
Abdi Utami dan Paramita sedang mengalihaksarakan naskah Babasan lan Saloka di kantor Yayasan Sastra Lestari, Kota Solo, Jumat (5/10).
Sejak 1997, Yasri berjibaku menyalin naskah-naskah kuno beraksara Jawa ke dalam tulisan Latin yang diunggah ke website. Berbeda dengan lembaga lain yang cenderung melakukan preservasi naskah dengan cara memotret atau memindai lembar demi lembar, Yasri memilih menyelamatkan dulu isi naskah-naskah tersebut. Alasannya, berkejaran dengan waktu. Tenaga dan sumber daya yang mampu melakukan alih aksara terbatas. Sementara itu, naskah-naskah terus berdatangan. Beberapa kondisinya hampir rusak.
Ide awal dimulai oleh John Paterson, seorang berkebangsaan Australia yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Dia akhirnya bergabung dengan para penggiat budaya dan sastra. Salah satunya adalah Agus Momanat. Mereka berdualah yang mendirikan Yasri.
John menuturkan, pada 1990-an dirinya sering berkeliling Solo. Saat itulah dia menemukan lembaran-lembaran naskah terserak di antara keranjang pedagang loak, tergeletak berdebu di atas lemari, atau terserak di beberapa perpustakaan. John sempat beberapa kali menengok naskah-naskah loak tersebut. Terkaget-kaget setelah melihat isinya. "Banyak kebijaksanaan yang dimiliki bangsa ini justru ada di naskah-naskah yang dibuang itu," katanya saat berbincang dengan Jawa Pos beberapa waktu lalu.
John menemukan filosofi persatuan "sapu lidi" yang mungkin sudah sangat akrab di telinga orang Indonesia. Filosofi tersebut ternyata berasal dari ungkapan "sapu ilang suhe". "Ungkapan ini banyak muncul di dalam naskah bebasan dan saloka, dongeng, cerita kancil, bauwarna/bausastra, juga di majalah mingguan kejawen," jelasnya.
Agus lantas menambahkan, sejak saat itu muncul ide di kalangan penggiat budaya di Solo untuk membentuk lembaga pelestari naskah. "Kami resmi berdiri 1997," kata Agus. Sejak itu banyak yang memiliki naskah Jawa, tapi tidak tahu artinya, menyumbangkan naskahnya ke Yasri.
Satu naskah disumbangkan seorang pedagang barang antik pada 1990-an. Saat itu pedagang tersebut mengaku baru membeli sebuah peti kayu. Dia menemukan beberapa lembar naskah bertulisan aksara Jawa. Namun, dia tidak bisa membaca aksara Jawa. Mendengar ada beberapa akademisi UNS yang sedang mengumpulkan naskah Jawa, pedagang itu lantas mendatangi John dan Agus.
Naskah tersebut ternyata ditulis Demang Warsapradongga, seorang pejabat niaga dari Kepatihan Kasunanan Surakarta. Disusun pada era kisaran 1893-1906. Isinya memuat bentuk-bentuk notasi gending-gending Surakarta. Di dalamnya termasuk gending-gending yang umum, tidak biasa, dan baru menurut musikologi. "Saya kaget, penting sekali isinya," tutur John.
Sang penulis membubuhkan mukadimah dalam naskah tersebut yang bunyinya (kurang lebih): "...Agar (gending-gending Surakarta, Red) nanti bisa diingat untuk selamanya. Jadi tidak akan hilang. E, seperti itulah tujuan seorang niyaga...," tulis Warsapradongga. Ironisnya, kata John, walaupun ditulis supaya gending-gending Surakarta tidak hilang, naskah itu justru menjadi alas di dalam sebuah peti. "Karena hal-hal seperti inilah Yasri lahir," kenang John.
Pada Oktober 2018, situs sastra.org telah meregister lebih dari 1.425 naskah/buku langka. Lengkap dengan katalog dan dipajang menjadi 2.451 koleksi digital. Situs itu juga didukung sistem leksikon untuk menemukan istilah-istilah rumit dengan bersumber pula pada 31 sumber kamus (bausastra), sinonim (dasanama), glosari, hingga daftar kata lain. Jumlah yang berhasil dihimpun mencapai 153.269 entri berisi sekitar 18,6 juta kata.
Rumah putih kantor Yasri di Timuran juga masih sering dikunjungi para pelajar, dosen, peneliti, hingga masyarakat umum. Ada yang sekadar melihat-lihat koleksi naskah, ada pula yang mencari referensi.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
