
PARADOKS: Seorang pemuda melepas penat sambil duduk-duduk di area publik kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, pada Kamis 914/3).
Kota identik dengan gemerlap lampu, hiburan, bising, dan ramai orang. Namun, penelitian Health Collaborative Center (HCC) menyebutkan bahwa 4 di antara 10 orang yang tinggal di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) justru kesepian.
INDRI tinggal di Kabupaten Bogor. Setiap hari dia harus menempuh perjalanan selama dua jam dengan Trans Jakarta untuk menuju tempat kerja. Pulangnya pun, dia harus kembali naik angkutan umum itu selama dua jam. Rutinitas kerja yang menyita waktu tersebut membuat perempuan yang usianya masuk awal 30-an itu terlalu payah memasukkan agenda ketemu teman atau sekadar nongkrong. Namun, seperti itulah gaya hidup modern kaum urban.
"Sebenernya kalau kenalan ya banyak. Ada kolega dan orang-orang yang kenal karena pekerjaan,” kata Indri kepada Jawa Pos kemarin (16/3). Namun, yang dia sebutkan itu bukanlah circle teman dekat. Maka, interaksi Indri dengan mereka seperlunya saja.
Jika memang sedang ada kesempatan bertemu dengan teman-teman dekat, Indri juga sering kali tak tega untuk memanfaatkan momen tersebut sebagai sesi curhat atau deep talk. Apalagi, menyepakati hari dan waktu ketemuan pun tidak semudah dulu saat beban kerja atau mengurus keluarga belum banyak. Maka, agenda hang out dua kali sebulan selalu dia optimalkan untuk mempererat pertemanan atau meningkatkan kualitas me time. No drama.
Lantas, bagaimana jika hati sedang gundah? Tak adakah teman yang bisa dijangkau untuk sekadar mencurahkan unek-unek? ’’Sering nulis di blog atau buku jurnal. Soalnya kalau cerita juga bingung,” ucapnya.
Kisah seperti Indri jamak ditemui di kota-kota besar. Khususnya, Jabodetabek yang terpapar gaya hidup modern. Akhir tahun lalu, HCC menyurvei masyarakat yang tinggal di Jabodetabek tentang loneliness atau kesepian. Total ada 1.229 responden yang berpartisipasi dalam survei daring tersebut. Mayoritas responden adalah kaum perempuan, para perantau, belum menikah, dan mereka yang usianya kurang dari 40 tahun.
’’Dari survei ini diketahui bahwa 44 persen warga Jabodetabek kesepian,” kata Ketua HCC dr Ray Wagiu Basrowi pada Selasa (12/3). Dia mengatakan bahwa tingkat kepercayaan survei tersebut 95 persen. ’’Penelitian ini sudah mendapatkan izin etik dari Komisi Etik Kesehatan yang merujuk pada tingkat kredibilitas dan validitas hasil,” imbuhnya.
Sebanyak 62 persen responden menyatakan bahwa kesepian mereka disebabkan ketidakcocokan pergaulan atau ketidaksesuaian dengan orang-orang di sekitarnya. Ray menambahkan, bahkan kelompok usia muda dan produktif juga merasa kesepian. ’’Perlu ada support system agar tidak merasa kesepian,” ujar dosen kedokteran kerja di Departemen Kedokteran Komunitas FKUI tersebut.
TANPA BATAS: Sembari berjalan di jembatan penyeberangan Jalan Sudirman, seorang gadis memainkan gawainya pada Kamis (14/3).
Yang menarik, dari survei itu terlihat bahwa status perkawinan juga punya kontribusi signifikan dalam membentuk kesepian. Sebanyak 60 persen responden yang berstatus single, belum menikah atau bercerai, cenderung mengalami kesepian derajat sedang hingga berat. ’’Kondisi itu dialami perempuan. Jadi, perempuan memang lebih rawan kesepian jika tidak dalam ikatan pernikahan,” ujar Ray.
Kendati ada begitu banyak faktor lain yang turut berkontribusi dalam menciptakan rasa kesepian, hasil survei HCC cukup representatif untuk membaca kebutuhan masyarakat modern. Khususnya, Jabodetabek. Bahwasannya, kesepian adalah kondisi mental yang tidak bisa diselesaikan dengan hanya menambah gemerlap lampu atau menghadirkan lebih banyak hiburan dan pusat keramaian.
September lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) merilis global recommendation terkait kesepian. ’’Menurut WHO, kesepian dapat meningkatkan risiko kematian sampai 45 persen. Ancaman kesepian sama besarnya dengan merokok 15 batang setiap hari,” ujarnya.
Ray berharap penelitian yang mengacu pada UCLA Loneliness Scale itu bisa menjadi bahan diskusi dan rekomendasi bagi masyarakat luas. Terutama bagi pemerintah dan para tenaga kesehatan. ’’Hasil studi ini diharapkan bisa menjadi pemantik diskusi pentingnya kesehatan jiwa di Indonesia,” tandasnya. (lyn/c7/hep)

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
