
Narip, 23, alias Idong (baju putih), berpose dengan sahabat karibnya Samani, 21, alias Yayat, di Jembatan Akar, kawasan Badui Luar
Meski masih mempertahankan adat dan budayanya, namun ada hal yang berbeda antara masyarakat Suku Badui Dalam dengan masyarakat Suku Badui Luar. Anak Suku Badui Dalam pada umumnya masih mengenakan pakaian adat dalam kesehariannya. Namun, bagi masyarakat Suku Badui Luar, ada sedikit perbedaan yang mencolok. Mereka sudah bisa memakai pakaian bebas seperti kaus, kemeja, dan celana. Ke mana-mana juga memakai alas kaki dan bisa naik kendaraan umum seperti halnya masyarakat luar Badui pada umumnya. Suku Badui sendiri berdiri di atas tanah ulayat seluas 5136,8 hektare, yang terbagi menjadi 62 kampung. Yakni 59 kampung terletak di Badui Luar, serta 3 kampung berada di wilayah Badui Dalam.
Oleh : Kuswandi
Samani, 21, kini tampil beda. Mengenakan kaus hitam dipadu celana pendek dan sandal jepit, pria satu anak ini memang tak tampak seperti warga Suku Badui pada umumnya. Satu-satunya yang mencirikan dirinya masih bagian dari warga Badui adalah adanya ikat kepala warna biru dan hitam (lomar) yang dia kalungkan di lehernya. Ikat kepala warna biru dan hitam inilah yang menjadi identitas diri sebagai masyakarat Suku Badui Luar.
Samani atau yang akrab disapa Yayat, dulunya adalah bagian dari warga Suku Badui Dalam. Saat JawaPos.com berjumpa dengannya empat tahun silam, dia masih 'gagah' memakai pakaian adat khas warga Suku Badui Dalam yang identik dengan warna putih. Ke Jakarta pun, dia masih berjalan kaki tanpa menggunakan alas kaki.
Namun, sejak dirinya mempersunting Sani, 18, seorang gadis dari warga Suku Badui Luar sekitar 2 tahun silam, maka praktis, sesuai aturan adat, dia harus keluar dari wilayah Suku Badui Dalam dan tinggal di wilayah Suku Badui Luar.
Semenjak saat itu kehidupannya pun sedikit berubah. Dia bisa jalan-jalan dengan menggunakan kendaraan bermotor, naik kereta api, memakai pakaian bebas seperti masyarakat luar Badui pada umumnya, serta memiliki handphone. Kini, dia pun sudah pandai mengirim pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp kepada setiap pengunjung yang hendak di antarnya ke pemukiman Suku Badui Dalam.
"Aku di warung pojok ya belakang patung. Nanti kalau sudah sampai Terminal Ciboleger, kalau ada yang tanya bilang saja sudah janjian sama Yayat," demikian pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp yang dikirim Yayat kepada JawaPos.com, sebelum melakukan perjalanan ke wilayah perkampungan Suku Badui Dalam, Sabtu (28/4) kemarin.
Hampir sepanjang perjalanan yang memakan waktu sekitar delapan jam untuk memasuki wilayah Badui Dalam, Yayat juga kerap sibuk memainkan handphone-nya. Tak jarang dia pun menyempatkan diri membalas berbagai pesan singkat dari beberapa koleganya ketika mendapat sinyal.
Berbeda dengan Yayat, Narip alias Idong, 23, sahabatnya, hingga saat ini masih mempertahankan adat dan budayanya. Setiap hari, dia pun masih mengenakan pakaian adat khas Suku Badui Dalam. Pergi ke mana pun juga masih jalan kaki tanpa menggunakan alas kaki, meski memakan waktu berhari-hari.
"Saya baru pulang dari Jakarta dengan jalan kaki. Di sana sekitar sepuluh harian," kata Idong kepada JawaPos.com, di kediamannya di Kampung Cibeo, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Yayat dan Idong merupakan sahabat lama yang kini terpisah oleh aturan adat. "Kami berteman sejak kecil, dulu kita suka main bola pakai jeruk," kata Idong dengan semangat saat menceritakan kisah persahabatannya dengan Yayat.
Idong masih tinggal di kawasan Badui Dalam, karena memilih Asih, 23, perempuan Badui Dalam sebagai pendamping hidupnya.
"Saya menikah sudah sekitar empat tahun lalu. Dijodohkan orang tua,” kata Idong dengan malu-malu. Kini, dari buah pernikahannya dengan sang istri, Idong memiliki seorang anak laki-laki bernama Carma, 2.
"Kasihan sampai sekarang belum bisa jalan," ucapnya memelas sembari melihat wajah Carma.
Sementara, sejak dua tahun lalu mendekati Sani, 18, seorang perempuan Suku Badui Luar, usai menikah, Yayat terpaksa tinggal kawasan Badui Luar bersama istrinya. Ini karena aturan adat tak memperbolehkannya lagi tinggal di wilayah Badui Dalam karena mempersunting orang Badui Luar.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
