
PROSES PENGOBATAN: Ujang Bustomi melayani pasien di Padepokkan Anti Galau di Desa Sinarrancang, Kabupaten Cirebon (25/2).
Yang Datang lalu Omong Ngelantur Pasti karena Gagal
Pasien Ujang Bustomi kebanyakan timses yang cemas dikejar-kejar caleg atau dilaporkan polisi. Level pengobatan dinasihati dulu, kalau tak mempan dirukyah, dan jalan terakhir dimandikan.
M. HILMI SETIAWAN, Kab Cirebon
---
SARUNG tangan karet masih melekat di kedua tangan. Perlahan Ujang Bustomi menyeka keringat di wajah.
Jam baru sedikit lepas dari pukul 14.00 pada Minggu (25/2) lalu. Ujang baru selesai menangani pasien dengan beragam keluhan di sesi siang yang dimulai sekitar pukul 12.30.
Hanya dalam waktu satu setengah jam sudah 150 pasien yang dia tangani di pendopo di seberang tempat tinggalnya di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Terhitung sangat cepat dan tentu saja lumayan melelahkan yang tergambar dari keringat di wajahnya.
Dalam satu hari, Padepokan Anti Galau milik Ujang membuka dua kali sesi pelayanan. Masing-masing menyediakan kuota 150 orang.
Praktik siang dimulai pukul 12.30. Praktik malam dilaksanakan mulai pukul 20.30.
calBaca Juga: 17,1 Persen Masyarakat Depresi Setelah Pemilu 2024, Ada Caleg Gagal Terpilih dan Warga Biasa
Pelayanan setiap pasien cukup singkat. Sekali panggil 5–10 pasien terlayani. Pada Minggu siang yang ramai itu, Jawa Pos harus antre bersama para pasien lain karena Ujang baru bisa melayani tamu untuk keperluan lain selepas pukul 14.00.
Pria kelahiran 9 Februari 1982 itu menjelaskan, secara spesifik jarang ada pasien yang menulis atau menunjukkan identitasnya sebagai tim sukses (timses) atau calon anggota legislatif (caleg). Tapi, pada kasus tertentu, Ujang sudah kenal sosok yang berobat.
Ketika ada yang datang dan omongannya melantur, Ujang segera tahu bahwa pemicunya pasti terkait kegagalan dalam kontestasi pemilu.
Untuk Pemilu 2024, golongan timses mendominasi ketimbang calegnya. Dia memperkirakan tidak kurang dari 70 orang timses yang berkonsultasi karena kena mental. Sedangkan untuk caleg lebih sedikit, tetapi jumlahnya lebih dari 10 orang.
”Mereka itu (caleg dan timses) intinya tidak siap kalah. Jadi, mentalnya seperti itu, jadi error (galat),” katanya.

Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Artis Arie Nugroho dan Windy Wulandari Berduka Yogi Rahmat Meninggal Dunia
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
10 Besar Penjualan Mobil Juni 2026: BYD Comeback jadi Merek Tiongkok Terlaris Kalahkan Jaecoo
Polisi Temukan Uang Rp60 Miliar di Cafe de Clan Jaksel, Diangkut Pakai 3 Mobil
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Viral dr. Anggi Aprilyani Masuk Gereja, Tuai Tudingan Penistaan Agama
Gosip Perselingkuhan Lionel Messi Memanas, Sang Istri Tanggapi Rumor Skandal Suami dengan Jurnalis Argentina
