Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Mei 2018 | 19.21 WIB

Kisah Dua Sahabat yang Terpisah oleh Adat

Narip, 23, alias Idong (baju putih), berpose dengan sahabat karibnya Samani, 21, alias Yayat, di Jembatan Akar, kawasan Badui Luar - Image

Narip, 23, alias Idong (baju putih), berpose dengan sahabat karibnya Samani, 21, alias Yayat, di Jembatan Akar, kawasan Badui Luar

Meski masih mempertahankan adat dan budayanya, namun ada hal yang berbeda antara masyarakat Suku Badui Dalam dengan masyarakat Suku Badui Luar. Anak Suku Badui Dalam pada umumnya masih mengenakan pakaian adat dalam kesehariannya. Namun, bagi masyarakat Suku Badui Luar, ada sedikit perbedaan yang mencolok. Mereka sudah bisa memakai pakaian bebas seperti kaus, kemeja, dan celana. Ke mana-mana juga memakai alas kaki dan bisa naik kendaraan umum seperti halnya masyarakat luar Badui pada umumnya. Suku Badui sendiri berdiri di atas tanah ulayat seluas 5136,8 hektare, yang terbagi menjadi 62 kampung. Yakni 59 kampung terletak di Badui Luar, serta 3 kampung berada di wilayah Badui Dalam.



Oleh : Kuswandi



Samani, 21, kini tampil beda. Mengenakan kaus hitam dipadu celana pendek dan sandal jepit, pria satu anak ini memang tak tampak seperti warga Suku Badui pada umumnya. Satu-satunya yang mencirikan dirinya masih bagian dari warga Badui adalah adanya ikat kepala warna biru dan hitam (lomar) yang dia kalungkan di lehernya. Ikat kepala warna biru dan hitam inilah yang menjadi identitas diri sebagai masyakarat Suku Badui Luar.


Samani atau yang akrab disapa Yayat, dulunya adalah bagian dari warga Suku Badui Dalam. Saat JawaPos.com berjumpa dengannya empat tahun silam, dia masih 'gagah' memakai pakaian adat khas warga Suku Badui Dalam yang identik dengan warna putih. Ke Jakarta pun, dia masih berjalan kaki tanpa menggunakan alas kaki.


Namun, sejak dirinya mempersunting Sani, 18, seorang gadis dari warga Suku Badui Luar sekitar 2 tahun silam, maka praktis, sesuai aturan adat, dia harus keluar dari wilayah Suku Badui Dalam dan tinggal di wilayah Suku Badui Luar.


Semenjak saat itu kehidupannya pun sedikit berubah. Dia bisa jalan-jalan dengan menggunakan kendaraan bermotor, naik kereta api, memakai pakaian bebas seperti masyarakat luar Badui pada umumnya, serta memiliki handphone. Kini, dia pun sudah pandai mengirim pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp kepada setiap pengunjung yang hendak di antarnya ke pemukiman Suku Badui Dalam.


"Aku di warung pojok ya belakang patung. Nanti kalau sudah sampai Terminal Ciboleger, kalau ada yang tanya bilang saja sudah janjian sama Yayat," demikian pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp yang dikirim Yayat kepada JawaPos.com, sebelum melakukan perjalanan ke wilayah perkampungan Suku Badui Dalam, Sabtu (28/4) kemarin.


Hampir sepanjang perjalanan yang memakan waktu sekitar delapan jam untuk memasuki wilayah Badui Dalam, Yayat juga kerap sibuk memainkan handphone-nya. Tak jarang dia pun menyempatkan diri membalas berbagai pesan singkat dari beberapa koleganya ketika mendapat sinyal.


Berbeda dengan Yayat, Narip alias Idong, 23, sahabatnya, hingga saat ini masih mempertahankan adat dan budayanya. Setiap hari, dia pun masih mengenakan pakaian adat khas Suku Badui Dalam. Pergi ke mana pun juga masih jalan kaki tanpa menggunakan alas kaki, meski memakan waktu berhari-hari.


"Saya baru pulang dari Jakarta dengan jalan kaki. Di sana sekitar sepuluh harian," kata Idong kepada JawaPos.com, di kediamannya di Kampung Cibeo, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.


Yayat dan Idong merupakan sahabat lama yang kini terpisah oleh aturan adat. "Kami berteman sejak kecil, dulu kita suka main bola pakai jeruk," kata Idong dengan semangat saat menceritakan kisah persahabatannya dengan Yayat.


Idong masih tinggal di kawasan Badui Dalam, karena memilih Asih, 23, perempuan Badui Dalam sebagai pendamping hidupnya.


"Saya menikah sudah sekitar empat tahun lalu. Dijodohkan orang tua,” kata Idong dengan malu-malu. Kini, dari buah pernikahannya dengan sang istri, Idong memiliki seorang anak laki-laki bernama Carma, 2.


"Kasihan sampai sekarang belum bisa jalan," ucapnya memelas sembari melihat wajah Carma.


Sementara, sejak dua tahun lalu mendekati Sani, 18, seorang perempuan Suku Badui Luar, usai menikah, Yayat terpaksa tinggal kawasan Badui Luar bersama istrinya. Ini karena aturan adat tak memperbolehkannya lagi tinggal di wilayah Badui Dalam karena mempersunting orang Badui Luar.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore