah yang menggerakkan Sudana berpikir keras. Menghadapi masalah keterbatasan air, dia teringat pesan keluarga-keluarganya dulu.
”Langsung terngiang, masyarakat itu kalau nggak ada padi masih bisa hidup. Tapi, kalau nggak ada air, sudah pasti nggak bisa hidup,” ujar bapak dua anak itu.
Tak ingin berlarut-larut, dia segera menggunakan mesin pompa diesel untuk mengaliri sawah-sawah di desanya. Namun, hasilnya tidak maksimal. Diesel itu cepat panas karena kondisi sungai yang airnya dalam.
Belum lagi, lokasi sawah yang lebih tinggi daripada sungai membuat mesin diesel bekerja lebih berat untuk menyedot air. Solusi lain dia upayakan. Yakni, membuat saluran got di samping-samping sawah.
Tapi, itu tetap tidak efisien. Sebab, petani harus bekerja keras dan butuh waktu yang lama untuk membuat got tersebut. Akhirnya, saat melihat kincir air di tambak-tambak di Kabupaten Lamongan, ide itu pun muncul.
Dia terinspirasi untuk mengadopsi mekanisme kerja kincir air dalam bentuk baling-baling. Sudana langsung membeli baling-baling di toko dan memasangnya ke dalam pipa besi yang sudah dia rakit sedemikian rupa.
Untuk memutar baling-baling tersebut, dia menghubungkannya dengan mesin diesel. Ternyata, usahanya berhasil.
”Musim hujan atau kemarau pun, mesin digunakan terus,” tuturnya. Saat musim kemarau, satu mesin blower rata-rata bisa mengairi sekitar 5 hektare lahan. Sedangkan pada musim hujan, yang terairi bisa sampai 25 hektare.
”Kalau musim hujan tanahnya bisa basah terus karena sudah terbantu air hujan,” jelas Sudana. Mengairi 124 hektare lahan padi di Desa Kedinding cukup dengan menggunakan dua blower. Hasilnya maksimal.
Penggunaannya bergiliran. Berkat inovasi itu, sejak akhir 2014 petani di Desa Kedinding tak lagi mengalami gagal panen gara-gara kekurangan pasokan air.
”Dulu selalu rugi. Bisa sampai Rp 1,3 miliar kalau enggak ada air,” jelas bapak Prabata Ferdyansyah itu. Alat karya Sudana itu kini diminta banyak desa lain.
Apalagi, harga pembuatannya tergolong murah. Sekitar Rp 5 juta per alat. Biaya operasionalnya juga lebih murah bila dibandingkan dengan menggunakan diesel biasa.
”Saya sudah membuat 13 alat itu untuk desa-desa di Kecamatan Tarik. Untuk Sidoarjo baru saya mulai,” tutur Kades Kedinding dua periode tersebut. (*/c10/pri/sep/JPG)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
